Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 2 April 2023 | 00.01 WIB

Manfaat Kolang-kaling, Digunakan untuk Penyembuh Nyeri sejak Dinasti Ming

MENYEHATKAN: Tiffany Sweet menyantap kolang-kaling yang telah dijadikan minuman menyegarkan.

Kolang-kaling lazim digunakan untuk sajian berbuka puasa. Kolak, setup, manisan, puding, sampai es buah menggunakan kolang-kaling. Kolang-kaling sebenarnya adalah ’’endosperm’’. Yakni, bagian biji dari buah pohon aren yang kaya kandungan nutrisi untuk pertumbuhan. Di antaranya, protein, lemak, dan karbohidrat. Ada pula mineral kalsium, zat besi, fosfor, serta vitamin A dan B.


BENTUK umum butiran kolang-kaling adalah elips, warna putih transparan, tekstur kenyal, dan rasanya menyegarkan. Berasal dari pohon aren yang bernama ilmiah Arenga pinnata dari keluarga Palmae. Pohonnya berbatang tunggal tanpa cabang dengan bentuk daun yang mirip pohon kelapa. Dikenal sebagai pohon yang tahan kekeringan, tahan penyakit, dan tidak perlu perawatan khusus. Tumbuh liar di kawasan India, Sri Lanka, Bangladesh, Myanmar, Thailand, Tiongkok Selatan, hingga Semenanjung Malaya dan Indonesia.

Yang menarik adalah informasi penggunaan pohon aren dalam sistem pengobatan Tiongkok. Materia Medika Cina mengindikasikan khasiat buah aren yang dikeringkan sebagai penghilang nyeri dan blood stasis. Selain sebagai makanan, kaum lanjut usia di Indonesia mengonsumsi kolang-kaling untuk membantu meredakan nyeri sendi lutut.

Melalui catatan sejarah, pohon aren diketahui sudah tertera dalam monografi obat. Yakni, Compendium of Materia Medica yang diterbitkan semasa Dinasti Ming tahun 1578 AD. Disebutkan bahwa buah kering aren digunakan dalam pengobatan rakyat sebagai penyembuh nyeri.

Untuk membuktikan khasiat itu, gabungan peneliti akademi pengobatan tradisional Tiongkok melakukan percobaan pemberian ekstrak kolang-kaling pada mencit yang mengalami nyeri dan radang. Hasilnya, mencit itu mengalami penurunan rasa nyeri dan peradangan secara signifikan. Diduga, ekstrak kolang-kaling bekerja melalui berbagai jalur sinyal yang mengendalikan pusat nyeri di otak dan di perifer. Ekstraknya bisa mengatasi radang lewat pengendalian pengeluaran agen penyebab radang.

Hasil penelitian yang dipublikasikan tahun 2019 itu diklaim sebagai temuan baru. Yakni, temuan kandidat obat antinyeri dan antiradang berbahan alam yang lebih aman ketimbang obat kimiawi. Obat kimiawi yang selama ini digunakan menunjukkan efek samping yang tidak dikehendaki, seperti meningkatkan tekanan darah dan kerapuhan tulang.

Osteoartritis

Benarkah kolang-kaling bisa mengatasi osteoartritis pada orang lanjut usia? Inilah yang mendorong peneliti Indonesia menyelidiki khasiatnya sebagai antinyeri dan antiradang. Osteoartritis adalah radang dan nyeri kronik persendian yang terjadi pada usia dewasa dan tua. Biasanya hal itu berawal dari kerusakan lapisan tulang rawan persendian. Kondisi tersebut bisa menjadi lebih parah karena faktor keturunan, obesitas, dan penggunaan sendi secara berlebihan.

Penelitian itu menggunakan jus kolang-kaling yang diberikan pada dua kelompok tikus. Yakni, dibuat mengalami rasa nyeri dan peradangan. Hasilnya, terjadi penurunan nyeri dan radang secara signifikan seiring dengan peningkatan dosis jus.

Melalui studi itu, diketahui peran kandungan karbohidrat kolang-kaling yang dinamakan galaktomanan. Salah satu tugasnya adalah menghambat sekresi mediator nyeri, misalnya prostaglandin. Sebagai antiradang, ternyata galaktomanan bekerja melawan radikal bebas. Percobaan itu juga membuktikan terjadinya penurunan oedema. Studi tersebut meyakini kerja jus kolang-kaling melalui sinergisme galaktomanan dan zat kandungan lain.

Kosmeseutikal

Kosmeseutikal adalah produk kosmetik yang punya manfaat pengobatan. Pemakaian kosmeseutikal berbahan alam sudah dikenal sebagai pengendali proses penuaan. Bahan alam yang digunakan adalah polisakarida, dan galaktomanan dari kolang-kaling adalah salah satunya.

Peneliti Indonesia tertarik untuk membuktikan kerja galaktomanan sebagai anti penuaan dini. Yakni, dengan menguji efeknya sebagai antioksidan, pencerah kulit, dan pelindung kulit dari kerusakan akibat paparan sinar ultraviolet. Hasilnya menunjukkan kerja galaktomanan sebagai antioksidan untuk mencegah kerusakan sel.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore