
Ilustrasi: Penyakit Gerd. (Gastro Health)
JawaPos.com - Penyakit asam lambung atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) kerap dianggap sepele, padahal jika tidak ditangani dengan baik dapat memicu komplikasi serius, termasuk kanker kerongkongan.
Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia–RS Cipto Mangunkusumo, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, mengingatkan bahwa paparan asam lambung dengan pH sangat rendah yang terus-menerus pada dinding kerongkongan dapat menyebabkan luka kronis, penyempitan, perubahan sel menjadi prakanker, hingga berkembang menjadi kanker.
Prof. Ari menjelaskan, GERD bukan hanya merusak kerongkongan, tapi juga dapat mengiritasi saluran pernapasan dan rongga mulut. Dampaknya bisa berupa batuk kronis, suara serak, asma, sinusitis, infeksi telinga, hingga kerusakan gigi.
Pada tahap berat, pasien bisa mengalami gangguan tidur, penurunan kemampuan bekerja, bahkan depresi akibat pembatasan pola makan dan aktivitas.
“Paparan berulang akan menyebabkan peradangan, luka kronis, penyempitan saluran, hingga perubahan pada sel mukosa yang berpotensi menjadi prakanker. Dalam jangka panjang, ini bisa berkembang menjadi kanker,” ujarnya, Jumat (15/8).
“GERD memang tidak langsung mematikan, tetapi jika dibiarkan bisa berujung pada kanker dan sangat menurunkan kualitas hidup,” sambung Prof. Ari.
Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa penanganan GERD harus komprehensif dengan menggabungkan obat, perubahan gaya hidup, dan edukasi pasien. Makanan dan minuman seperti daging merah, cokelat, keju, makanan berlemak, minuman bersoda, kopi, dan jeruk-jerukan harus dibatasi karena dapat memicu atau memperparah refluks.
Kebiasaan makan berlebihan, termasuk konsep all you can eat, juga menjadi faktor risiko.
“Pasien harus mengontrol berat badan, berhenti merokok, dan membatasi alkohol. Jangan tunggu parah baru berobat,” tegas Prof. Ari.
Adapun di sisi pengobatannya, Prof. Ari memimpin Investigator-Initiated Trial (IIT) terhadap obat generasi baru bernama Fexuprazan di Indonesia. Obat ini berasal dari kelas Potassium-Competitive Acid Blocker (P-CAB) yang bekerja menghambat produksi asam lambung dengan mekanisme berbeda dari terapi standar proton pump inhibitor (PPI).
Menurutnya, hasil uji klinis menunjukkan Fexuprazan memiliki kinerja terapeutik setara dengan PPI, namun dengan beberapa keunggulan.
“Fexuprazan memberikan pereda gejala lebih cepat, kontrol mual yang lebih baik, dan peningkatan kualitas hidup sejak minggu pertama. Data klinis juga menegaskan profil keamanannya baik, tanpa efek samping serius, serta tingkat kepatuhan pasien yang tinggi karena cukup diminum sekali sehari dan tidak bergantung pada waktu makan,” jelas Prof. Ari

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
