Kegiatan diskusi yang mengupas soal kepatuhan pasien Endometriosis untuk menjalani pengobatan di Jakarta. Foto : Hilmi/Jawa Pos
JawaPos.com – Masyarakat dunia saat ini memperingati Bulan Kesadaran Endometriosis Sedunia (World Endometriosis Awareness Month). Di Indonesia sendiri, penyakit yang dialami perempuan itu diperkirakan terjadi pada 5 dari 100 perempuan. Kendala dalam pengobatan penyakit Endometriosis adalah terlambat diagnosa dan kepatuhan penderitanya untuk menjalani pengobatan.
Dokter spesialis kebidanan dan kandungan Kanadi Sumapraja mengatakan Endometriosis masih menjadi masalah yang besar, khususnya bagi perempuan Indonesia. ’’Salah satu penyebabnya adalah keterlambatan diagnosis. Di mana data menunjukkan adanya keterlambatan diagnosis 6-8 tahun,’’ kata Kanadi dalam keterangannya Minggu (10/3).
Dosen FKUI-RSCM itu menuturkan kasus Endometriosis harus ditangani secepatnya. Apalagi data yang dia terima menyebutkan, sebanyak 5 dari 100 perempuan usia produktif di Indonesia mengalami Endometriosis. Ironisnya banyak diantara perempuan yang mengidap Endometriosis baru mengetahui dirinya mengidap penyakit tersebut. Sehingga mereka datang berobat dalam kondisi sudah lumayan parah.
Dia menjelaskan bagi pasien yang sudah didiagnosis mengalami Endometriosis, kunci keberhasilan pengobatannya yaitu kepatuhan. Yang dimaksud dengan kepatuhan itu adalah perilaku pasien untuk mematuhi instruksi dan menyelesaikan pengobatan yang direkomendasikan dokter. ’’Sampai sekarang kepatuhan masih jadi tantangan. Karena (terapi hormonal) pengobatan Endometriosis merupakan pengobatan jangka panjang, sehingga butuh komitmen kepatuhan,’’ tuturnya.
Sementara itu dalam diskusi terapi jangka panjang Dienogest bagi penderita Endometriosis di Jakarta akhir pekan lalu, Head of Department Pharmaceuticals Bayer Indonesia Dewi Muliatin Santoso mengatakan terapi hormonal Dienogest sangat efektif bagi penderita Endometriosis.
Dia menjelaskan lewat terapi hormonal jangka panjang itu, terbukti efektif mengelola gejala yang ditimbulkan penyakit Endometriosis. Kemudian juga mampu mencegah progresivitas penyakit serta meningkatkan kualitas hidup. Dewi mengungkapkan lewat terapi itu mampu mengurangi nyeri sampai 40 persen dalam empat pekan penggunaan terapi Dienogest.
Seperti diketahui penyakit Endometriosis terjadi saat perempuan mengalami menstruasi ketika akil baligh. Pada kondisi umum, darah menstruasi dibuang lewat saluran saluran kelamin perempuan. Tetapi ternyata ada sebagian darah menstruasi itu yang berbalik arah masuk ke rongga perut.
Secara alamiah tubuh akan merespon adanya darah menstruasi yang berbalik arah itu. Tetapi ada 10 persen perempuan yang tubuhnya gagal merespon adanya darah berbalik arah itu. Akibatnya darah tertahan dan menimbulkan masalah pemicu penyakit Endometriosis tersebut.

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
11 Barang yang Secara Psikologi Jadi Pemborosan Orang Miskin tapi Tak Pernah Dibeli Orang Kaya
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Suasana di Dalam Tenda Glamping Tempat Satu Keluarga Tewas di Temanggung
Harga Pasaran 4 Pemain Lokal Ini Bikin Kaget! Meroket usai Bawa Persebaya Surabaya Finis Papan Atas
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Ramadhan Sananta, Mesin Gol Baru Era Bernardo Tavares
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
