
Ilustrasi seseorang yang mengalami alzheimer, yang merupakan bagian dari demensia. (Amis-childrenhome)
JawaPos.com - Kalau kamu pernah dengar istilah "neurodegenerasi," sebenarnya itu adalah gabungan dari dua kata: “neuro” yang berarti saraf, dan “degenerasi” yang artinya kerusakan. Jadi, secara sederhana, neurodegenerasi itu adalah proses kerusakan bertahap pada sel-sel saraf di otak alias degenerasi saraf.
Yang bikin ngeri, kerusakan ini bukan sekadar bikin pusing, tapi bisa bikin kemampuan berpikir dan ingatan kita makin lama makin menurun.
Kondisi ini seringkali jadi biang kerok di balik penyakit-penyakit otak serius, seperti Alzheimer, Parkinson, dan Huntington. Meski ada ratusan jenis gangguan saraf yang masuk kategori ini, perhatian publik dan ilmuwan masih dominan tertuju pada tiga besar tadi.
Penyakit lain yang kurang dikenal sayangnya sering luput dari sorotan, padahal dampaknya juga nggak kalah serius. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diketahui terkait dengan gangguan degenerasi saraf, dikutip dari News Medical, Rabu (16/4).
Apa yang Terjadi di Otak saat Degenerasi Saraf Terjadi?
Meski Alzheimer, Parkinson, dan Huntington punya gejala yang berbeda-beda, di balik layar, mereka punya satu kesamaan: semuanya bikin otak rusak secara perlahan. Proses di tingkat selnya mirip—sel-sel saraf mati secara perlahan, dan itu bikin otak kesulitan menjalankan fungsinya.
Contohnya nih, penyakit Parkinson menyerang bagian otak bernama ganglia basal dan mengacaukan produksi dopamin, zat kimia penting buat mengontrol gerakan. Akibatnya, penderitanya sering mengalami gemetar, otot kaku, dan gerakan jadi lambat.
Alzheimer beda lagi. Di otak penderita Alzheimer, muncul gumpalan protein yang mengganggu kerja otak, terutama di bagian yang ngatur ingatan.
Kalau Huntington, itu adalah penyakit turunan yang menyerang saraf dan bikin kemampuan motorik makin memburuk hingga akhirnya bisa berujung kematian.
Apa Penyebab Utama Degenerasi Saraf?
Meski beberapa kasus memang disebabkan oleh faktor genetik, jumlahnya kecil banget—kurang dari 5 persen. Sisanya kemungkinan besar terjadi karena penumpukan zat beracun di otak atau gangguan pada mitokondria, si pembangkit energi sel yang rusak dan malah menghasilkan zat beracun buat otak.
Kondisi ini kemudian memicu proses "bunuh diri" sel secara alami alias apoptosis. Meskipun kedengarannya tragis, ini sebenarnya cara tubuh buat melindungi sel saraf lain agar nggak ikut rusak.
Sayangnya, kalau ini terjadi terus-menerus, jumlah sel saraf yang hilang makin banyak dan fungsi otak pun terus menurun.
Bisa Disembuhkan Nggak, Sih?
Sampai sekarang, dunia medis belum punya obat yang benar-benar bisa menyembuhkan neurodegenerasi alias degenerasi saraf.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
