Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 14 November 2023 | 22.26 WIB

Tertawa Berlebihan dapat Memicu Kematian, Mitos atau Fakta?

Ilustrasi tertawa secara berlebihan. (sumber : freepik)

JawaPos.com – Tertawa memang bisa melepaskan hormon endorfin yang mengurangi stres. Sehingga tertawa bisa meningkatkan mood seseorang dan melupakan sejenak masalah kehidupan.

Tetapi ternyata, ada mitos yang mengatakan, tertawa yang berlebihan dikatakan bisa menyebabkan kematian. Apakah benar?

Dilansir dari laman Healthline, pada Selasa (14/11) seorang filsuf asal Yunani, Chrysippus, meninggal akibat menertawakan leluconnya sendiri. Beberapa orang percaya dia meninggal karena tertawa berlebihan. 

Namun, kendati ada bukti menunjukkan bahwa orang bisa meninggal karena tertawa secara berlebihan, tapi bukan pemicu utamanya. Sebab, kematian saat seseorang tertawa bisa dipicu suatu kondisi kesehatan.

1. Penderita Aneurisma

Aneurisma otak adalah tonjolan yang terbentuk di pembuluh darah (arteri) di otak. Beberapa aneurisma tidak terdiagnosis sebagai pemicu kematian, namun tonjolannya yang ada pada otak dapat pecah dan menyebabkan pendarahan.

Aneurisma yang pecah dapat dengan cepat menyebabkan kerusakan otak, serta menyebabkan peningkatan tekanan pada rongga tengkorak. Peningkatan tekanan ini dapat mengganggu suplai oksigen ke otak, hingga mengakibatkan koma atau kematian.

Tanda-tanda pecahnya aneurisma otak antara lain Sakit kepala yang parah dan tiba-tiba, muntah, penglihatan ganda, kejang, kepekaan terhadap cahaya, dan kebingungan

2. Penderita asma

Beberapa orang yang mengalami gejala asma ringan, tidak dianjurkan untuk tertawa dengan berlebihan, karena dapat memperparah keadaan asma sehingga sulit untuk bernapas.

Ketika tidak ditangani dengan segera, asma yang disebabkan oleh tertawa terlalu keras dapat mengancam jiwa dan menyebabkan gagal napas hingga serangan jantung.

3. Kejang gelastik

Jenis kejang satu ini biasanya berawal di hipotalamus, kejang ini sering kali dikaitkan dengan tawa atau cekikikan yang tidak terkendali saat bangun atau tidur. Orang yang mengalami kejang gelastik mungkin tampak tertawa, tersenyum, atau menyeringai. Ekspresi emosional ini terkadang disebabkan oleh tumor otak yang berada di hipotalamus dan jika tidak ditangani dengan segera akan memicu kematian.

4. Sesak napas

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore