
Ilustrasi HIV.
JawaPos.com–Ikatan Dokter Indonesia (IDI) membeberkan fakta bahwa kasus HIV pada anak 1 – 14 tahun masih bertambah 700 hingga 1.000 kasus per tahun. IDI menyarankan pemerintah memasifkan skrining pada ibu hamil. Khususnya skrining HIV.
Antenatal Care (ANC) Terpadu adalah salah satu pelayanan pemeriksaan yang ditujukan kepada ibu hamil. Tujuannya memastikan jika ibu serta janinnya dalam kondisi sehat selama masa kehamilan. Skrining ANC tersebut terdiri atas beberapa pemeriksaan. Antara lain HIV, hepatitis, dan sifilis yang dikenal dengan istilah Triple Eliminasi.
”Kalau pasien ibu hamil ini datang ke FKTP puskesmas saat dia ANC (antenatal care) dilakukan saat trimester 1. Atau dia lewat di trimester 1 maka dia datang di trimester 2 atau 3 tetap diambil darahnya untuk dilakukan skrining,” tutur dokter spesialis konsultan obstetric and ginekologi social Muhammad Yusuf SpOG (K) dari RS Premier Surabaya.
Skrining tersebut, lanjut Muhammad Yusuf, bertujuan untuk mencegah penularan HIV atau penyakit menular lain termasuk hepatitis hingga sifilis kepada anak yang baru dilahirkan. Prioritasnya adalah melahirkan generasi yang dapat memiliki kualitas hidup yang baik di masa yang akan datang.
”Jika anak ini dilahirkan sejak awal sudah terpapar HIV katakan seperti itu. Maka, bagaimana kehidupan ke depan? Apakah akan bisa tumbuh dewasa, menikah, apakah bisa mendapatkan fase remaja berkualitas seperti kita?” ungkap Muhammad Yusuf.
Yusuf mengatakan, ketika dalam tes ANC dan pasien berstatus HIV positif, dokter akan melanjutkan serangkaian pemeriksaan lebih lengkap. Tidak sekadar rapid test. Ada beberapa rangkaian tes kembali seperti berapa kekebalan tubuh pasien terhadap virus yakni CD4 dan viral load yang kadang juga perlu diperiksa.
”CD4 lebih dari 200 dan viral load kurang dari 1.000 copies adalah salah satu parameter untuk menentukan jenis persalinan untuk perempuan hamil dengan HIV positif, apakah boleh persalinan normal atau harus operasi caesar. Pemakaian anti virus (ARV) yang direkomendasikan untuk perempuan hamil saat dinyatakan positif HIV harus sesegera mungkin dan ARV yang telah diminum lebih dari 6 bulan akan menurunkan sangat signifikan penularan virus HIV ke bayi baru lahir.
Untuk pemberian antivirus, dokter akan menyesuaikan dengan kondisi pasien. Karena pasien sedang hamil, maka anti virusnya akan diberikan yang aman untuk ibu hamil (ibu dan janin).
”Bayi yang baru lahir akan menjalani konfirmasi diagnosis HIV mulai usia 6 - 8 minggu. Selama menunggu usia hingga 6 - 8 minggu tersebut, bayi akan terus dimonitor dan mendapatkan perawatan dengan diberikan obat-obat khusus. Sebaiknya ibu dengan HIV positif disarankan untuk tidak menyusui bayinya. Sebab, kita tidak tahu apakah ada microlesi atau luka kecil di dalam mulut bayi,” jelas Muhammad Yusuf.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
