seseorang yang mengabaikan kesehatan mental / foto: Magnific/amenic181
Ada sebuah fenomena yang cukup sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari: banyak pria terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi sebenarnya sedang berjuang menghadapi berbagai tekanan di dalam dirinya.
Mereka tetap bekerja, menjalankan tanggung jawab, bercanda dengan teman, mengurus keluarga, dan menjalani rutinitas seperti biasa. Namun, tidak banyak orang mengetahui bahwa di balik aktivitas tersebut, sebagian dari mereka mungkin sedang menghadapi kecemasan, kesepian, kelelahan emosional, bahkan depresi.
Menariknya, sebagian pria tidak selalu menyadari bahwa kondisi yang mereka alami berkaitan dengan kesehatan mental. Ada yang menganggap stres sebagai bagian normal dari kehidupan. Ada pula yang merasa bahwa membicarakan masalah pribadi merupakan sesuatu yang memalukan.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan kepribadian atau kurangnya kesadaran. Dalam psikologi, terdapat berbagai faktor sosial, budaya, dan psikologis yang dapat memengaruhi cara pria memahami serta merespons kondisi emosional mereka.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), melalui laporan tentang kesehatan mental pria dan budaya maskulinitas pada 2020, mengidentifikasi beberapa hambatan penting, termasuk tuntutan untuk mandiri, kesulitan mengekspresikan emosi, dan keinginan mempertahankan kendali diri.
Lantas, mengapa begitu banyak pria cenderung mengabaikan kesehatan mentalnya?
Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (5/11), terdapat tujuh penjelasan menurut perspektif psikologi.
1. Sejak Kecil, Pria Terbiasa Diajarkan untuk Tidak Menunjukkan Emosi
Salah satu alasan paling mendasar berkaitan dengan pola pengasuhan dan sosialisasi sejak masa kanak-kanak.
Tidak sedikit anak laki-laki tumbuh dengan kalimat seperti:
"Laki-laki tidak boleh menangis."
"Jangan cengeng seperti perempuan."
"Kamu harus kuat."
"Masalah kecil saja tidak perlu dibesar-besarkan."
Kalimat-kalimat tersebut mungkin sering disampaikan dengan maksud mendidik anak agar tangguh. Namun, jika terus-menerus diterapkan tanpa memberikan ruang untuk memahami emosi, anak dapat belajar bahwa menunjukkan kesedihan merupakan sesuatu yang tidak pantas bagi seorang laki-laki.
Dalam psikologi, fenomena ini berkaitan dengan emotional suppression, yaitu kecenderungan menekan atau menyembunyikan ekspresi emosi.
Seorang anak laki-laki yang terbiasa diminta berhenti menangis mungkin akhirnya belajar menyembunyikan kesedihannya. Ketika dewasa, kebiasaan tersebut dapat terbawa ke dalam berbagai situasi kehidupan.
Ketika mengalami kegagalan, ia memilih diam. Ketika merasa kesepian, ia berpura-pura tidak membutuhkan siapa pun. Ketika menghadapi tekanan pekerjaan, ia berusaha menyelesaikannya sendiri tanpa menceritakan kesulitannya kepada orang lain.
Masalahnya, kemampuan mengendalikan ekspresi emosi tidak selalu sama dengan kemampuan mengelola emosi.
Seseorang mungkin berhasil menyembunyikan kesedihan, tetapi bukan berarti kesedihan tersebut benar-benar hilang.
American Psychological Association (APA) juga menyoroti bahwa penekanan emosi yang kaku dapat berkaitan dengan peningkatan perilaku berisiko dan agresi yang tidak tepat pada sebagian pria.
Dengan kata lain, pria yang terlihat tidak emosional belum tentu memiliki kondisi emosional yang stabil. Bisa jadi, ia hanya tidak terbiasa menunjukkan apa yang sebenarnya dirasakan.
2. Pria Merasa Harus Menyelesaikan Semua Masalah Sendirian
Alasan kedua berkaitan dengan keyakinan bahwa seorang pria harus mampu menghadapi segala kesulitan tanpa bantuan orang lain.
Dalam banyak lingkungan sosial, kemandirian sering dianggap sebagai salah satu ukuran kedewasaan dan kekuatan seorang pria.
Pria diharapkan mampu mencari nafkah, melindungi keluarga, mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, serta tetap berdiri tegak ketika menghadapi kesulitan.
Pada dasarnya, kemandirian merupakan kualitas yang positif. Namun, persoalan muncul ketika kemandirian berubah menjadi tuntutan untuk tidak pernah membutuhkan bantuan.
Dalam psikologi, kecenderungan ini berkaitan dengan self-reliance, yaitu keyakinan bahwa seseorang harus mengandalkan kemampuan dirinya sendiri.
Laporan WHO tahun 2020 menemukan bahwa norma kemandirian yang terlalu kuat dapat menjadi salah satu hambatan bagi pria untuk mencari bantuan ketika menghadapi masalah kesehatan mental.
Sebagian pria bahkan menganggap meminta pertolongan sebagai tanda bahwa dirinya tidak cukup mampu.
Misalnya, seorang pria mengalami tekanan pekerjaan yang berat. Ia mulai sulit tidur, kehilangan motivasi, dan merasa kelelahan secara emosional.
Namun, alih-alih berbicara dengan seseorang atau mencari bantuan profesional, ia terus memaksakan diri.
Pikirannya mungkin dipenuhi kalimat seperti:
"Saya harus bisa mengatasinya sendiri."
"Orang lain juga punya masalah."
"Kalau saya tidak mampu menyelesaikan ini, berarti saya lemah."
Pola pikir tersebut dapat membuat seseorang menunda mendapatkan bantuan yang sebenarnya dibutuhkan.
Padahal, mencari pertolongan bukan berarti kehilangan kemandirian. Justru, mengenali keterbatasan diri dan mengambil langkah yang tepat merupakan bagian dari kedewasaan psikologis.
3. Takut Dianggap Lemah oleh Lingkungan Sosial
Manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan untuk diterima oleh lingkungan sosialnya. Kita ingin dihargai, dianggap mampu, dan dipandang positif oleh orang lain.
Kebutuhan tersebut juga memengaruhi bagaimana pria memperlakukan kesehatan mentalnya.
Bagi sebagian pria, mengakui bahwa dirinya sedang mengalami kecemasan, depresi, atau tekanan emosional dapat menimbulkan ketakutan terhadap penilaian sosial.
Mereka mungkin khawatir dianggap tidak kompeten, kurang tangguh, terlalu sensitif, atau tidak mampu menjalankan tanggung jawab.
Dalam psikologi sosial, kondisi ini berkaitan dengan social stigma, yaitu pelabelan negatif yang diberikan masyarakat terhadap individu atau kelompok tertentu.
Stigma kesehatan mental dapat membuat seseorang merasa malu untuk membicarakan kondisinya.
Bahkan, stigma tersebut bisa berubah menjadi self-stigma, yaitu ketika seseorang mulai mempercayai penilaian negatif masyarakat dan menerapkannya kepada dirinya sendiri.
Sebagai contoh, seorang pria mungkin berpikir bahwa mengalami depresi berarti dirinya gagal menjadi laki-laki yang kuat.
Akibatnya, ia tidak hanya menghadapi masalah emosional, tetapi juga harus berjuang melawan rasa malu karena memiliki masalah tersebut.
Situasi ini semakin rumit ketika lingkungan pertemanannya memiliki pandangan yang sama.
Dalam kelompok yang sangat menekankan ketangguhan, seorang pria mungkin merasa tidak memiliki ruang aman untuk bercerita. Ia khawatir pengakuannya akan dijadikan bahan candaan atau mengubah cara teman-temannya memandang dirinya.
Inilah salah satu alasan mengapa sebagian pria lebih memilih menyimpan masalah daripada mengambil risiko menghadapi penilaian sosial.
Padahal, mengalami gangguan kesehatan mental tidak membuat seseorang kehilangan harga diri, kemampuan, ataupun identitasnya sebagai pria.
4. Tidak Terbiasa Mengenali dan Mengungkapkan Perasaan Sendiri
Tidak semua pria yang mengalami masalah kesehatan mental mampu mengenali apa yang sebenarnya sedang mereka rasakan.
Sebagian mungkin mengetahui bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja, tetapi kesulitan menjelaskan penyebabnya.
Mereka bisa merasa gelisah, mudah marah, kehilangan semangat, atau tidak menikmati aktivitas yang sebelumnya menyenangkan. Namun, ketika ditanya apa masalahnya, mereka hanya menjawab:
"Entahlah, saya cuma capek."
Dalam psikologi, kesulitan mengenali dan menggambarkan emosi berkaitan dengan konsep alexithymia.
Alexithymia bukan sekadar tidak suka membicarakan perasaan. Istilah ini merujuk pada kesulitan dalam mengidentifikasi, memahami, dan mengungkapkan emosi yang dialami.
Kondisi ini dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk pengalaman perkembangan, kebiasaan emosional, dan karakteristik individu. Tidak semua pria mengalaminya, tetapi pola sosialisasi yang membatasi ekspresi emosi dapat membuat sebagian pria kurang terlatih dalam mengenali perasaan.
Bayangkan seorang pria yang mengalami tekanan selama berbulan-bulan.
Ia mulai merasa mudah tersinggung, tidak sabar menghadapi orang lain, kehilangan konsentrasi, dan merasa kosong ketika sendirian.
Namun, karena tidak terbiasa mengidentifikasi emosinya, ia hanya menyimpulkan bahwa dirinya sedang kelelahan atau membutuhkan liburan.
Padahal, kondisi tersebut mungkin merupakan tanda bahwa ia membutuhkan perhatian lebih terhadap kesehatan mentalnya.
Kemampuan mengenali emosi merupakan bagian penting dari regulasi emosi atau emotional regulation.
Ketika seseorang mampu memahami apa yang dirasakan, ia akan lebih mudah menentukan respons yang sesuai.
Sebaliknya, ketika emosi terus diabaikan tanpa dipahami, seseorang bisa kesulitan menemukan cara yang sehat untuk menghadapi tekanan.
5. Menganggap Kesehatan Mental Bukan Prioritas Selama Masih Bisa Bekerja
Bagi sebagian pria, ukuran bahwa dirinya baik-baik saja adalah kemampuannya untuk tetap menjalankan tanggung jawab.
Selama masih bisa bekerja, menghasilkan uang, mengurus keluarga, dan menyelesaikan aktivitas sehari-hari, mereka merasa tidak memiliki alasan untuk mengkhawatirkan kondisi mentalnya.
Pola pikir ini membuat kesehatan mental sering ditempatkan di urutan terakhir.
Bahkan, beberapa pria baru menyadari bahwa dirinya mengalami masalah ketika kondisi tersebut mulai mengganggu pekerjaan, hubungan pribadi, atau kehidupan sehari-hari.
Dalam psikologi, fenomena ini dapat dipahami melalui kecenderungan menormalisasi tekanan atau normalization of distress.
Seseorang terbiasa menghadapi stres dalam waktu lama hingga menganggap kondisi tersebut sebagai bagian biasa dari kehidupannya.
Misalnya, seorang pria bekerja dengan jam kerja berlebihan selama bertahun-tahun.
Ia sering merasa lelah, kehilangan waktu istirahat, sulit menikmati kehidupan pribadi, dan terus memikirkan pekerjaan bahkan ketika berada di rumah.
Namun, ia menganggap semua itu sebagai konsekuensi menjadi orang dewasa.
Padahal, stres yang berlangsung terus-menerus dapat berdampak pada kesejahteraan psikologis maupun fisik.
Selain itu, tekanan untuk menjadi pencari nafkah juga dapat membuat sebagian pria merasa tidak memiliki pilihan selain terus bekerja.
Mereka mungkin takut kehilangan pekerjaan, mengecewakan keluarga, atau dianggap gagal apabila mengurangi aktivitas demi menjaga kesehatan dirinya.
WHO juga menyoroti bahwa ketidakamanan ekonomi, ketimpangan, dan keterbatasan akses layanan kesehatan dapat memperburuk tantangan kesehatan mental pada pria.
Artinya, persoalan kesehatan mental tidak selalu berkaitan dengan kemauan seseorang untuk merawat dirinya. Ada pula kondisi sosial dan ekonomi yang membuat upaya tersebut menjadi lebih sulit.
6. Mengira Masalah Emosional Hanya Berupa Kesedihan atau Menangis
Salah satu kesalahpahaman yang cukup umum adalah anggapan bahwa seseorang yang mengalami depresi pasti terlihat sedih, sering menangis, dan selalu menunjukkan ekspresi murung.
Padahal, pengalaman gangguan kesehatan mental tidak selalu terlihat dengan cara yang sama pada setiap individu.
Pada sebagian pria, tekanan psikologis dapat muncul melalui gejala yang berbeda, misalnya:
Mudah marah atau tersinggung.
Menarik diri dari lingkungan sosial.
Kehilangan minat terhadap hobi.
Mengonsumsi alkohol secara berlebihan.
Mengambil risiko tanpa mempertimbangkan konsekuensi.
Bekerja secara berlebihan untuk menghindari masalah pribadi.
Mengalami gangguan tidur dan kelelahan berkepanjangan.
Penelitian mengenai hubungan maskulinitas dan depresi menunjukkan bahwa norma maskulinitas tertentu dapat memengaruhi cara pria mengenali serta mengekspresikan gejala depresi.
Sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan dalam Clinical Psychology Review pada 2016, berjudul The Role of Masculinity in Men's Help-Seeking for Depression, menganalisis 37 penelitian.
Hasilnya menunjukkan bahwa norma maskulinitas dapat memengaruhi tiga aspek penting: bagaimana pria mengalami dan mengekspresikan gejala depresi, bagaimana mereka mencari bantuan, serta bagaimana mereka mengelola gejala tersebut.
Dengan demikian, seorang pria yang mudah marah belum tentu hanya memiliki masalah temperamen.
Bisa jadi, kemarahan tersebut berkaitan dengan tekanan psikologis yang belum dikenali atau ditangani.
Begitu pula dengan pria yang terus menyibukkan diri, menghindari interaksi sosial, atau mencari pelarian melalui perilaku berisiko.
Tentu saja, perilaku tersebut tidak otomatis berarti seseorang mengalami depresi. Namun, apabila berlangsung terus-menerus dan disertai perubahan fungsi kehidupan, kondisi tersebut layak mendapatkan perhatian.
Memahami variasi ekspresi masalah mental sangat penting agar pria tidak terlambat mengenali bahwa dirinya membutuhkan bantuan.
7. Tidak Tahu Harus Memulai dari Mana untuk Mendapatkan Bantuan
Alasan terakhir adalah kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan mental dan akses terhadap bantuan profesional.
Sebagian pria mungkin sudah menyadari bahwa dirinya mengalami masalah emosional, tetapi tidak mengetahui langkah apa yang harus dilakukan.
Mereka mungkin bertanya-tanya:
"Apakah saya harus menemui psikolog?"
"Apakah masalah saya cukup serius untuk dibicarakan dengan profesional?"
"Bagaimana kalau orang lain mengetahui bahwa saya sedang menjalani terapi?"
"Apakah saya harus menceritakan semua masalah pribadi saya?"
Ketidakpastian tersebut dapat membuat seseorang terus menunda mencari bantuan.
Dalam psikologi kesehatan, hal ini berkaitan dengan mental health literacy, yaitu pengetahuan dan pemahaman seseorang mengenai kesehatan mental, termasuk kemampuan mengenali gangguan, mengetahui pilihan pertolongan, serta memahami cara memperoleh bantuan.
Ketika literasi kesehatan mental rendah, seseorang mungkin tidak mampu membedakan stres sementara dengan masalah psikologis yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Selain itu, masih terdapat anggapan bahwa psikolog hanya dibutuhkan oleh orang yang mengalami gangguan mental berat.
Padahal, layanan psikologis juga dapat membantu seseorang memahami dirinya, mengelola stres, memperbaiki hubungan interpersonal, dan menghadapi berbagai perubahan kehidupan.
Ada pula hambatan praktis seperti biaya konsultasi, keterbatasan fasilitas kesehatan mental, jarak layanan, waktu, serta kekhawatiran terhadap kerahasiaan.
Karena itu, rendahnya keinginan mencari bantuan tidak selalu disebabkan oleh sikap pribadi. Lingkungan dan sistem layanan kesehatan juga memiliki peran penting.
Kabar baiknya, mencari bantuan tidak harus dimulai dengan langkah yang besar.
Seseorang dapat memulainya dengan berbicara kepada orang yang dipercaya, menghubungi psikolog, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, atau mencari informasi dari sumber kesehatan mental yang kredibel.
Yang terpenting adalah tidak terus-menerus mengabaikan kondisi diri sendiri.
Mengapa Pria Perlu Mulai Menganggap Kesehatan Mental sebagai Prioritas?
Dari ketujuh alasan tersebut, terlihat bahwa kecenderungan pria mengabaikan kesehatan mental bukanlah fenomena sederhana.
Ada pengaruh pola asuh, norma sosial, tuntutan maskulinitas, stigma, kebiasaan mengelola emosi, hingga keterbatasan akses layanan kesehatan.
Namun, satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa menjadi pria yang kuat tidak berarti harus selalu mampu menghadapi segala sesuatu sendirian.
Kekuatan tidak harus diwujudkan dengan menyembunyikan kesedihan, menolak bantuan, atau berpura-pura tidak memiliki masalah.
Justru, kemampuan mengenali emosi, mengakui keterbatasan, dan mengambil langkah untuk memperbaiki keadaan merupakan bagian dari kesehatan psikologis yang baik.
Pria juga perlu memahami bahwa menjaga kesehatan mental bukan tindakan egois.
Seseorang yang mampu menjaga kondisi psikologisnya akan memiliki kesempatan lebih baik untuk membangun hubungan yang sehat, mengambil keputusan dengan lebih bijaksana, serta menjalankan tanggung jawab secara lebih seimbang.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
Belajar mengenali emosi. Jangan hanya mengatakan sedang lelah. Cobalah memahami apakah yang dirasakan sebenarnya adalah kecewa, takut, cemas, marah, atau kesepian.
Berani bercerita kepada orang yang dipercaya. Tidak semua masalah harus disimpan sendiri.
Mengurangi kebiasaan memendam masalah. Berikan ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat dan memproses pengalaman emosional.
Membangun hubungan sosial yang sehat. Memiliki teman atau keluarga yang bisa menjadi tempat bercerita merupakan salah satu sumber dukungan emosional.
Mencari bantuan profesional ketika diperlukan. Psikolog dan tenaga kesehatan mental dapat membantu memahami serta menangani masalah yang dialami.
Menghentikan anggapan bahwa meminta bantuan adalah kelemahan. Tidak ada yang salah dengan membutuhkan dukungan dari orang lain.
Apabila seseorang mengalami kesulitan emosional yang menetap, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri, bantuan profesional perlu dicari sesegera mungkin.
Kesimpulan
Begitu banyak pria mengabaikan kesehatan mental bukan karena mereka tidak memiliki perasaan, melainkan karena sebagian dari mereka tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan bahwa perasaan harus disembunyikan.
Mereka terbiasa menjadi sosok yang kuat, mandiri, tidak banyak mengeluh, dan selalu mampu menyelesaikan masalah.
Namun, ketika tuntutan tersebut berubah menjadi kewajiban untuk tidak pernah terlihat rapuh, kesehatan mental justru bisa menjadi korban.
Psikologi menunjukkan bahwa norma maskulinitas yang terlalu kaku dapat menghambat kemampuan pria untuk mengenali emosi, mengungkapkan kesulitan, dan mencari pertolongan.
Sudah saatnya masyarakat mengubah cara pandang terhadap kesehatan mental pria.
Menangis bukan berarti gagal menjadi laki-laki. Bercerita bukan berarti tidak mandiri. Dan menemui psikolog bukan berarti seseorang tidak mampu menghadapi kehidupan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Netty Pergi, Jenderal Ditangkap: Ketika Riset Doktoral Membaca Kerusakan Polri dari Dalam
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Akhirnya Minta Maaf Usai Digeruduk Petarung MMA karena Hina UAH dan UAS
Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Mahasiswa Trisakti Geruduk Kantor Setneg Siang Ini, Tagih Janji Pemerintah soal Tritura
Prediksi Skor Lillestrom SK vs Viktoria Plzen di Liga Europa: Duel Berpotensi Berjalan Terbuka
Prediksi Skor PSIM vs Dewa United di BRI Super League: Laskar Mataram Berpeluang Beri Kejutan!
Blunder Berujung Gol, Fitrah Maulana Ungkap Perasaannya Usai Persib Menang
Upaya Restorasi 325 Hektare Hutan di TNGHS untuk Jaga Habitat Macan Tutul Jawa
Prediksi Skor Lion City Sailors vs Adelaide United di ACL Two: Tuan Rumah Diunggulkan Menang Lagi

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022