
Ilustrasi para pejuang kanker
JawaPos.com - Para pasien atau penyintas kanker di Indonesia terus berjuang melawan penyakitnya. Di tengah era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), meski sudah ringan soal biaya namun tetap saja harus mengeluarkan uang yang besar.
Sebab ada berbagai perawatan lain yang harus menggunakan kocek sendiri. Terlebih baru-baru ini sejumlah obat kanker juga disebut-sebut tak masuk dalam cover BPJS.
Dalam data Globocan 2018, dari total 266 juta penduduk, angka penderita kanker jumlahnya terus bertambah. Kasus baru mencapai 348.000 kasus, dan kematian mencapai 208.000 kasus. Kemudian angka prevalensi pasien kanker makin naik setiap 5 tahun yaitu 775.000 kasus.
"Kami berharap kanker menjadi program prioritas pemerintah. Selain mengejar jumlah peserta BPJS diharapkan diikutsertakan akses kesehatan berkualitas. Kami imbau pemerintah ajak organisasi pasien dokter dan organisasi pasien kanker," kata Ketua Umum Cancer Information & Support Center (CISC) Aryanthi Baramuli Putri, baru-baru ini.
Menurutnya, CISC merupakan wadah bagi para pasien kanker dan keluarganya untuk saling berbagi, saling mendukung, dan mendapatkan informasi yang tepat tentang kanker. Salah satu programnya adalah edukasi yang sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan masyarakat. Beban kanker sejak pasien divonis kanker antara lain adalah turunnya tingkat produktivitas, penderitaan secara fisik, psikis, kebangkrutan maupun kematian.
"Kami mengapresiasi sudah adanya JKN yang menjamin pengobatan kanker baik dari pembedahan, kemoterapi maupun target terapi dan radioterapi," jelasnya.
Dirinya pun berharap sebagai pasien dan penyintas, seiring dengan berkembangnya pengobatan kanker, pasien dapat memperoleh hak atas akses pengobatan yang tepat, bermutu, aman, dan terjangkau sebagaimana amanat Undang Undang Kesehatan. Penurunan angka kesakitan dan kematian akibat kanker harus segera diprioritaskan pemerintah dengan cara mempertahankan yang sudah baik.
Tidak hanya itu, terus berupaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dengan menjalin kerjasama yang lebih erat antara semua pihak terkait juga dibutuhkan. Termasuk mengikutsertakan pendapat dari perhimpunan dokter dan suara pasien.
"Dengan demikian pemerintah dapat lebih tepat memahami jenis pengobatan apa yang dibutuhkan dan apa kendala pasien dalam mengakses pelayanan. Untuk obat-obatan yang katanya akan dicabut dari BPJS kami masih terus berjuang ya," tegasnya.
Data WHO 2018 mencatat kanker sebagai penyebab kematian terbesar kedua secara global, dan bertanggung jawab atas sekitar 9,6 juta kematian sepanjang tahun 2018 (1 dari 6 kematian disebabkan oleh kanker). Tiga jenis kanker dengan kasus terbanyak adalah kanker paru-paru, payudara, dan kolorektal. Sedangkan kanker yang menyebabkan kematian paling tinggi adalah kanker paru sejumlah 1,8 juta kematian, diikuti dengan kanker kolorektal sebanyak 881.000 kasus kematian, dan 783.000 kematian yang disebabkan oleh kanker perut.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
