Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 1 Agustus 2024 | 18.40 WIB

Mengenal Kanker Pankreas dan Gejalanya, Jadi Salah Satu Penyakit Paling Mematikan yang Perlu Diwaspadai

Sering mengalami kembung dan sakit perut, bisa jadi salah satu gejala kanker pankreas. (Istimewa) - Image

Sering mengalami kembung dan sakit perut, bisa jadi salah satu gejala kanker pankreas. (Istimewa)

 
JawaPos.com - Kanker pankreas merupakan salah satu jenis kanker yang paling mematikan, sering kali didiagnosis pada tahap lanjut, dan sulit diobati. Kanker pankreas ini perlu diwaspadai, sebab karena faktor gaya hidup, risiko terkena kanker pankreas bagi masyarakat modern saat ini jadi lebih tinggi.
 
DR. dr. Wifanto Saditya Jeo, Sp.B-KBD, dokter spesialis bedah digestif dari RS MRCCC Siloam Semanggi, menjelaskan, pankreas adalah organ penting dalam sistem pencernaan manusia yang terletak di belakang rongga perut. 
 
Salah satu fungsi utama pankreas adalah memproduksi hormon dan enzim yang diperlukan untuk mencerna makanan. Namun, ketika sel-sel di pankreas mulai tumbuh secara tidak terkendali, kondisi ini dapat menyebabkan pembentukan tumor yang ganas, yang dikenal sebagai kanker pankreas.
 
"Kanker pankreas ini gejalanya tidak spesifik dan sulit dideteksi atau tidak terlihat pada tahap awal. Gejala yang mungkin muncul termasuk nyeri perut, penurunan berat badan, gangguan pencernaan, dan kulit menjadi kuning. Pada banyak kasus sering ditemukan pasien sudah memasuki tahap lanjutan," sebut dr. Wifanto di Jakarta baru-baru ini.
 
Selain itu, kanker pankreas adalah salah satu penyakit yang cukup serius dan mematikan, bahkan kerap disebut sebagai silent killer. Sebutan silent killer untuk kanker pankreas bukanlah tanpa sebab. Karena, gejala kanker pankreas di tahap awal sering kali tidak dirasakan oleh penderitanya.
 
Umumnya, gejala kanker pankreas ini baru muncul ketika sel kanker sudah menyebar ke organ tubuh lain. Secara umum, penyebab kanker pankreas adalah adanya mutasi gen yang terjadi pada sel-sel di dalam organ pankreas. Namun, yang membuat sel-sel tersebut bermutasi belum diketahui secara pasti.
 
Setelah sudah berkembang dan semakin mengganas, kanker pankreas biasanya baru menimbulkan gejala. Adapun beberapa gejala kanker pankreas yakni turunnya berat badan secara drastis dan tanpa sebab yang jelas, perut sering terasa kembung, mual dan muntah, hilangnya nafsu makan, sering mengalami gangguan diare, sarna urine gelap, sarna feses pucat, demam, menguningnya kulit serta bagian putih pada mata (sklera) dan mudah merasa lelah.
 
Di samping itu, ada beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya kanker pankreas pada seseorang. Adapun beberapa faktor pemicu kanker pankreas yakni obesitas, berumur 55 tahun ke atas, nergolongan darah A, B, atau AB, memiliki riwayat keluarga kandung yang menderita penyakit kanker, menderita penyakit diabetes, radang pankreas (pankreatitis kronik), periodontitis, batu empedy, hepatitis B dan C, sirosis hati, serta infeksi bakteri Helicobacter pylori dan gaya hidup tidak sehat.
 
Meski tergolong sebagai penyakit mematikan, namun ada sebuah prosedur bedah yang kompleks dan dapat menjadi ikhtiar puntuk menangani kanker pankreas atau kanker saluran empedu yaitu whipple surgery. Prosedur Whipple adalah prosedur bedah yang bertujuan untuk mengangkat tumor yang berlokasi di kepala pankreas. Prosedur ini juga dapat dilakukan untuk mengatasi kondisi lain yang melibatkan kepala pankreas, seperti kista pankreas, tumor neuroendokrin, atau tumor di daerah saluran empedu.
 
Whipple surgery biasanya menjadi pilihan ketika tumor belum menyebar ke organ lain di sekitar pankreas. Dalam prosedur ini, dokter spesialis bedah akan mengangkat bagian dari pankreas, bagian pertama usus kecil (duodenum), sebagian saluran empedu, dan kantong empedu. Pada beberapa kasus, sebagian dari lambung atau tubuh pankreas juga dapat diangkat.
 
Meskipun Whipple surgery merupakan prosedur yang penting, namun tidak terlepas dari risiko dan komplikasi. Risiko yang mungkin timbul setelah operasi termasuk perdarahan, infeksi, gangguan pencernaan, diabetes, kebocoran pada sambungan usus atau saluran empedu, serta penurunan berat badan yang signifikan. Hal ini menjadikan pasien kanker pankreas yang telah menjalani operasi tetap akan dipantau secara khusus dan berkala untuk memastikan tidak adanya risiko dan komplikasi yang diakibatkan pasca-operasi dilakukan.
 
"Dengan adanya risiko-risiko dan komplikasi pasca-operasi, penting bagi pasien untuk betul-betul memilih rumah sakit terbaik dalam penanganannya, baik secara tim medis ataupun sarana pendukung," tandas dr. Wifanto.
Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore