Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 20 Januari 2023 | 13.22 WIB

Stunting Sebabkan IQ Kecerdasan Anak Lebih Rendah di Bawah Rata-rata

Ilustrasi stunting. Dimas Pradipta/JawaPos.com - Image

Ilustrasi stunting. Dimas Pradipta/JawaPos.com

JawaPos.com - Perkembangan otak anak dicetak sejak masa seribu hari pertama, yakni ketika anak mulai dari janin dalam kandungan hingga usia 2 tahun. Ketika mereka kurang gizi dalam masa emas tersebut, hal itu memengaruhi kecerdasan mereka dan tumbuh kembangnya.

Dampak anak kurang gizi menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, adalah menyebabkan pertumbuhannya terhambat seperti stunting, serta memengaruhi perkembangan otaknya. Alhasil, kecerdasan anak menjadi lebih rendah di bawah rata-rata.

Ia menjelaskan, stunting merupakan kurang gizi yang mengakibatkan rendahnya IQ anak sebesar 20 persen di bawah rata-rata. Dengan demikian jika dilihat dari sudut pandang pendapatan daerah, apabila SDM di suatu daerah memiliki IQ rendah, maka pendapatan daerah akan rendah juga.

"Karena masalahnya adalah jika seseorang dengan intelektual rendah, maka dia tidak bisa bekerja dengan profesi yang lebih tinggi yang menghasilkan income yang juga lebih tinggi. Jadi kalau kita mau maju, pendapatannya tinggi, jangan sampai stunting. Karena kalau stunting itu intelektualnya 20 persen lebih rendah,” kata Menkes Budi dalam keterangan resmi, Kamis (19/1)

Jurus Cegah Stunting

Ia menjelaskan bahwa untuk mencegah stunting hal yang utama dilakukan adalah dengan intervensi spesifik pada ibu sejak remaja dan intervensi spesifik pada anak di usia 6 bulan sampai 24 bulan. Jurusnya adalah dengan memberikan protein hewani selama masa MPASI.

“Stunting saya pesannya cuman dua yaitu intervensi spesifik pada ibu sejak remaja dengan memberikan tablet tambah darah dan pada anak usia 6 sampai 24 bulan dengan memberikan protein hewani pada MPASI,” ujarnya.

Untuk mencegah stunting, lanjut Menkes, yang paling penting adalah mesti intervensi spesifik jangan sampai ibu di usia remaja mengalami anemia. Intervensinya dengan memberikan tablet tambah darah dan memastikan tablet tersebut diminum. Upaya lain yang juga penting adalah dengan memberikan protein hewani melalui MPASI sejak anak usia 6 sampai 24 bulan.

“Makanan tambahan ini saya sampaikan bukan biskuit, tapi makan yang mengandung protein hewani bisa ikan, bisa ayam, bisa daging sapi, yang paling gampang adalah telur,” katanya.

Ia menekankan, kalau anak sudah stunting itu sudah telat. Jadi jangan tunggu sampai stunting.

“Caranya adalah jika berat badan anak tidak naik, maka harus langsung kirim ke Puskesmas untuk diintervensi dan diberi makanan tambahan selama 14 hari,” tutupnya.

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore