Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 24 Februari 2024 | 01.15 WIB

Suplemen Vitamin B3 Picu Peningkatan Risiko Jantung dan Kesehatan Kronis yang Beragam, Simak!

Ilustrasi vitamin B12. (freepik/pikisuperstar) - Image

Ilustrasi vitamin B12. (freepik/pikisuperstar)




JawaPos.Com - Ada banyak alasan untuk menyempurnakan pola makan Anda dengan vitamin B3 dan suplemen.

Anda mungkin mencari opsi untuk meningkatkan vitamin B3 untuk produksi kolagen, meningkatkan kesehatan otak, atau bahkan melawan penuaan dengan bergantung pada rekomendasi dokter.

Namun seperti yang sering terjadi, Anda harus berhati-hati untuk mendapatkan terlalu banyak barang bagus khususnya suplemen vitamin B3.

Sebuah studi baru dari para peneliti di Cleveland Clinic menemukan bahwa satu suplemen dan bahan tambahan makanan yang umum, vitamin B3 (atau niasin), sebenarnya dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.

Sementara itu, penelitian ini juga dipublikasikan secara elektronik di  Nature Medicine pada 19 Februari 2024 lalu, dan menghubungkan kelebihan kadar vitamin B3 dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.

Dilansir dari Best Life, Jumat (23/2), salah satu jenis vitamin B yakni vitamin B3 dapat memberikan efek yang kurang baik untuk tubuh apabila dikonsumsi berlebih.

Sebagai informasi, vitamin ini terdapat secara alami pada unggas, ikan, pisang, kacang-kacangan, dan makanan lainnya, namun juga ditambahkan pada tepung, sereal, roti, dan makanan olahan lainnya untuk menghindari kekurangan vitamin B3.

Baca Juga: 5 Vitamin yang Diperlukan untuk Kesehatan Rambut, Salah Satunya Vitamin B Kompleks

Terlalu banyak vitamin B3 dari suplemen, disebutkan menyebabkan pembentukan metabolit darah yang disebut 4PY, yang kemudian dapat memicu peradangan dan merusak pembuluh darah, kata Hazen kepada CBS News.

Para peneliti mengidentifikasi hal ini dengan menganalisis plasma dari 1.162 pasien dengan penyakit jantung stabil, mencari molekul yang dapat memprediksi kejadian buruk kardiovaskular (MACE) tanpa melihat faktor risiko lainnya.

“Hal yang menarik adalah bahwa jalur ini tampaknya menjadi kontributor signifikan yang sebelumnya tidak diketahui namun berkontribusi terhadap perkembangan penyakit kardiovaskular,” Hazen, yang juga merupakan salah satu kepala bagian Kardiologi Pencegahan di Institut Jantung, Vaskular & Thoracic Klinik Cleveland.

“Terlebih lagi, kita dapat mengukurnya, yang berarti ada potensi untuk pengujian diagnostik. Wawasan ini menjadi landasan bagi pengembangan pendekatan baru untuk melawan dampak dari jalur ini,” pungkas Stanley Hazen, PhD, MD, ketua Ilmu Kardiovaskular dan Metabolik di Institut Penelitian Lerner Klinik Cleveland.

***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore