Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 8 September 2025 | 20.12 WIB

Mengenal Apa Itu Tindakan DSA untuk Mengenali Gejala Stroke

Ilustrasi penderita stroke. (jcomp/Freepik). - Image

Ilustrasi penderita stroke. (jcomp/Freepik).

JawaPos.com - Digital Subtraction Angiography (DSA) kini menjadi salah satu prosedur penting dalam dunia medis untuk mengenali gangguan pembuluh darah otak, termasuk stroke. Pemeriksaan ini membantu dokter melihat aliran darah secara detail, bahkan hingga ke pembuluh kecil yang sering luput dari hasil CT Scan atau MRI.

Banyak orang masih menganggap remeh gejala awal stroke seperti pusing mendadak, wajah terasa baal sebelah, sulit bicara, atau tangan yang tiba-tiba lemas. Padahal, tanda-tanda tersebut bisa menjadi alarm serius bahwa ada penyumbatan atau kelainan pada aliran darah otak.

Di sinilah DSA hadir sebagai “mata ketiga” dokter dalam memantau jalur darah di otak secara real-time.

DSA membantu kami melihat kondisi aliran darah di otak secara langsung. Kami bisa mendeteksi sumbatan, penyempitan, aneurisma, atau gangguan lain yang tidak terlihat pada pemeriksaan CT Scan maupun MRI,” jelas dr. Febian Sandra, Sp.Rad, Subsp.RI(K), Konsultan Radiologi Intervensi di Bethsaida Hospital Gading Serpong, Senin (8/10).

Apa Itu DSA dan Bagaimana Cara Kerjanya?

DSA adalah pemeriksaan pembuluh darah menggunakan sinar-X dan zat kontras. Prosesnya dimulai dengan penyuntikan zat kontras melalui kateter ke dalam pembuluh darah, lalu kamera khusus merekam aliran darah secara langsung.

Hasil rekaman kemudian diolah oleh komputer untuk menghapus latar belakang seperti tulang atau jaringan, sehingga hanya tampak jalur aliran darah.

Prosedur ini dilakukan di laboratorium kateterisasi dengan metode minimal invasif. Meski menggunakan peralatan canggih, tindakan ini tetap aman karena ditangani oleh tim medis berpengalaman.

“Teknologi DSA memberi gambaran tajam tentang pembuluh darah. Informasi ini sangat penting untuk dasar pengambilan keputusan medis,” tambah dr. Febian.

Perbedaan DSA dengan CT Scan dan MRI

CT Scan: Cepat dan efektif melihat struktur otak dan tulang, tetapi kurang akurat untuk menilai pembuluh darah kecil.

MRI/MRA: Unggul dalam memperlihatkan jaringan lunak dan persarafan, namun ada keterbatasan untuk area pembuluh tertentu.

DSA: Menjadi “golden standard” untuk menilai kondisi pembuluh darah dan alirannya secara langsung dengan presisi tinggi.

Siapa yang Membutuhkan DSA?

Pemeriksaan ini biasanya disarankan untuk pasien dengan gejala stroke, riwayat stroke berulang, hasil CT/MRI yang mencurigakan adanya kelainan pembuluh darah, atau keluhan seperti pusing berkepanjangan dan pandangan kabur mendadak.

Bethsaida Hospital Gading Serpong sendiri telah menghadirkan layanan DSA dengan fasilitas lengkap, mulai dari ruang angiografi modern, teknologi imaging terkini, hingga tim spesialis radiologi intervensi yang berpengalaman.

“Deteksi dini adalah kunci mencegah komplikasi. Karena itu, layanan DSA kami hadir terintegrasi dengan tim neurologi, bedah saraf, dan radiologi intervensi,” jelas dr. Pitono, Direktur Bethsaida Hospital.

Ia menambahkan, banyak pasien datang dengan gejala samar.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore