
ilustrasi interaksi ibu dan anak. Sumber foto: Freepik
JawaPos.com - Setiap orang tua yang anaknya didiagnosis mengidap kanker sangat berharap supaya anaknya bisa bertahan lewat sejumlah bantuan pengobatan misal kemoterapi.
Menurut World Health Organization (WHO), setiap tahun sekitar 400.000 anak berusia antara 0 hingga 19 tahun menderita kanker.
Layanan komprehensif umumnya dapat diakses di negara-negara berpenghasilan tinggi sehingga lebih dari 80 persen anak-anak penderita kanker dapat disembuhkan.
Angka tersebut jauh lebih rendah di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, di mana kurang dari 30 persen anak-anak yang sembuh, kata WHO.
Leukemia, tumor otak, neuroblastoma, tumor Wilms (kanker ginjal), limfoma, dan rhabdomyosarcoma menjadi beberapa jenis kanker umum yang terjadi pada anak-anak, jelas ahli onkologi medis senior Manish Sharma, dikutip JawaPos.com, Minggu (4/2).
Meskipun kanker pada usia remaja lebih jarang terjadi dibandingkan kanker pada orang dewasa, namun kanker ini perlu ditangani dengan perawatan khusus. Kemajuan penelitian medis terus meningkatkan prognosis anak-anak penderita kanker.
Orang tua dari penyintas kanker anak dapat mengantisipasi pemeriksaan rutin, pemantauan efek samping pengobatan, dan percakapan mengenai kesehatan serta kesejahteraan anak secara umum selama pertemuan tindak lanjut.
Pemeriksaan untuk mengetahui potensi efek samping seperti kegagalan organ atau keganasan sekunder sering kali disertakan dalam janji temu ini.
Orang tua harus siap untuk berdiskusi dengan anak-anak mereka mengenai kesehatan emosional dan dampak psikologis dari pengalaman kanker.
Penyintas kanker anak mungkin mengalami efek samping yang berkepanjangan dari pengobatannya dikenal sebagai efek terlambat.
Hal ini dapat bervariasi tergantung pada jenis kanker, pengobatan spesifik yang diterima, dan faktor individu, ungkap Sharma.
Kemungkinan efek samping seperti:
Masalah fisik: Kerusakan organ, kelainan pertumbuhan, ketidakseimbangan hormon, dan gangguan kesuburan jadi kekhawatiran umum.
Tantangan kognitif dan pembelajaran: Beberapa penyintas mungkin menghadapi kesulitan dalam ingatan, perhatian, dan pembelajaran berpotensi berdampak pada kinerja akademis mereka.
Efek emosional dan psikososial: Kecemasan, depresi, dan post-traumatic stress disorder (PTSD) dapat muncul karena dampak emosional yang dialami akibat kanker.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
