
Kaesang Pangarep, anak bungsu Presiden Joko Widodo.
JawaPos.com – Putra Presiden Joko Widodo Kaesang Pangarep tersandung kasus hukum. Kaesang dilaporkan ke polisi terkait video blog (vlog) miliknya dengan konten kritik kepada video anak-anak yang menyebutkan kalimat ’’bunuh Ahok” saat melakukan pawai obor. Dari kaca mata psikolog, tentu kalimat ’’bunuh Ahok” tak bisa dibenarkan diucapkan oleh anak-anak.
Psikolog Klinis Liza Marielly Djaprie menilai kalimat ekstrim yang terlontar oleh anak-anak tersebut sangat mengkhawatirkan. Apalagi dilontarkan dalam bentuk nyanyian bernada “Menanam Jagung” secara massal dengan santai.
“Itu sebenernya agak mengkhawatirkan ya. Kita harus paham dulu, cara berpikir orang dewasa dan anak-anak itu berbeda,” kata Liza kepada JawaPos.com, Rabu (5/7).
Liza menganalogikan otak anak-anak sebagai spons untuk mencuci piring. Apapun airnya, pasti spons tersebut dapat menyerap. Begitu pula otak anak-anak yang menyerap apapun dan siapapun yang mengajarinya.
“Otak anak-anak itu spons pencuci piring, asal menyerap air. Air apa saja diserap. Sirup, air mentah, apapun juga diserap. Daya logis berpikir analitikal mereka belum berfungsi dengan baik. Seperti spons menyerap apa yang ada,” jelasnya.
Liza menjelaskan tentu terbayang jika anak diharuskan menyerap apapun soal kebencian dan agresivitas seperti yang ada di video tersebut. Hal itu, lanjutnya, akan berdampak hingga di masa depan.
“Nanti ketika sudah besar jadi bahaya. Pasti di video tersebut awalnya ada yang memulai duluan. Yang memulainya menjadi massal namun saya kan tidak ada di sana. Jadi tidak tahu apakah secara khusus ada yang memandu anak-anak tersebut,” ungkapnya.
Liza mengaku heran anak-anak begitu lugasnya dan lantang dalam menyanyikan lagu tersebut. Dia menilai anak-anak yang berteriak dengan kata “bunuh” di video tersebut akan berdampak pada karakternya saat dewasa.
“Di video begitu itu begitu lancar dan lugasnya. Berteriak bunuh dengan demikian lancarnya pakai lagu. Kayak lagi nyanyi lagu pelangi-pelangi saja gitu. Jika konsistensi dilakukan berulang-ulang, maka akan menetap permanen di anak tersebut,” tukasnya. (cr1/JPG)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
