
Perilaku gaslighting pada hubungan orang tua dan anak.
JawaPos.com–Pernahkah merasa ragu dengan perasaan sendiri atau justru secara tidak sadar menyangkal perasaan orang lain? Mari menjelajahi apa itu gaslighting?
Gaslighting biasanya dijumpai pada hubungan romansa. Namun, sebenarnya perilaku itu dapat terjadi dan dilakukan siapa saja, termasuk hubungan orang tua dengan anak.
Melansir Psychology Today, gaslighting merupakan perilaku yang melibatkan kekuatan manipulatif di mana satu orang dalam hubungan mempertanyakan apa yang mereka yakini sebagai kebenaran yang sah.
Gaslighting disebut juga sebagai pelecehan emosional. Dampak panjang bagi seseorang yang terkena gaslighting, yaitu lemahnya kepercayaan diri terhadap persepsi, perspektif, dan realitas, yang diyakini.
Orang-orang yang melakukan gaslighting berusaha untuk memutar balik dan mendefinisikan fakta, situasi, serta gagasan, sesuai dengan yang diinginkan.
Meski hal itu dapat terjadi pada siapa pun, tetapi korban paling rentan dari perilaku ini merupakan kelompok remaja menuju dewasa.
Pada hubungan orang tua dan anak, tanpa sadar orang tua kerap menggunakan kekuasaan dan kendali mereka terhadap remaja atas pilihan hidup mereka dalam pendidikan, karir, serta masa depan.
Hal itu ditandai dengan ungkapan, seperti ibu tahu yang terbaik, kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan dalam hidupmu, dan tanpa ibu, kamu pasti benar-benar tersesat dan gagal dalam semua mata pelajaranmu.
Orang tua yang melakukan gaslighting pada anak dapat dipicu kewajiban, utang, bahkan rasa malu, membuat mereka tanpa sadar menyulut anak mereka.
Kejadian yang sama juga dapat dilakukan anak terhadap teman. Dalam dinamika gaslighting, segala bentuk tindakan untuk menentukan dan mengendalikan pikiran serta perasaan orang lain, berapapun usianya tetap disebut gaslighting.
Apa yang harus dilakukan?
Langkah pertama menyikapi hal itu adalah memahami dengan benar apa itu gaslighting.
Dalam hubungan orang tua dan anak, penting untuk meningkatkan kesadaran diri dan keterampilan regulasi. Mulailah untuk peka ketika anak mulai merasa diabaikan, diremehkan, dan disorientasi. Serta mengecek bagaimana kondisi dan merenungkan apakah ada dinamika kekuatan dalam perbincangan yang dilakukan.
Adapun bagi korban yang terjebak dalam situasi itu cobalah untuk berlatih mengungkapkan kebenaran dan meyakini realitas tersebut. Misalnya pada remaja yang kerap kali mendengar ungkapan, seperti kamu bukan lapar, melainkan kelelahan atau kamu tidak kesal hanya merasa bosan, sebenarnya mengecilkan rasa percaya diri mereka untuk mengenali tubuh atau emosi mereka sendiri.
Orang tua sebaiknya menyadari bahwa kesadaran diri dan regulasi yang dirasakan anak harus dikembangkan. Selain itu, coba untuk mengucapkan afirmasi positif yang dapat menumbuhkan kepercayaan diri. Di antaranya aku tahu bagaimana perasaanku, perasaanku valid, tidak ada orang lain yang tahu bagaimana perasaanku, kecuali aku mengungkapkannya, dan lain-lain.

5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
11 Tempat Berburu Sarapan Bubur Ayam Paling Enak di Bandung, Layak Masuk Daftar Wisata Kuliner!
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Kuliner Nasi Goreng Paling Enak di Bandung, Tiap Hari Pelanggan Rela Antre Demi Menikmati Kelezatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
