
Ilustrasi seseorang yang sedang bersedih. (Freepik)
JawaPos.com – Sebagian orang mungkin pernah mengalami hari-hari berat dan memerlukan seorang teman untuk berbagi cerita tentang kecemasan dan kekhawatiran yang dirasakan untuk sekadar mendapatkan dukungan ataupun perspektif lain.
Tak bisa dipungkiri, berbicara tentang perasaan saat masa-masa sulit kepada orang lain yang bisa dipercaya terkadang sangat membantu untuk meluapkan emosi dan memproses perasaan sulit tersebut.
Namun, ada kalanya jika terlalu berlebihan atau oversharing dalam membagikan cerita kepada orang lain. Sehingga, bisa jadi orang lain merasa tidak nyaman dan mendapatkan efek negatif dari cerita-cerita masa sulit yang dibagikan secara terus-menerus.
Istilah tersebut dikenal juga dengan trauma dumping. Cleveland Clinic melansir, trauma dumping berarti berbagi pengalaman yang sangat pribadi, bahkan traumatis secara berlebihan kepada orang lain.
Ini sering kali terjadi ketika pendengar tidak siap untuk menangani intensitas informasi yang dibagikan. Sehingga, hal itu bisa menimbulkan perasaan lelah, tidak siap, bahkan stres kepada si pendengar.
Trauma dumping dapat terjadi dalam percakapan tatap muka, melalui telepon, atau bahkan online melalui media sosial. Makanya, beberapa orang yang memposting sesuatu traumatis di media sosial biasanya mencantumkan peringatan atau trigger warning untuk menghindari trauma dumping.
Lantas, adakah cara untuk menghindari trauma dumping? Dilansir dari Calm.com, ada beberapa langkah efektif yang mungkin bisa Anda lakukan untuk mencegahnya. Simak selengkapnya berikut ini.
1. Tetapkan batasan
Sebelum membagikan pengalaman Anda yang mungkin bersifat traumatis kepada orang lain, ada baiknya jika Anda memilah untuk menetapkan batasan dalam membicarakan topik berat dalam satu percakapan. ini dapat mencegah trauma dumping dan Anda bisa menghormati kebutuhan serta kapasitas pendengar.
2. Identifikasi orang yang dipercaya
Jika Anda merasa kewalahan dan ingin mencegah diri sendiri untuk tidak oversharing, berhentilah sejenak untuk merefleksikan diri Anda. Tanyakan pada diri sendiri apakah ini waktu, tempat, dan orang yang tepat untuk Anda ajak bicara.
Pertimbangkan apakah orang yang akan Anda ajak bicara merupakan orang yang tepat untuk menampung keluh kesah Anda. Bila Anda tidak yakin, tundalah percakapan hingga Anda dan orang yang mendengarkan merasa siap.
3. Tanyakan persetujuan pada orang yang Anda ajak bicara
Sebelum Anda membagikan sesuatu yang intens, tanyakan persetujuan orang yang Anda ajak bicara. Jika orang yang menjadi pendengar merasa tidak siap, ini bukan berarti mereka tidak ingin membantu ataupun tidak peduli dengan Anda. Memberi orang lain kesempatan untuk menolak atau mengiyakan pembicaraan akan mencegah terjadinya trauma dumping.
4. Luapkan perasaan Anda melalui jurnal

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
