Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 26 Maret 2024 | 16.05 WIB

Mengenal Metode S-ICD, Mencegah Henti Jantung karena Aritmia dengan Minim Komplikasi

Ilustrasi jantung

 

JawaPos.com – Kasus kematian mendadak dikarenakan henti jantung pada atlet maupun public figure memang sempat mengejutkan masyarakat. Sosok yang terlihat sehat dan bugar ternyata bisa mengalami henti jantung saat melakukan aktivitas. Lalu, apa sebabnya?

Konsultan aritmia di Heartology Cardiovascular Hospital, dr. Sunu Budhi Raharjo, SpJP(K), PhD, memaparkan, henti jantung paling sering disebabkan karena adanya gangguan irama jantung atau yang dikenal dengan Aritmia, yang berupa fibrilasi ventrikel atau takikardia ventrikel yang cepat.

Salah satu gangguan aritmia yang sering terjadi pada pasien tanpa keluhan adalah karena adanya Sindroma Brugada. Sindrom ini menjadi penyumbang terbesar kematian jantung mendadak pada individu yang sehat terutama di daerah Asia Tenggara dengan presentase 20 persen. Penderita akan mengalami impuls listrik pada sel di bilik kanan atas jantung hingga menyebabkan jantung mudah berdetak dengan cepat.

Diungkapkan dr. Sunu, gejala yang timbul dari sindrom Brugada tidak jauh berbeda dengan gangguan irama jantung lainnya. Seperti rasa berdebar, pingsan, kejang sampai meninggal mendadak.

“Sampai saat ini penyebab sindrom Brugada belum jelas. Akan tetapi, faktor genetik dipercaya memberi kontribusi yang penting,” ujar dr. Sunu.

Seperti pada kasus aritmia dengan sindrom Brugada yang baru-baru ini ia tangani dengan metode Subcutaneous Implantable Cardioverter Defibrillator (S-ICD), pertama kali di Indonesia. Diungkapkan dr. Sunu, ada pasien yang dirujuk dari Papua karena ditemukan gambaran gangguan aritmia, yang disebut Sindrom Brugada.

Padahal, pasien relatif tanpa keluhan. Namun dari hasil interview, didadapatkan bahwa kakak kandung pasien meninggal mendadak pada usia 50an.

Lalu, pada pemeriksaan lanjutan, ditemukan bahwa pada pasien ini sangat mudah tercetus fibrilasi ventrikel, sebuah irama jantung supercepat yang mengancam nyawa.

“Penderita Sindrom Brugada memiliki cacat pada saluran ini dan menyebabkan jantung mudah berdetak dengan sangat cepat (fibrilasi ventrikel). Akibatnya, irama jantung terganggu dan bisa berakibat fatal,” papar dr. Sunu.

Umumnya, untuk penangan, perlu dilakukan pemasangan alat kardiak defibrilator implan (ICD) agar mampu menormalkan denyut jantung sehingga terhindar dari risiko fatal. Namun, kini pemasangan ICD kini tak perlu langsung di jantung, tetapi cukup di bawah kulit melalui metode S-ICD.

“Hal ini mampu memberi komplikasi lebih kecil. Yang tidak kalah penting, aktivitas pasien lebih tidak terganggu,” tambah dr. Sunu. 

Pentingnya Pemeriksaan

Kematian yang disebabkan penyakit jantung dapat berupa serangan jantung maupun henti jantung.  Serangan jantung terjadi ketika pembuluh darah koroner tersumbat sehingga jantung tidak mendapat oksigen dan nutrisi, dan berakibat fatal.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore