
Ilustrasi pola asuh anak
JawaPos.com - Pola asuh orang tua bisa berdampak negatif pada anak jika terlalu memaksakan kehendak. Orang tua berperan untuk membimbing dan mengarahkan, bukan otoriter atau memaksakan kehendak.
Ditemui dalam acara tahunan Cussons Bintang Kecil dengan tema 'Impian Sang Bintang' di Kota Kasablanka, Sabtu (24/2), Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga Roslina Verauli menjelaskan orang tua wajib membantu anak agar mempunyai mimpi dan cita-cita.
Tugas orang tua bukan memberi penilaian tentang cita-cita anak tetapi hanya memfasilitasi.
"Mudahkan anak cobain berbagai kegiatan. Bermain bola, nyanyi-nyanyi, ikut dance. Anak imut kompetisi bukan bandingkan anak satu dan yang lain ya tapi biar anak punya afirmasi bahwa keahliannya di sini. Handal di A, bukan B," kata Vera.
Lalu kapan anak sudah mulai menunjukkan bakatnya?
Menurut Vera, anak sudah mulai memiliki bakat terlihat sejak usia 2-3 tahun. Sehingga jika orang tua memaksa atau otoriter, maka hal itu akan berdampak negatif bagi perkembangan psikologis anak.
"Ternyata tiap anak punya dorongan buat kembangkan potensi bawaannya. Artinya tiap anak sudah punya impian segini. Ketika dipaksa-paksa jauh dari impian dia dampaknya penghayatan tentang dirinya tak berkembang positif. Menolak sendiri," tegasnya.
Anak akan mengalami masalah emosional dan psikologis. Anak bisa tumbuh menjadi seseorang yang depresi, pendiam, atau bahkan pemberontak. Salah satunya banyak remaja saat inj justru terlibat kenakalan akibat pola asuh yang salah seperti narkoba, tawuran dan bullying.
Lalu bagaimana tips bagi orang tua zaman now untuk menerapkan pola asuh terhadap anak yang tepat?
Vera menilai orang tua zaman now dan dulu hampir sama. Bedanya kini lebih ditantang memasuki era digital. Maka, Vera mempunyai tiga jurus bagi orang tua untuk menerapkan pola asuh yang tepat.
1. Edukasi Diri Sendiri
Orang tua sebaiknya mengevaluasi dan mengedukasi diri sendiri, sudah tepatkah pola asuh pada anak? Jangan hanya memaksa tetapi ternyata salah asuh.
"Cara bantu anak cobalah edukasi diri sendiri. Benar enggak sebagai orang tua. Sering-sering baca majalah, artikel, sering datang ke berbagai seminar, acara dan diskusi," papar Vera.
2. Kenali Mimpi dan Bakat Anak
Kenali mimpi dan bakat anak seperti apa, kemudian difasilitasi. Hal itu sudah terlihat sejak anak usia batita.
"Sehingga anak bisa menerima dirinya dan merasa diakui. Sehingga mereka juga bisa jadi kompeten di bidangnya," jelasnya.
3. Komunikasi
Cara ini sulit dilakukan orang tua zaman now yang selalu sibuk dengan gadget mereka. Maka ibu khususnya bisa meluangkan waktu berbicara dengan anak dari hati ke hati sehingga psikologis anak bisa positif.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
