
Focus Group Discussion oleh Kadin Indonesia Bidang Kesehatan. (Dok. Kadin)
JawaPos.com – Indonesia memiliki obsesi untuk terlepas dari status negara berpendapatan menengah (middle income country) menjadi negara berpendapatan tinggi (high income country) dengan memanfaatkan bonus demografi, yaitu banyaknya penduduk yang berada di rentang usia produktif. Hal ini dijelaskan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI, Kunta Wibawa Dasa Nugraha dalam acara Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh KADIN Indonesia Bidang Kesehatan, baru-baru ini.
FGD ini diadakan untuk menjembatani pemahaman berbagai pihak mengenai program SISOIN (SIHREN, SOPHI dan InPULS) yang pada prinsipnya merupakan program pengadaan alat kesehatan untuk lima penyakit utama, yakni kanker, jantung, stroke, uronefrologi dan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) melalui pinjaman dari sindikasi empat lembaga perbankan dunia. Empat bank itu adalah World Bank, Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB), Asian Development Bank (ADB), Islamic Development Bank (IsDB).
Untuk diketahui, SIHREN yang merupakan singkatan dari Strengthening Indonesia’s HealthCare Referral Network, adalah penguatan sistem layanan kesehatan rujukan. SOPHI, yang merupakan singkatan dari Strengthening Primary Healthcare, adalah penguatan sistem kesehatan primer untuk Puskesmas, Pustu dan Posyandu.
Sedangkan InPULS alias Indonesia Public Laboratory System Strengthening merupakan penguatan kapasitas laboratorium kesehatan milik pemerintah.
“Pinjaman bernilai Rp 60 triliun untuk pengadaan berjangka waktu 4-5 tahun ini merupakan pinjaman terbesar dalam satu proyek dan untuk pertama kalinya 4 lembaga perbankan dunia membentuk sindikasi untuk memberikan pinjaman,” ujar Kunta dalam keterangan tertulis yang diterima.
“Karena SISOIN ini didanai oleh pinjaman luar negeri, maka perlu dipastikan bahwa pinjaman dilakukan dengan baik dan benar, tata kelola baik , persaingan sehat. Dalam perjanjian pinjaman (loan agreement) dapat dilihat bahwa jika produk dlm negeri sudah ada (khususnya yang berteknologi rendah dan menengah), maka pembelian harus memprioritaskan produk dalam negeri. Selain itu, pembelian di bawah USD 10,000,000 (sekitar Rp 150 Miliar) akan tetap dilakukan melalui sistem pemerintah yang ada saat ini.”
Menurut Kunta, alasan pemerintah untuk mengambil pinjaman ini adalah untuk memanfaatkan momentum bonus demografi yang hanya akan terjadi sampai dengan tahun 2030, sehingga populasi yang berada pada usia produktif benar-benar akan berkontribusi untuk mengantarkan Indonesia untuk menjadi negara berpendapatan tinggi.
“Negara berpendapatan tinggi memiliki PDB sebesar USD 13,200, sementara PDB Indonesia saat ini masih sebesar USD 4,700 sehingga masih termasuk negara berpendapatan menengah. Banyak negara yang terjebak dalam posisi ini, dan kita tidak mau menjadi salah satunya,” papar Kunta.
”Untuk dapat mencapai hal tersebut, Kementerian Kesehatan harus meningkatkan dan memperbaiki belanja, dengan arah cukup, efisien, efektif dan adil, karena saat ini belanja kita masih lebih rendah dari negara-negara lain,” sambung Kunta.
“Belanja kesehatan Indonesia saat ini masih USD 140, sementara negara-negara lain seperti Malaysia sudah mencapai USD 400, Singapore mencapai USD 2,500 sedangkan negara-negara maju sudah mencapai USD 3,000-4,000. Belanja kesehatan di negara-negara maju tidak akan bertambah terlalu banyak, sedangkan belanja kesehatan di Indonesia masih akan berkembang secara eksponensial,” paparnya lagi.
Menanggapi kekhawatiran beberapa pihak bahwa proyek SISOIN ini tidak berpihak kepada pertumbuhan produk alkes dalam negeri, Kunta memaparkan bahwa pemerintah tidak dapat mengunci diri terhadap persaingan, karena akan rugi sendiri.
"Kalau industri dalam negeri ditutup, itu justru tidak membuat kita maju karena kita disusui terus, sehingga tidak bersaing. Tetapi kalau berorientasi ekspor , kita akan lebih maju karena dimasukkan ke dalam persaingan, sehingga kita bisa lebih bertahan hidup,” katanya.
“Untuk proyek SISOIN ini, kita melihat persaingan ini luar biasa, karena sangat terbuka dan saya yakin kita pasti menang karena kita punya kelebihan yang tidak dimiliki pemain dari luar. Kita punya jaringan, kita tahu betul industri seperti apa, kita tahu betul distribusi seperti apa dibandingkan orang luar negeri, tetapi kami tetap berkomitmen untuk mendukung produk dalam negeri,” pungkasnya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
