Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 14 Juli 2024 | 21.54 WIB

Alami Mom-shaming, Si Ibu Mesti Pandai-Pandai Ambil Sisi Baiknya

ILUSTRASI: Moms-haming (Foto: Salman Toyibi/Jawa Pos)

Mom-shaming bisa membuat ibu stres. Namun, semua itu bisa dicegah bersama dengan keluarga. Pun bila terjadi mom-shaming, kondisi itu bisa direspons dengan baik untuk menghindari terjadinya gangguan mental.

Dosen Psikologi Universitas Islam Indonesia (UII) Emi Zulaifah menuturkan, kalau ada anggota keluarga seperti orang tua, mertua, atau suami yang berkomentar terkait cara pengasuhan, perlu dilihat. Apakah menggunakan cara yang baik atau tidak?

Kalau memang dengan cara yang baik, tapi membuat seorang ibu terbawa perasaan, bisa jadi ada harga diri negatif yang dimiliki. ’’Komentar sedikit malah terbawa perasaan,” urainya kepada Jawa Pos, Jumat (12/7).

Yang pasti, menyampaikan kritik dan saran bila sudah berniat mom-shaming itu tentu tidak baik. Yang dibutuhkan seorang ibu, terutama ibu baru, adalah dukungan keluarga. Bukan feedback yang menyakitkan.

’’Niat baik, tapi bisa jadi caranya keliru. Yang paling diperlukan ibu baru itu pasangan dan keluarga besar yang suportif,” terang founder Lembaga Advokasi Keluarga Indonesia tersebut.

Dalam pengasuhan, sebaiknya orang sekitar berperan sebagai penolong. Misalnya, saat suami dan istri tidak bisa menjemput anak sekolah. Bisa jadi keluarga lain atau teman dimintai bantuan untuk membawa anak ke rumah dulu. ”Nanti dijemput di rumah mereka setelah selesai. Saling menolong diperlukan dalam pengasuhan. Saya juga melakukan itu,” tuturnya.

Menurut dia, tidak sepenuhnya pengasuhan itu subjektivitas dari orang tua. Ada objektivitas dalam pengasuhan seperti mengedepankan kasih sayang dan kedermawanan. Dalam beberapa kasus yang ditemui misalnya, ada pasangan muda yang ibunya meyakini bahwa harus ASI eksklusif selama enam bulan. ”Memang ini benar, tapi dalam kondisi tertentu bisa jadi perlu tambahan,” paparnya.

Dalam kasus lainnya, ada informasi yang didapat dari media sosial, tetapi justru diyakini seorang ibu. Misalnya, pengganti bubur bayi itu dari labu. Dia menyatakan, perlu dipahami bahwa tidak sepenuhnya apa yang ada di media sosial itu benar. ”Memang yang alami itu bagus. Tapi, dalam kondisi tertentu, bubur bayi yang instan itu bisa menjadi penolong,” urainya.

Dia menyatakan, ibu yang mengalami mom-shaming tidak perlu takut. Namun, pandai-pandailah mengambil sisi baiknya. ’’Dalam budaya yang kolektif seperti di Indonesia, itu bentuk kepedulian. Minta doakan saja ke orang tua atau keluarga agar anak selamat dalam tiap tumbuh kembangnya,” ujarnya.

Bagaimana mendeteksi seorang ibu perlu konsultasi ke psikolog bila mendapatkan mom-shaming? Dia menjawab bahwa sebenarnya kalau pribadi ibunya kuat, misalnya bisa membantah sesuai ilmu pengetahuan, tidak masalah. Namun, bila sang ibu introver dan pendiam, tentu itu bisa jadi menimbulkan pikiran macam-macam. 

Kondisi selanjutnya, bila merasa sudah menarik diri dari pengasuhan dan sebagainya, seorang ibu perlu untuk ke psikolog. ”Tapi, itu bila tidak ada keluarga yang bisa menjadi support. Kalau suami atau ada keluarga yang bisa diajak curhat dan mencari solusi, tentu belum perlu ke psikolog,” sarannya. (idr/c12/hep)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore