Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 4 Februari 2024 | 21.36 WIB

Merokok Dapat Menghilangkan Stres dan Menenangkan Pikiran, Hasil Penelitian Nyatakan Itu Persepsi Keliru

Berhenti merokok adalah sebuah proses dan cara pikir atau mindset - Image

Berhenti merokok adalah sebuah proses dan cara pikir atau mindset

JawaPos.com - Selama ini banyak dijumpai orang-orang di sekitar yang berasumsi bahwa merokok dapat menghilangkan stres dan menenangkan pikiran. 

Saking percaya, mereka pecaya diri mengunggah di akun media sosial menampilkan foto dengan gambar secangkir kopi hitam dan sebatang rokok. Gambar itu dianggap dapat menemani hari santainya. Kelompok-kelompok orang seperti itu berpikir bahwa rokok membantu dalam menenangkan pikiran dan mengurangi kecemasan.

Dilansir webMD, efek dari merokok itu hanya berumur pendek. Maksudnya, merokok hanya mampu membuat penikmatnya merasa tenang sementara. Usai merokok, stres kembali lagi. Akhirnya seorang perokok mulai putus asa dan menginginkan rokok lagi, tetapi kemudian rasa gelisah dan cemas datang lagi. Siklus seperti itu terus berulang.

Hal itu terjadi karena rokok mengandung stimulan. Rokok dapat membantu mendorong energi yang cepat. Namun, efek yang dirasakan penggunanya sangat cepat hilang. Kandungan kimia yang tinggi hanya bertahan beberapa menit.

Sementara itu, menurut sebuah hasil penelitian yang dilansir University of Oxford menunjukkan bahwa berhenti merokok justru dapat meningkatkan kesehatan mental.

Penelitian itu menggunakan pendekatan analitis yang ketat untuk menilai perubahan kesehatan mental setelah berhenti merokok. Studi itu melibatkan dua kelompok orang dewasa, yaitu yang mempunyai gangguan kejiwaan dan yang tidak.

Terdapat 4.260 sampel dari analisis itu. Sebanyak 55,4 persen di antaranya memiliki riwayat penyakit mental. Pengukuran skor kecemasan dan depresi dilakukan dengan menggunakan skala kecemasan dan depresi rumah sakit pada minggu ke-24. Skor yang lebih rendah menunjukkan kesehatan mental yang lebih baik berkisar antara 0-21.

Hasil penelitian itu mengungkapkan bahwa berhenti merokok dikaitkan dengan peningkatan signifikan dalam skor kecemasan dan depresi. Arti dari penemuan tersebut menjelaskan bahwa berhenti merokok tampaknya tidak memperburuk keadaan dan mungkin meningkatkan hasil kesehatan mental.

Sementara itu, Peneliti di Nuffield Department of Primary Care Health Sciences Min Gao mengungkapkan bahwa menggunakan tiga pendekatan statistik untuk mengurangi perancu sehingga dapat memberi bukti yang lebih kuat terkait dampak berhenti merokok terhadap kesehatan mental.

Min Gao melanjutkan, berhenti merokok tidak akan memperburuk keadaan. Malahan bisa meningkatkan kesehatan mental.

Banyak perokok yang menginginkan berhenti merokok, tetapi gagal. Tidak semuanya sukses. Mereka tidak dapat melupakan sensasi sementara yang mereka alami saat merokok. Seorang perokok seperti tidak ingin melepas saat-saat yang menurut mereka mampu menghilangkan stres atau memberikan manfaat psikologis lainnya.

Padahal itu tidak memberi efek yang berkepanjangan. Hanya terjadi sementara dan akan terulang lagi setelahnya. Sayangnya gagasan bahwa merokok memiliki efek menenangkan sudah tersebar luas.

Selain itu, merokok merupakan penyebab utama kematian dengan hampir separuh perokok meninggal karena penyakit yang berhubungan dengan merokok.

Angela Wu seorang penulis utama dan peneliti di Nuffield Department of Primary Care Health Sciences, University of Oxford mengatakan bahwa berhenti merokok bukanlah hal yang mudah.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore