Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 2 Agustus 2024 | 00.25 WIB

RSHS Bandung Pastikan Tak Ada Lonjakan Pasien Anak Cuci Darah

Ilutrasi: Kamar rumah sakit(Rubby Jovan/Antara) - Image

Ilutrasi: Kamar rumah sakit(Rubby Jovan/Antara)

JawaPos.com–Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung memastikan tidak ada lonjakan jumlah pasien anak yang memerlukan pengobatan cuci darah atau hemodialisis di rumah sakit tersebut.

Staf Divisi Nefrologi RSHS Bandung dr Ahmedz Widiasta mengatakan, saat ini terdapat sekitar 20 anak menjalani cuci darah secara rutin setiap bulan di Poliklinik Hemodialisis RSHS Bandung.

”Kalau jumlah kasus tidak ada peningkatan atau pun penurunan yang untuk kasus anak dengan penyakit ginjal kronik, yang mendapatkan cuci darah rutin itu sekitar 10 sampai 20 anak per bulan,” kata Ahmedz seperti dilansir dari Antara.

Dia menyatakan, hingga saat ini jumlah pasien anak yang menjalani hemodialisis di RSHS stabil dan tidak menunjukkan peningkatan signifikan. Bahkan beberapa pasien anak telah mendapatkan rujukan untuk mendapatkan pengobatan ke rumah sakit di daerah masing-masing.

”Beberapa dari pasien-pasien tersebut telah kami rujuk ke rumah sakit daerah terdekat untuk menjalani cuci darah di rumah sakit terdekat,” kata Ahmedz Widiasta.

Lebih lanjut, dia juga menjelaskan untuk penyakit gagal ginjal akut pada anak pun tidak ada peningkatan kasus. Setiap bulan pasien baru yang menjalani prosedur cuci darah di RSHS ada sekitar 10 sampai 15 pasien anak.

”Tapi kalau untuk kasus yang cuci darahnya rutin di poliklinik hemodialisis itu paling sekitar sehari lima,” ujar Ahmedz Widiasta.

Sementara itu, Konsultan Nefrologi Anak RSHS Bandung Prof Dany Hilmanto mengungkapkan, pasien anak yang sedang menjalani cuci darah atau hemodialisis di rumah sakit tersebut bukan disebabkan karena minuman manis. Pasien anak yang saat ini menjalani cuci darah telah memiliki riwayat penyakit gagal ginjal yang sudah lama ataupun memiliki kelainan bawaan.

”Karena memang cuci darah pada anak kebanyakan ada dua sebab yaitu kelainan struktur dan adanya penyakit glomerulus pada ginjal,” terang Dany.

Dia menegaskan, umumnya pada penyakit gagal ginjal karena faktor sering mengonsumsi makanan yang tidak sehat tidak langsung menimbulkan gejala pada penyakit tersebut.

”Bahwa dari tahun ke tahun penyakit-penyakit yang akibatkan oleh makanan tidak sehat itu melalui tahap yang panjang, dia harus melalui ke hipertensi dulu, diabetes mellitus dulu, obesitas yang di mana semua itu merupakan risiko pada gagal ginjal,” papar Dany Hilmanto.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore