Mungkin, sebagian orang menganggap itu wajar, namun sebagian yang lain merasa terganggu, karena rasa malu bisa melumpuhkan hingga menghalangi untuk berpartisipasi dalam situasi sosial yang penting, baik untuk tujuan pribadi maupun profesional.
Padahal, sebenarnya orang yang pemalu pun ingin menjalin kedekatan dengan orang lain.
Hanya saja perasaan takut ditolak atau dikritik lebih besar, sehingga cenderung memilih menghindari acara sosial yang sebenarnya ingin mereka hadiri.
Ini membuat mereka kesepian dan terisolasi hingga meningkatkan risiko depresi atau kecemasan.
Penelitian menunjukkan, rasa malu dipelihara oleh siklus yang terus berulang, seseorang menghadapi situasi sosial, merasa ketakutan berlebihan akan penilaian negatif, lalu menghindari situasi tersebut.
Awalnya memang memberikan rasa lega, tapi sering kali berujung pada perasaan malu dan menyalahkan diri sendiri.
Kemudian, emosi negatif tersebut berubah menjadi kemarahan dan sikap menyalahkan orang lain.
Akhirnya, orang lain dianggap tidak pengertian atau tidak suportif.
Ini semakin memperkuat keinginan untuk menghindari orang-orang.
Sebelum itu terjadi, mari berlatih bersama mengatasi rasa malu tersebut dengan empat cara berikut ini yang dilansir JawaPos.com dari psychologytoday pada Senin (19/10).
1. Rencanakan agar Segalanya Berjalan Lancar
Mungkin, introvert sering dikaitkan dengan sifat pendiam dan tertutup.
Tapi, ini berbeda, rasa malu ditandai dengan kecenderungan kuat untuk melebih-lebihkan kemungkinan mendapat penilaian negatif.
Ada ketakutan luar biasa bahwa orang lain akan menilai diri mereka secara negatif.
Akibatnya, dalam situasi sosial, mereka lebih banyak memikirkan cara agar tidak melakukan kesalahan daripada cara melakukan sesuatu dengan tepat.
Salah satu cara untuk mengatasinya, luangkan lebih banyak waktu untuk memikirkan apa yang bisa dilakukan supaya situasi berjalan sukses.
Jika terlalu khawatir untuk melakukan perbincangan santai, maka ajukanlah beberapa pertanyaan pada diri sendiri yang dapat membantu untuk menemukan topik menarik, misalnya, peristiwa terkini, apa yang sedang terjadi dalam hidup yang nyaman untuk diceritakan, atau apa kesamaan yang dimiliki dengan orang-orang yang hadir di sana.
Tanamkan juga dalam pikiran bahwa menghadapi ketakutan secara langsung adalah cara terbaik untuk mengatasinya.
Namun, penting juga untuk merasa memegang kendali.
Jadi, jika harus keluar dari situasi, maka tidak ada perasaan terjebak di dalamnya.
2. Tumbuhkan Rasa Ingin Tahu terhadap Orang Lain
Dalam situasi sosial, cobalah untuk mengalihkan fokus dari diri sendiri.
Sebaliknya, fokuslah untuk menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap orang lain, tentang siapa, mengapa berada di sana, apa minat dan hobinya.
Hal tersebut akan memberikan sesuatu yang berbeda untuk difokuskan sekaligus membantu untuk memulai percakapan.
Pada dasarnya, setiap orang memiliki cerita untuk dibagikan.
Jadi, cari tahu apa cerita itu, lalu duduklah dengan santai dan dengarkan.
Orang-orang senang membicarakan diri sendiri dan cara untuk menjadi sosok yang paling menarik di ruangan adalah dengan menganggap orang lain menarik terlebih dahulu.
3. Berikan Diri sebuah Peran
Memiliki peran memberikan tujuan serta pedoman mengenai bagaimana sebaiknya bersikap.
Di lingkungan manapun, kebanyakan orang ingin merasa disukai dan diterima.
Jadi, supaya situasi berjalan lancar, tentukan peran bagi diri sendiri, seperti 'tugas saya adalah membantu orang lain merasa menarik atau disukai' atau 'tugas saya adalah membuat orang lain merasa disambut dengan hangat'.
4. Lembutkan Dialog Batin
Orang yang pemalu sering kali sangat kritis terhadap diri sendiri.
Dialog batin mereka biasanya sangat keras dan berisi hal-hal yang tidak akan pernah diucapkan kepada orang lain.
Perlu diketahui, saat menghakimi diri sendiri dengan keras, maka ada kecenderungan bahwa orang lain juga akan menghakimi dengan cara yang sama.
Suara kritis dalam diri juga dapat menyebabkan banyak dampak emosional negatif, serta merenggut ketenangan pikiran dan rasa percaya diri.
Jadi, cara terbaik untuk mengalahkan suara kritis tersebut, yaitu dengan memiliki suara batin positif yang lebih kuat yang berperan sebagai sahabat terbaik bagi diri sendiri.
Mulailah menyadari hal-hal baik tentang diri sendiri dan belajar untuk 'menjawab' suara kritis tersebut.
Jika suara kritis mulai mengatakan bahwa tidak akan ada orang yang menyukai Anda, ingatkan diri sendiri bahwa yang paling penting adalah Anda menyukai diri Anda sendiri.
Dengan belajar berbicara kepada diri sendiri secara lebih ramah dan lembut, situasi sosial tidak akan lagi memiliki kekuatan besar untuk menyakiti, karena tidak ada lagi penghukuman untuk diri sendiri.***