Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 24 September 2026 | 03.09 WIB

Jika Kamu Sedang di Masa Penuh Tekanan tetapi Harus Menjadi Pemimpin yang Baik, Lakukan 6 Cara Ini

seseorang yang berusaha memimpin meski sedang penuh tekanan / foto: Magnific/magnific

 

JawaPos.com - Menjadi pemimpin tidak selalu berarti memiliki semua jawaban.

Ada masa ketika seseorang yang berada di posisi memimpin justru sedang menghadapi masalah besar dalam kehidupannya sendiri. Pekerjaan menumpuk, keputusan harus segera dibuat, banyak orang bergantung kepadanya, sementara di dalam dirinya sendiri mungkin sedang muncul rasa lelah, cemas, kecewa, atau bahkan kehilangan arah.

Namun, tanggung jawab tetap berjalan.

Orang-orang tetap membutuhkan arahan. Tim tetap harus bekerja. Keputusan tetap harus diambil. Dan seorang pemimpin sering kali merasa tidak memiliki ruang untuk berkata, "Saya juga sedang tidak baik-baik saja."

Di sinilah kepemimpinan menjadi jauh lebih sulit.

Tekanan yang terus-menerus dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, mengendalikan emosi, berkomunikasi, dan mengambil keputusan. Dalam kondisi tertekan, seseorang bisa menjadi lebih mudah tersinggung, terlalu defensif, sulit berkonsentrasi, atau justru menarik diri dari orang-orang yang sebenarnya membutuhkan kehadirannya.

Psikologi kepemimpinan menunjukkan bahwa menjadi pemimpin yang baik bukan berarti tidak pernah mengalami tekanan. Justru yang lebih penting adalah bagaimana seseorang mengelola dirinya ketika tekanan tersebut datang.

Kamu tidak harus terlihat selalu kuat.

Kamu hanya perlu belajar agar tekanan yang sedang kamu alami tidak mengambil alih cara kamu memperlakukan orang lain dan membuat keputusan.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (23/9), terdapat enam cara yang dapat membantu.

1. Jangan mengambil keputusan besar ketika emosimu sedang berada di titik tertinggi

Ketika sedang berada dalam tekanan, otak cenderung mencari jalan tercepat untuk mengurangi ketidaknyamanan.

Masalahnya, keputusan yang terasa paling melegakan saat itu belum tentu merupakan keputusan yang paling tepat.

Misalnya, seorang pemimpin mendapat kritik dari anggota tim. Karena sedang lelah dan stres, ia langsung membalas dengan nada keras. Beberapa menit kemudian mungkin ia merasa lega karena sudah "melawan". Tetapi setelah emosinya turun, ia bisa menyadari bahwa respons tersebut justru memperburuk hubungan dan tidak menyelesaikan masalah.

Karena itu, salah satu kemampuan penting dalam kepemimpinan adalah memberikan jarak antara emosi dan tindakan.

Bukan berarti kamu harus mengabaikan emosi.

Justru sebaliknya, kamu perlu menyadarinya.

Ketika merasa marah, kecewa, takut, atau sangat tertekan, coba katakan kepada diri sendiri:

"Saya sedang sangat emosional. Saya tidak harus menyelesaikan semuanya dalam lima menit ini."

Berikan waktu bagi tubuh dan pikiran untuk kembali lebih stabil.

Tarik napas perlahan. Berjalan sebentar. Minum air. Tunda respons jika situasinya memungkinkan. Tulis terlebih dahulu apa yang ingin kamu katakan sebelum benar-benar mengatakannya.

Dalam situasi tertentu, kalimat sederhana seperti:

"Saya ingin memikirkan ini terlebih dahulu sebelum memberikan keputusan."

justru dapat menjadi tanda kedewasaan seorang pemimpin.

Pemimpin yang baik bukan orang yang selalu cepat mengambil keputusan.

Ia adalah orang yang mampu membedakan antara keputusan yang memang mendesak dan keputusan yang sebenarnya bisa menunggu sampai emosinya lebih stabil.

2. Akui bahwa kamu sedang berada di bawah tekanan tanpa menjadikan tim sebagai tempat pelampiasan

Ada anggapan bahwa pemimpin harus selalu terlihat kuat.

Padahal, berpura-pura baik-baik saja ketika sebenarnya sedang kewalahan dapat membuat seseorang semakin terisolasi.

Keterbukaan yang sehat justru dapat membantu menciptakan hubungan yang lebih manusiawi dengan tim.

Misalnya, daripada tiba-tiba menjadi dingin dan mudah marah, seorang pemimpin bisa mengatakan:

"Beberapa hari terakhir saya sedang menghadapi banyak hal dan mungkin energi saya tidak seperti biasanya. Saya tetap akan berusaha menjalankan tanggung jawab dengan baik, tetapi kalau saya terlihat lebih pendiam, bukan berarti saya sedang marah kepada kalian."

Pernyataan seperti ini berbeda dengan menjadikan bawahan sebagai tempat mencurahkan semua persoalan pribadi.

Ada batas yang tetap perlu dijaga.

Terbuka bukan berarti menumpahkan semuanya.

Seorang pemimpin dapat mengakui bahwa dirinya sedang mengalami masa sulit tanpa membebani tim dengan seluruh persoalan pribadinya.

Ini juga dapat membantu anggota tim memahami perubahan perilaku yang mungkin mereka lihat.

Daripada mereka menebak-nebak:

"Apakah bos sedang marah kepada saya?"

mereka mendapatkan konteks yang lebih jelas.

Kepemimpinan yang sehat bukan tentang menciptakan citra bahwa pemimpin tidak pernah lemah.

Kepemimpinan yang sehat adalah kemampuan untuk tetap bertanggung jawab sambil mengakui bahwa pemimpin juga manusia.

3. Pisahkan masalah pribadi dari cara kamu memperlakukan orang lain

Salah satu tantangan terbesar ketika sedang mengalami tekanan adalah menjaga agar masalah pribadi tidak bocor ke dalam hubungan profesional.

Ketika seseorang sedang memiliki masalah besar di rumah, misalnya, hal kecil di tempat kerja bisa terasa jauh lebih mengganggu daripada biasanya.

Email yang terlambat dibalas terasa seperti bentuk ketidakpedulian.

Kesalahan kecil anggota tim terasa seperti ketidakmampuan.

Pertanyaan sederhana terasa seperti gangguan.

Padahal, masalah sebenarnya mungkin bukan sebesar itu.

Karena itu, ketika kamu merasakan reaksi emosional yang terlalu kuat terhadap suatu kejadian, cobalah berhenti sejenak dan bertanya:

"Apakah saya benar-benar marah karena masalah ini, atau karena saya sedang membawa tekanan lain?"

Pertanyaan tersebut dapat membantu memisahkan pemicu dari sumber tekanan yang sebenarnya.

Misalnya, seorang anggota tim melakukan kesalahan kecil.

Daripada langsung berkata:

"Berapa kali saya harus menjelaskan hal yang sama?"

cobalah kembali ke fakta:

"Bagian mana yang mengalami kesalahan dan bagaimana kita bisa memperbaikinya?"

Perbedaannya sederhana, tetapi dampaknya besar.

Kamu tetap bisa tegas tanpa menjadi kasar.

Kamu tetap bisa memberikan kritik tanpa merendahkan.

Kamu tetap bisa menetapkan standar tanpa menjadikan orang lain sebagai sasaran frustrasi.

Ingat, orang-orang yang bekerja bersamamu tidak selalu tahu apa yang sedang kamu hadapi.

Mereka tidak seharusnya menerima kemarahan yang sebenarnya berasal dari masalah lain.

4. Kurangi kebutuhan untuk mengendalikan semuanya

Ketika seseorang berada dalam tekanan, keinginan untuk mengendalikan keadaan sering kali meningkat.

Ia ingin mengetahui semuanya.

Ia ingin semua pekerjaan dilakukan sesuai caranya.

Ia ingin semua orang bergerak sesuai rencananya.

Ia mungkin mulai memeriksa pekerjaan orang lain secara berlebihan karena merasa jika tidak mengawasi semuanya, keadaan akan menjadi kacau.

Namun, semakin besar tekanan, semakin penting bagi seorang pemimpin untuk memahami batas kendalinya.

Tidak semua hal dapat kamu kontrol.

Kamu tidak dapat mengontrol bagaimana orang lain berpikir.

Kamu tidak dapat mengontrol semua kemungkinan yang akan terjadi.

Kamu tidak dapat menghilangkan seluruh risiko.

Dan kamu tidak mungkin melakukan semua pekerjaan sendiri.

Yang dapat kamu kontrol adalah bagaimana kamu merespons keadaan, bagaimana kamu berkomunikasi, bagaimana kamu menentukan prioritas, dan bagaimana kamu memperlakukan orang lain.

Karena itu, ketika pekerjaan terasa terlalu banyak, cobalah membaginya menjadi tiga kategori:

Apa yang harus saya lakukan sendiri?

Apa yang bisa saya delegasikan?

Apa yang sebenarnya tidak perlu saya lakukan sekarang?

Pertanyaan ketiga sering kali dilupakan.

Tidak semua hal yang terasa penting benar-benar mendesak.

Seorang pemimpin yang terus mencoba mengendalikan semuanya pada akhirnya dapat mengalami kelelahan yang semakin berat.

Sebaliknya, mendelegasikan pekerjaan bukan berarti kehilangan kendali.

Justru, delegasi yang sehat merupakan bagian dari kepemimpinan.

Kamu memberikan tanggung jawab kepada orang lain sekaligus memberi mereka kesempatan untuk berkembang.

5. Buat ruang kecil untuk memulihkan diri, bukan menunggu sampai benar-benar hancur

Banyak orang baru berusaha beristirahat setelah tubuh dan pikirannya sudah benar-benar kehabisan tenaga.

Padahal, pemulihan seharusnya bukan hanya dilakukan ketika seseorang sudah mencapai batas.

Jika kamu sedang memimpin orang lain, menjaga kondisi dirimu bukan tindakan egois.

Itu bagian dari tanggung jawab.

Bayangkan sebuah kendaraan yang terus digunakan tanpa pernah diisi bahan bakar atau dirawat.

Pada akhirnya kendaraan tersebut akan berhenti.

Manusia juga memiliki batas.

Ketika sedang berada dalam masa penuh tekanan, mungkin kamu tidak memiliki kesempatan untuk berlibur panjang. Tetapi kamu masih bisa menciptakan ruang kecil untuk memulihkan diri.

Misalnya:

tidur dengan jadwal yang lebih teratur,
mengambil jeda singkat di antara pekerjaan,
berjalan kaki beberapa menit,
mengurangi paparan notifikasi ketika sedang beristirahat,
melakukan aktivitas yang membuat pikiran tidak terus berada dalam mode pekerjaan,
berbicara dengan seseorang yang kamu percaya,
atau menyediakan waktu tanpa tuntutan untuk sekadar diam dan berpikir.

Pemulihan tidak selalu harus spektakuler.

Kadang-kadang yang dibutuhkan hanyalah beberapa menit tanpa rapat, tanpa notifikasi, dan tanpa tuntutan untuk menjadi orang yang selalu tersedia.

Ketika kondisi psikologis lebih terjaga, kemampuan seseorang untuk mengatur emosi, berpikir jernih, dan berinteraksi dengan orang lain juga cenderung lebih baik.

Jadi, jangan menunggu sampai kamu benar-benar hancur untuk mulai menjaga diri.

6. Ingat bahwa menjadi pemimpin bukan berarti harus menghadapi semuanya sendirian

Ini mungkin salah satu pelajaran paling penting.

Ada perbedaan antara mandiri dan mengisolasi diri.

Mandiri berarti mampu menjalankan tanggung jawab.

Mengisolasi diri berarti merasa bahwa tidak ada orang lain yang boleh mengetahui bahwa kamu sedang kesulitan.

Padahal, bahkan orang yang memiliki tanggung jawab besar tetap membutuhkan dukungan.

Kamu mungkin membutuhkan teman untuk mendengarkan.

Kamu mungkin membutuhkan mentor untuk memberikan perspektif.

Kamu mungkin membutuhkan pasangan atau keluarga untuk menjadi tempat pulang.

Dalam kondisi tekanan yang berkepanjangan, bantuan profesional juga dapat menjadi pilihan yang masuk akal.

Meminta bantuan bukan berarti gagal menjadi pemimpin.

Justru, kesadaran bahwa kamu membutuhkan bantuan merupakan bentuk kesadaran diri.

Seorang pemimpin tidak harus menjadi orang yang paling kuat di ruangan.

Ia bisa menjadi orang yang mampu mengatakan:

"Saya tidak bisa menyelesaikan semuanya sendirian."

Kalimat tersebut bukan tanda kelemahan.

Dalam banyak situasi, itu adalah awal dari penyelesaian masalah yang lebih sehat.

Pada akhirnya, pemimpin juga manusia

Ada masa ketika kamu harus membuat keputusan meskipun sedang lelah.

Ada masa ketika orang lain membutuhkan ketenanganmu sementara di dalam dirimu sendiri sedang terjadi kekacauan.

Ada masa ketika kamu harus tetap datang bekerja meskipun pikiranmu sedang penuh.

Tetapi menjadi pemimpin yang baik tidak berarti memaksa diri untuk selalu terlihat sempurna.

Kepemimpinan yang sehat justru membutuhkan kemampuan untuk mengenali kondisi diri sendiri.

Ketika sedang tertekan, berhenti sejenak sebelum bereaksi.

Ketika sedang kewalahan, berani mengatakan bahwa kamu membutuhkan ruang.

Ketika terlalu banyak pekerjaan, belajar mendelegasikan.

Ketika emosimu tinggi, jangan terburu-buru mengambil keputusan besar.

Ketika tubuh dan pikiran mulai kelelahan, berikan kesempatan untuk pulih.

Dan ketika semuanya terasa terlalu berat, jangan merasa harus menghadapi semuanya sendirian.

Karena pada akhirnya, pemimpin yang baik bukanlah orang yang tidak pernah mengalami tekanan.

Pemimpin yang baik adalah orang yang belajar mengelola tekanannya sehingga tekanan tersebut tidak membuatnya kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih, memperlakukan orang lain dengan hormat, dan tetap menjalankan tanggung jawabnya.

Kamu boleh lelah.

Kamu boleh mengakui bahwa keadaan sedang sulit.

Kamu boleh meminta bantuan.

Yang penting, jangan biarkan masa sulit membuatmu lupa bahwa orang-orang yang kamu pimpin juga manusia—dan dirimu sendiri juga demikian.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore