
Ilustrasi Mie instan (Freepik/Kamran Aydinov)
JawaPos.com - Mi Instan makanan yang sangat praktis dan murah. Banyak orang menggemari mi instan. Namun, terlalu banyak makan mi instan bisa berpengaruh ke kesehatan.
Mi instan adalah salah satu makanan yang menggugah selera masyarakat Indonesia karena harganya murah, cara memasak yang mudah, dan rasanya yang bervariasi menjadi daya tarik tersendiri. Tak banyak yang mengetahui batas aman konsumsi mi instan sehingga membuat seseorang cenderung mengkonsumsi mi instan secara berlebihan.
Mengonsumsi mi instan mungkin bisa jadi alternatif saat lapar, karena mudah dimasak dan murah. Namun, mi instan sebaiknya tidak dikonsumsi setiap hari. Pasalnya, mi instan merupakan jenis makanan ultraproses yang memiliki kandungan lemak jenuh, pengawet, dan natrium yang tinggi.
Dikutip dari beberapa sumber, mi instan mengandung propylene glycol (PG). Zat ini digunakan untuk membantu mempertahankan bentuk dan tekstur mi agar tidak mudah kering. PG mudah sekali terserap oleh tubuh dan apabila menumpuk di ginjal, hati, maupun saluran pencernaan akan membahayakan kesehatan organ serta menurunkan daya tahan tubuh.
Selain kandungan PG, dalam mi instan terdapat juga tertiary butylhydroquinone (TBHQ). Penggunaan TBHQ pada mi instan berguna sebagai pengawet agar tahan lama dan tidak mudah busuk. Sebenarnya penggunaan TBHQ dalam dosis kecil masih aman digunakan.
Tubuh terpapar terus-menerus dalam jangka waktu lama tidak dimungkiri akan terjadi gangguan kesehatan. Gangguan kesehatan itu meliputi gangguan penglihatan, kerusakan pada liver, hingga meningkatnya risiko terkena limfoma.
Makanan olahan cepat saji ini ternyata berisiko menimbulkan dampak buruk bagi sistem pencernaan yang memaksanya untuk mencerna mie dalam waktu berjam-jam. Pencernaan yang lambat menjadikan bahan kimia beracun dan pengawet tetap berada di dalam tubuh yang mengakibatkan paparan berlebihan dari BHA dan TBHQ. Agar dapat tahan lama atau awet, kedua kandungan ini biasanya digunakan dalam suatu produk.
Faktanya, bahan kimia ini bersifat karsinogenik, yaitu dapat menimbulkan kanker pada seseorang dan beberapa gangguan lainnya, misalnya diare, asma, bahkan perasaan cemas. Mengonsumsi terlalu sering, segala gangguan tersebut berisiko terjadi lebih tinggi.
Meski begitu, ada juga mitos yang menyatakan jika menambahkan sayuran ke mi instan yang disajikan dapat meningkatkan nilai gizinya. Namun faktanya, makanan-makanan yang menyehatkan layaknya sayur dan buah tidak dapat melawan efek negatif yang dihasilkan oleh makanan tidak sehat ini.
Berikut ini pembahasan untuk mengetahui lebih jauh terkait dampak buruk yang dapat dihasilkan.
1. Kekurangan Nutrisi
Mi instan sebenarnya mengandung karbohidrat tinggi, tapi kandungan serat, protein, vitamin, dan mineral di dalamnya tergolong sangat minim.
Makan mi instan setiap hari mungkin bisa membuat kenyang. Namun, secara tak langsung jadi kekurangan nutrisi yang sangat penting untuk tubuh karena kandungan zat gizi makro dan mikro tidak seimbang. Padahal, tubuh memerlukan zat gizi makro lain, seperti protein dan lemak sehat sebagai sumber energi dan pembentukan massa otot. Sementara zat gizi mikro diperlukan dalam jumlah sedikit untuk menjaga sistem kekebalan tubuh, perkembangan otak, dan memastikan fungsi organ bekerja dengan baik.
2. Memicu Pertambahan Berat Badan
Sebagai makanan tidak sehat, mi instan memiliki jumlah kalori yang cukup tinggi karena kandungan karbohidrat dan natrium yang lebih dominan. Menurut riset dalam American Journal Of Lifestyle Medicine (2018), sebanyak 71 persen masyarakat Amerika mengalami obesitas yang diakibatkan oleh konsumsi makanan olahan dan ultraproses.
Bahkan, riset tersebut juga menjelaskan bahwa konsumsi makanan olahan dan cepat saji lebih berisiko menyebabkan kematian daripada merokok. Selain itu, mi instan tinggi akan kandungan lemak jenuh yang memberikan rasa enak dan bikin ketagihan. Namun, kandungan lemak jenuh yang masuk ke dalam tubuh dalam jumlah banyak inilah berkontribusi besar pada kenaikan berat badan.
3. Tekanan Darah Naik
Efek makan mi instan setiap hari juga berkaitan erat dengan masalah tekanan darah yang diakibatkan oleh kandungan natrium tinggi di dalamnya. Menurut jurnal Nutrients (2017), makanan ultra proses ini menyumbang sekitar 80 persen asupan garam harian.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
