
APD LEVEL III: Selama pandemi, dokter gigi melayani pasien dengan alat pelindung diri lengkap. (Riana Setiawan/Jawa Pos)
JawaPos.com– Indonesia saat ini sedang menyongsong bebas karies gigi di 2030. Sayangnya upaya menuju bebas karies gigi menghadapi sejumlah persoalan. Diantaranya adalah belum meratanya sebaran dokter gigi. Data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebutkan lebih dari 50 persen dokter gigi berada di pulau Jawa.
Belum meratanya sebaran dokter gigi tersebut harus dicarikan solusinya. ’’Sehingga Indonesia bisa mencapai target bebas karies gigi pada 2030 nanti,’’ kata Chief Strategy Officer (CSO) SATU Dental Felix Saputra di Jakarta pada Sabtu (24/9). Dia mencontohkan untuk kelompok dokter gigi saja, sebanyak 38 ribu orang berada di Pulau Jawa.
Kemudian untuk kelompok dokter gigi spesialis, sebanyak 5.000 orang berada di Pulau Jawa. Kondisi tersebut perlu diatasi. Supaya masyarakat Indonesia di manapun, bisa mengakses pelayanan kesehatan gigi dan mulut secara mudah. Layanan kesehatan gigi dan mulut baginya penting, karena sebanyak 57 persen lebih penduduk Indonesia mengalami masalah gigi dan mulutnya.
Menurut Felix, tantangan menuju Indonesia bebas karies gigi di 2030 juga menghadapi tantangan lain. Yaitu kesadaran masyarakat terhadap kesehatan gigi masih rendah. Berdasarkan hasil survei Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes di 2018 lalu, banyak keluarga masih belum memiliki kesadaran pribadi untuk mengakses fasilitas kesehatan gigi dan mulut secara rutin.
’’Ada sekitar 42,2 persen memilih untuk melakukan pengobatan gigi dan mulut sendiri,’’ katanya. Kemudian ada 10,2 persen masyarakat yang sudah mendapatkan perawatan oleh tenaga medis gigi. Fakta menarik lainnya adalah ada 1,3 persen masyarakat memilih ke tukang gigi untuk mengatasi persoalan gigi dan mulutnya.
Felix mengatakan menjaga kesehatan gigi dan mulut sangat penting. Sebab penderita sakit gigi dan gusi memiliki tingkat risiko lebih tinggi terhadap beberapa penyakit lainnya. Misalnya memiliki resiko terserang stroke 50 persen lebih tinggi pada usia 25-51 tahun. Lalu memiliki risiko sakit jantung dua kali lebih tinggi. Kemudian juga memiliki risiko kelahiran bayi prematur lebih tinggi pula. (*)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
