Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 20 Desember 2023 | 18.22 WIB

Meski Gratis Pakai JKN, Pemeriksaan Kesehatan Aurel Detail

Aurelita Putri Aira penerima manfaat program JKN, bangga menjadi anak muda yang ber-JKN. - Image

Aurelita Putri Aira penerima manfaat program JKN, bangga menjadi anak muda yang ber-JKN.

JawaPos.com–Ima Chafidatul Imanah merasakan betul manfaat dari aktifnya Kartu Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Sakit itu bisa datang kapan saja, tanpa memberi aba-aba. Putri semata wayangnya, Aurelita Putri Aira, mendadak sakit meskipun sebelumnya terlihat sehat, tanpa keluhan apapun.

Pagi itu, perempuan 48 tahun itu mengantar anaknya ke sekolah. Dia mendapati anaknya gemetaran. Tubuhnya dingin. Dia merasa panik. Terlebih saat gerakan tubuh anaknya itu semakin kencang dan sulit dikontrol.

”Saya langsung memutuskan untuk membawa Aurel ke instalasi gawat darurat (IGD) di Soerojo Hospital,” kenang Ima mengingat kepanikan waktu itu, Selasa (19/12).

Beruntung dia selalu menyimpan kartu JKN di dompetnya. Setiba di rumah sakit, petugas pendaftaran langsung menanyakan apakah anaknya memiliki JKN atau tidak. Saat Ima akan menunjukkan kartu JKN, petugas rumah sakit mengedukasi bahwa cukup menyebutkan Nomor Induk Kependudukan (NIK). Anaknya pun langsung menyodorkan NIK yang tercantum di kartu pelajar.

”Petugas pendaftaran langsung meng-input NIK,” ujar Ima Chafidatul Imanah.

Perawat dan dokter IGD langsung sigap menangani Aurel, sapaan Aurelita Putri Aira.

”Anak saya masih pakai seragam sekolah dan tidak sempat ganti baju. Yang saya pikirkan saat itu adalah yang penting cepat sampai IGD, dan dapat penanganan. Saya juga sudah tenang, karena membawa kartu JKN, ternyata bisa juga berobat pakai kartu pelajar, yang penting ada NIK-nya,” ujar Ima Chafidatul Imanah.

Sempat terpikir di benaknya jika penanganan Aurel membutuhkan biaya tambahan, di luar biaya yang dijamin Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Tapi rasa lega langsung menghampiri, karena petugas di IGD memberikan edukasi bahwa kondisi Aurel masuk dalam penjaminan BPJS Kesehatan.

Anaknya langsung mendapat tindakan rekam jantung atau elektrokardiogram (EKG) dan tes darah. Dokter pun menyarankan Aurel menjalani rawat inap, sekaligus untuk observasi. ”Setelah rawat inap, Aurel menjalani tindakan USG jantung,” terang Ima Chafidatul Imanah.

Selama di ruang perawatan, kata Ima, Aurel mendapat penanganan yang memuaskan. Mulai dari perawat, dokter, fasilitas, obat-obatan, dan menu makanan yang disajikan sangat cocok. ”Anak saya jadi tidak merasa beban di rumah sakit,” tutur Ima.

Pelayanan itu membuat Aurel lebih bersemangat dan punya harapan ingin sembuh. Hanya sekitar tiga hari di rumah sakit, kondisi Aurel membaik. Dokter memperbolehkan pulang.

”Tapi beberapa hari setelah itu, dia kambuh lagi. Saya larikan lagi ke IGD. Bahkan karena sakit itu, berat badan anak saya turun,” tutur Ima Chafidatul Imanah.

Kondisi kesehatan Aurel menurun. Oleh dokter disarankan menjalani pemeriksaan elektroensefalogram (EEG). Kemudian mengulang pemeriksaan EKG sebanyak dua kali. Hasil dari pemeriksaan EEG, tidak menunjukkan gejala kelainan pada otak dan saraf. Setelah itu, Aurel mendapat tindakan lain, dan didiagnosis alami gangguan pencernaan.

”Saya iseng tanya-tanya, kalau pemeriksaan otak pakai umum habisnya sampai Rp 2,7 juta untuk sekali tindakan. Karena saya pakai BPJS Kesehatan, semuanya benar-benar gratis,” ucap Ima Chafidatul Imanah.

Dia tak menyangka jika biaya pengobatan sangat tinggi. Dia merasa beruntung memiliki JKN.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore