Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 29 Juli 2025 | 20.09 WIB

Mengenal Penyakit Psikosomatik: Saat Badan Seolah Sakit karena Masalah Mental

Ilustrasi orang yang menderita penyakit akibat kondisi psikosomatik. (Freepik) - Image

Ilustrasi orang yang menderita penyakit akibat kondisi psikosomatik. (Freepik)

JawaPos.com - Sering merasa mual, jantung berdebar, sulit tidur, atau badan lemas tapi hasil pemeriksaan medis menunjukkan tidak ada masalah? Bisa jadi itu adalah penyakit psikosomatik.

Ini adalah kondisi medis yang gejalanya muncul karena pengaruh mental dan emosi, bukan semata-mata karena gangguan fisik. Meski tubuh terasa benar-benar sakit, penyebab utamanya justru berasal dari dalam pikiran.

Menurut Dr. E. Mudjaddid, Sp.PD-KPsi, FINASIM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam sekaligus Konsultan Psikosomatik dan Paliatif Medik di Bethsaida Hospital Gading Serpong, psikosomatik adalah manifestasi dari emosi negatif yang dialami seseorang, seperti cemas, takut, atau trauma, yang muncul dalam bentuk gejala fisik.

“Bukan berarti pasien berpura-pura sakit. Tapi tubuh bereaksi nyata terhadap tekanan psikologis,” ujarnya, Selasa (29/7).

Gejala Psikosomatik yang Sering Mengecoh

Penyakit psikosomatik memiliki gejala yang bisa muncul di berbagai organ tubuh. Misalnya, seseorang bisa merasa nyeri di lambung, lalu berpindah menjadi pusing, susah tidur, badan lemas, atau jantung berdebar-debar. Gejala ini bisa muncul bersamaan dan sulit dipastikan secara medis karena hasil tes kerap menunjukkan kondisi normal.

Namun, ada beberapa ciri khas dari gangguan ini, seperti tidak ditemukan kelainan organik meskipun pemeriksaan medis lengkap telah dilakukan. Gejala juga kerap muncul saat seseorang berada dalam tekanan atau mengalami stres berkepanjangan, entah karena masalah pekerjaan, keluarga, hingga hubungan sosial. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini bisa berkembang menjadi kerusakan organ yang nyata.

Adapun yang membedakan psikosomatik dari gangguan kejiwaan berat adalah kesadaran pasien tetap utuh. Mereka bukan mengalami gangguan kepribadian atau psikotik, melainkan tubuh yang bereaksi terhadap emosi yang ditekan atau belum terselesaikan, seperti rasa rendah diri, penolakan, dan kegelisahan.

Penanganan Komprehensif, Bukan Cuma Minum Obat

Terkait penanganan psikosomatik, dr. Mudjaddid mengatakan bahwa butuh penanganan komprehensif terhadap pasien. Di Bethsaida Hospital Gading Serpong semdiri menerapkan pendekatan menyeluruh dalam menangani pasien psikosomatik. Terapi dilakukan melalui empat dimensi: bio-organik, psiko-edukasi, sosio-kultural, dan spiritual. Mulai dari pemeriksaan fisik dan pemberian obat yang sesuai, hingga membangun komunikasi yang suportif antara dokter dan pasien agar pasien merasa dimengerti.

Di sisi sosial, pasien juga dibantu untuk menyelesaikan persoalan pribadi seperti konflik rumah tangga atau tekanan ekonomi. Bahkan, aspek spiritual pun turut disentuh agar pasien mampu melihat masalahnya dari perspektif yang lebih dalam, hingga menemukan ketenangan batin.

“Pasien dengan gangguan psikosomatik butuh penanganan yang berbeda dan menyeluruh. Karena itu, kami menghadirkan layanan khusus dengan dukungan tim dokter spesialis dan konsultan psikosomatik yang berpengalaman,” terang dr. Pitono, Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong.

Dengan pendekatan holistik dan tim medis yang kompeten, Bethsaida Hospital berkomitmen membantu pasien psikosomatik untuk pulih tidak hanya dari sisi fisik, tapi juga mental dan emosionalnya.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore