Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 28 November 2023 | 02.59 WIB

Dapat Dukungan dari WHO dan AIPI, Peneliti Ungkap Nyamuk ber-Wolbachia Jadi Solusi Efektif Lawan Dengue

Petugas menunjukkan sampel nyamuk aedes aegypti yang sudah disuntikkan bakteri Wolbachia saat peluncuran kampanye metode Wolbachia dari World Mosquito Program (WMP) untuk cegah demam berdarah dengue. - Image

Petugas menunjukkan sampel nyamuk aedes aegypti yang sudah disuntikkan bakteri Wolbachia saat peluncuran kampanye metode Wolbachia dari World Mosquito Program (WMP) untuk cegah demam berdarah dengue.

JawaPos.com - Peneliti utama World Mosquito Program (WMP), Prof. Adi Utarini, menegaskan bahwa penelitian mengenai nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia telah memperoleh dukungan dan pengakuan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI).

"Vector Control Advisory Group WHO sudah ada bukti penyebaran Wolbachia ke nyamuk Aedes aegypti yang mendemonstrasikan dampak kesehatan masyarakat terhadap dengue," ungkap Prof. Utarini dalam acara Talk to Scientists Perkembangan Pengendalian Vektor Dengue di Indonesia, Sabtu (25/11).

Menurutnya, VCAG juga menilai sudah ada data yang cukup bagi WHO untuk memulai pengembangan pedoman rekomendasi intervensi pelepasan Wolbachia untuk pengendalian dengue.

Oleh karena itu, vektor ini memberikan penilaian positif pertama kalinya terhadap dampak kesehatan, terutama pengurangan transmisi patogen karena Wolbachia.

Tak hanya itu, bukti efikasi di Yogyakarta juga sejalan dengan hasil studi di berbagai negara seperti Brazil, Vietnam, dan Australia. WHO VCAG 2020 pun merekomendasikan teknologi nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia sebagai solusi yang terbukti memberikan manfaat bagi kesehatan masyarakat dalam melawan dengue.

Tim independen Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) juga menyatakan bahwa teknologi Wolbachia berada pada kategori risiko terendah, yang dapat diabaikan (negligible).

AIPI sendiri merekomendasikan agar inovasi pencegahan dengue dengan teknologi Wolbachia dapat dijadikan kebijakan Kementerian Kesehatan untuk dimanfaatkan oleh masyarakat dalam upaya penanganan dengue di Indonesia.

“Kami sudah berusaha melakukan yang terbaik apa yang menjadi goals standard riset di bidang kedokteran dan kesehatan serta sudah menghasilkan bukti ilmiah terbaik. Hal tersebut dibuktikan dengan rekomendasi-rekomendasi dari lembaga di WHO dan AIPI. Implementasi intervensi Wolbachia sebagai pelengkap dari program pengendalian dengue memerlukan kepemimpinan pemerintah baik pusat maupun daerah, dukungan kuat dari pemangku kepentingan dan penerimaan masyarakat,” tutur Prof. Adi Utarini.

Dalam sesi tersebut, dia juga memaparkan program yang telah dijalankan di Yogyakarta. Fokus utama dari program ini adalah nyamuk betina ber-Wolbachia yang memiliki peran penting dalam reproduksi.

Strategi implementasinya mencakup meletakkan telur dan pakan nyamuk di ember kecil yang diberi air, kemudian ditutup dan diserahkan kepada warga setempat.

Dikutip dari laman UGM, hasil pemantauan yang dilakukan selama 6-7 bulan menunjukkan bahwa sekitar 60% dari populasi nyamuk Aedes aegypti di alam sudah terinfeksi Wolbachia, sehingga pelepasan telur nyamuk dihentikan. Nyamuk ber-Wolbachia akan terus berkembang biak di populasi alaminya.

Proses penelitian implementasi teknologi Wolbachia di Yogyakarta melalui beberapa fase, termasuk keamanan dan kelayakan, pelepasan skala kecil, pelepasan skala besar, dan model implementasi.

Setiap tahapan pelepasan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia memerlukan dua syarat utama, yaitu dukungan kuat dari stakeholder dan penerimaan tinggi dari masyarakat.

Editor: Nicolaus
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore