Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 September 2026 | 21.17 WIB

6 Alasan Mengapa Begitu Sulit untuk Mengubah Diri, Bahkan Saat Kamu Sangat Menginginkannya

seseorang yang berusaha mengubah diri / foto: Magnific/karlyukav

 

JawaPos.com - Pernahkah kamu berkata kepada diri sendiri, “Aku benar-benar ingin berubah kali ini”?

Kamu mungkin ingin menjadi lebih disiplin, berhenti menunda pekerjaan, mengurangi penggunaan media sosial, lebih percaya diri, mengendalikan emosi, berhenti kembali kepada kebiasaan buruk, atau menjadi seseorang yang lebih tenang dan konsisten.

Kamu tahu apa yang harus dilakukan.

Kamu bahkan mungkin sudah berkali-kali berjanji kepada diri sendiri.

Namun setelah beberapa hari atau beberapa minggu, semuanya kembali seperti semula.

Pada titik tertentu, kamu mungkin mulai berpikir:

“Kenapa aku seperti ini?”

“Kenapa aku tahu apa yang salah, tetapi tetap melakukannya?”

“Apakah aku sebenarnya tidak cukup kuat untuk berubah?”

Menurut psikologi, kesulitan mengubah diri bukan selalu karena kamu malas, lemah, atau tidak sungguh-sungguh menginginkannya. Manusia memang memiliki kecenderungan psikologis yang membuat perubahan menjadi jauh lebih sulit daripada sekadar mengambil keputusan.

Keinginan untuk berubah dan kemampuan untuk mempertahankan perubahan adalah dua hal yang berbeda.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (3/9), terdapat enam alasan mengapa perubahan diri bisa terasa begitu sulit, bahkan ketika keinginan untuk berubah terasa sangat kuat.

1. Otak Lebih Menyukai Hal yang Sudah Dikenal

Salah satu alasan paling mendasar mengapa perubahan terasa sulit adalah karena otak manusia cenderung menyukai sesuatu yang familiar.

Kebiasaan memberikan prediktabilitas.

Ketika kamu melakukan sesuatu berulang kali, otak tidak perlu bekerja terlalu keras untuk memprosesnya. Perilaku tersebut perlahan menjadi otomatis.

Misalnya, kamu terbiasa memeriksa ponsel segera setelah bangun tidur.

Pada awalnya, mungkin kamu sengaja mengambil ponsel.

Lama-kelamaan, kamu tidak perlu membuat keputusan sadar lagi. Tanganmu seolah bergerak sendiri.

Hal yang sama dapat terjadi pada kebiasaan menunda pekerjaan, makan ketika stres, tidur terlalu larut, menghindari percakapan sulit, atau mencari validasi dari orang lain.

Semakin sering sebuah perilaku dilakukan dalam konteks tertentu, semakin kuat hubungan antara situasi dan respons tersebut.

Inilah salah satu alasan mengapa seseorang bisa melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ia inginkan.

Bukan karena ia tidak tahu bahwa perilaku tersebut buruk.

Melainkan karena perilaku itu sudah menjadi pola yang sangat familiar.

Familiar bukan berarti baik

Ada sebuah kesalahpahaman bahwa jika sesuatu terasa nyaman, berarti sesuatu itu baik untuk kita.

Padahal tidak selalu demikian.

Sesuatu bisa terasa nyaman hanya karena kita sudah terbiasa dengannya.

Bahkan kebiasaan yang merugikan dapat memberikan rasa aman karena sudah dikenal.

Sebaliknya, perubahan sering kali terasa tidak nyaman justru karena belum dikenal.

Orang yang terbiasa diam mungkin merasa sangat canggung ketika mulai berbicara.

Orang yang terbiasa menghindari konflik mungkin merasa sangat takut ketika mulai menetapkan batasan.

Orang yang terbiasa menunda mungkin merasa gelisah ketika mencoba menyelesaikan pekerjaan lebih awal.

Jadi, ketika kamu mulai berubah dan merasa tidak nyaman, itu tidak selalu berarti kamu berada di jalan yang salah.

Kadang-kadang, ketidaknyamanan tersebut merupakan bagian normal dari meninggalkan pola lama.

Otak menyukai yang familiar. Perubahan memaksamu memasuki sesuatu yang belum familiar.

Dan itulah sebab pertama mengapa perubahan membutuhkan waktu.

2. Kamu Sedang Melawan Kebiasaan, Bukan Sekadar Membuat Keputusan

Banyak orang menganggap perubahan sebagai masalah kemauan.

Mereka berpikir:

“Kalau aku benar-benar ingin berubah, aku tinggal melakukannya.”

Masalahnya, perilaku manusia tidak hanya ditentukan oleh keputusan sadar.

Kebiasaan biasanya terbentuk melalui pola yang berulang.

Sebuah situasi tertentu dapat memicu dorongan, kemudian muncul perilaku tertentu, dan perilaku tersebut memberikan suatu konsekuensi atau rasa tertentu.

Contohnya:

Stres → membuka media sosial → mendapatkan distraksi → merasa sedikit lebih lega.

Atau:

Merasa tidak percaya diri → menghindari kesempatan → merasa aman untuk sementara → semakin yakin bahwa dirinya tidak mampu.

Perhatikan sesuatu yang penting di sini.

Kebiasaan sering kali bertahan karena memberikan reward tertentu, meskipun reward tersebut hanya bersifat sementara.

Menunda pekerjaan mungkin membuatmu merasa lega karena untuk sementara kamu tidak perlu menghadapi tekanan.

Menghindari percakapan sulit mungkin membuatmu merasa aman.

Bermain game atau scrolling mungkin membuatmu melupakan masalah untuk beberapa saat.

Jadi, ketika kamu mencoba menghilangkan kebiasaan tersebut, kamu bukan hanya kehilangan perilakunya.

Kamu juga kehilangan fungsi psikologis yang selama ini diberikan oleh perilaku tersebut.

Inilah mengapa mengatakan “Aku harus berhenti melakukan ini” sering kali tidak cukup.

Kamu perlu memahami:

“Sebenarnya, kebutuhan apa yang sedang dipenuhi oleh kebiasaan ini?”

Jika scrolling digunakan untuk menghilangkan stres, kamu mungkin perlu menemukan cara lain untuk mengatur stres.

Jika menunda digunakan untuk menghindari rasa takut gagal, kamu perlu belajar menghadapi rasa takut tersebut.

Jika mencari validasi digunakan untuk membuatmu merasa berharga, kamu perlu membangun sumber penghargaan diri yang tidak sepenuhnya bergantung pada orang lain.

Perubahan yang bertahan lama biasanya bukan sekadar menghapus kebiasaan lama.

Melainkan mengganti fungsi kebiasaan tersebut dengan respons yang lebih sehat.

3. Kamu Mungkin Ingin Hasil Baru, Tetapi Masih Mempertahankan Identitas Lama

Ini adalah salah satu bagian perubahan yang sering tidak disadari.

Manusia bukan hanya memiliki kebiasaan.

Kita juga memiliki identitas.

Kita memiliki cerita tentang siapa diri kita.

Misalnya:

“Aku memang orang yang malas.”

“Aku tidak pernah konsisten.”

“Aku memang pemalu.”

“Aku selalu gagal dalam hal seperti ini.”

“Aku bukan orang yang disiplin.”

Kalimat-kalimat tersebut mungkin terdengar seperti deskripsi sederhana.

Namun ketika terus diulang, ia dapat menjadi bagian dari cara seseorang melihat dirinya sendiri.

Dan manusia cenderung berperilaku dengan cara yang konsisten dengan gambaran dirinya.

Bayangkan seseorang yang selama bertahun-tahun menganggap dirinya sebagai orang yang tidak disiplin.

Suatu hari ia membuat jadwal baru.

Hari pertama berjalan baik.

Hari kedua juga.

Namun ketika ia gagal menjalankan jadwal pada hari ketiga, pikirannya mungkin berkata:

“Nah, benar kan? Aku memang tidak bisa konsisten.”

Satu kesalahan kemudian digunakan sebagai bukti bahwa identitas lama benar.

Akhirnya, ia kembali ke pola sebelumnya.

Masalahnya bukan hanya pada jadwal.

Masalahnya ada pada konflik antara perilaku baru dan identitas lama.

Perubahan sering kali membutuhkan identitas baru

Daripada mengatakan:

“Aku sedang mencoba menjadi orang yang disiplin.”

Kamu dapat mulai membangun perspektif:

“Aku adalah orang yang belajar menepati komitmen kepada dirinya sendiri.”

Perbedaannya tampak kecil.

Tetapi secara psikologis, identitas yang baru membuat perilaku baru terasa lebih masuk akal.

Kamu tidak perlu langsung menjadi versi ideal dari dirimu.

Cukup mulai mengumpulkan bukti kecil bahwa kamu memang bisa menjadi orang tersebut.

Bangun ketika alarm berbunyi.

Menyelesaikan satu tugas.

Berolahraga sepuluh menit.

Mengatakan tidak ketika memang perlu.

Menyelesaikan sesuatu yang sudah kamu janjikan.

Setiap tindakan kecil memberikan bukti baru:

“Ternyata aku bisa.”

Identitas baru tidak muncul karena kamu mengatakannya sekali.

Ia terbentuk dari perilaku yang dilakukan berulang kali.

4. Kamu Sering Menetapkan Target yang Terlalu Besar dan Mengharapkan Perubahan Terlalu Cepat

Ada paradoks dalam perubahan diri.

Ketika seseorang sangat tidak puas dengan dirinya, ia sering membuat rencana yang sangat besar.

“Mulai besok aku akan bangun jam 5.”

“Aku akan olahraga setiap hari.”

“Aku tidak akan bermain media sosial lagi.”

“Aku akan membaca satu buku setiap minggu.”

“Aku akan berhenti menunda.”

“Aku akan mengubah hidupku.”

Motivasi yang tinggi membuat semuanya terasa mungkin.

Tetapi motivasi manusia tidak selalu stabil.

Pada hari ketika kamu bersemangat, target besar terasa mudah.

Pada hari ketika kamu lelah, stres, kecewa, atau sibuk, target yang sama bisa terasa sangat berat.

Kemudian satu hari buruk terjadi.

Kamu gagal menjalankan rencana.

Lalu muncul pemikiran:

“Aku gagal lagi.”

Setelah itu, rasa kecewa membuatmu semakin sulit memulai kembali.

Inilah yang sering disebut sebagai pola all-or-nothing thinking: seolah-olah perubahan hanya memiliki dua pilihan—sempurna atau gagal.

Padahal perubahan nyata biasanya jauh lebih berantakan.

Kamu bisa konsisten selama lima hari, kemudian gagal satu hari.

Itu bukan berarti lima hari sebelumnya tidak ada artinya.

Perubahan tidak harus dramatis untuk menjadi berarti

Jika ingin membaca lebih banyak, kamu tidak harus langsung membaca satu jam.

Mulailah dengan lima atau sepuluh menit.

Jika ingin berolahraga, kamu tidak harus langsung menjalani latihan berat.

Mulailah dengan sesuatu yang cukup kecil untuk dilakukan secara konsisten.

Jika ingin mengurangi media sosial, kamu tidak harus langsung menghilangkannya sepenuhnya.

Mulailah dengan mengurangi satu pemicu.

Tujuannya bukan membuat perubahan terlihat mengesankan.

Tujuannya membuat perubahan cukup mudah untuk diulangi.

Karena pada akhirnya, perubahan besar sering kali merupakan hasil dari tindakan kecil yang dilakukan cukup lama.

5. Emosi Sering Mengalahkan Niat yang Dibuat Saat Pikiran Sedang Tenang

Kamu mungkin membuat keputusan yang sangat rasional ketika sedang tenang.

Misalnya:

“Mulai besok aku tidak akan menunda pekerjaan.”

Tetapi kemudian besok datang.

Kamu merasa lelah.

Kamu cemas.

Kamu takut hasil pekerjaanmu tidak bagus.

Kamu membuka ponsel sebentar.

Lima menit berubah menjadi tiga puluh menit.

Lalu satu jam.

Apa yang terjadi?

Niatmu tidak tiba-tiba menghilang.

Kondisi emosionalmu berubah.

Manusia tidak membuat keputusan dalam ruang kosong. Perilaku sangat dipengaruhi oleh keadaan internal seperti stres, kecemasan, rasa takut, frustrasi, kelelahan, dan kebutuhan untuk mendapatkan kenyamanan dengan cepat.

Inilah sebabnya seseorang bisa mengetahui keputusan yang benar tetapi tetap memilih sesuatu yang berbeda ketika sedang berada di bawah tekanan.

Ketika sedang tenang, kamu mungkin bisa berpikir:

“Aku harus menyelesaikan pekerjaan ini.”

Tetapi ketika sedang cemas, otak mungkin lebih tertarik pada:

“Apa yang bisa membuatku merasa lebih baik sekarang?”

Perbedaan antara reward jangka panjang dan kenyamanan jangka pendek menjadi sangat penting.

Olahraga memberikan manfaat dalam jangka panjang, tetapi rebahan memberikan kenyamanan sekarang.

Menabung membantu masa depan, tetapi membeli sesuatu memberikan kesenangan sekarang.

Menyelesaikan pekerjaan mungkin menghasilkan kepuasan nanti, tetapi scrolling memberikan stimulasi sekarang.

Karena itu, perubahan bukan hanya persoalan memiliki tujuan.

Kamu juga perlu belajar mengelola keadaan emosional yang biasanya memicu perilaku lama.

Tanyakan kepada diri sendiri:

“Biasanya aku melakukan kebiasaan ini ketika sedang merasa apa?”

Apakah ketika bosan?

Kesepian?

Cemas?

Lelah?

Tertekan?

Tidak percaya diri?

Jika kamu menemukan emosinya, kamu mulai memahami akar perilakunya.

Dan ketika akar tersebut dipahami, perubahan menjadi lebih mungkin.

6. Kamu Menganggap Kemunduran sebagai Bukti Bahwa Kamu Tidak Bisa Berubah

Mungkin ini alasan yang paling menyakitkan.

Seseorang akhirnya mulai berubah.

Ia menjalani kebiasaan baru selama beberapa minggu.

Kemudian suatu hari ia kembali melakukan kebiasaan lama.

Ia melewatkan olahraga.

Kembali tidur larut.

Kembali menunda.

Kembali marah.

Kembali mencari validasi.

Lalu ia berpikir:

“Aku kembali ke titik nol.”

Padahal sebenarnya tidak.

Kemunduran atau relapse tidak selalu berarti semua kemajuan hilang.

Dalam proses perubahan perilaku, naik-turun merupakan sesuatu yang sangat umum.

Masalahnya adalah bagaimana seseorang menafsirkan kemunduran tersebut.

Ada perbedaan besar antara:

“Aku gagal hari ini.”

dan

“Aku adalah orang yang gagal.”

Kalimat pertama berbicara tentang perilaku.

Kalimat kedua menyerang identitas.

Jika kamu menganggap satu kesalahan sebagai bukti bahwa dirimu memang buruk, kamu lebih mudah menyerah.

Tetapi jika kamu melihatnya sebagai informasi, kamu bisa bertanya:

“Apa yang menyebabkan aku kembali melakukan ini?”

Mungkin kamu terlalu lelah.

Mungkin lingkunganmu memicu kebiasaan lama.

Mungkin targetmu terlalu sulit.

Mungkin kamu belum memiliki strategi ketika sedang stres.

Mungkin kamu mencoba menghilangkan kebiasaan tanpa mengganti kebutuhan yang mendasarinya.

Dengan perspektif ini, kegagalan berubah menjadi data.

Bukan vonis.

Jadi, Mengapa Mengubah Diri Terasa Begitu Sulit?

Jika kita melihat keenam alasan tadi, ada satu pola besar yang muncul.

Kamu tidak hanya sedang mencoba mengubah sebuah tindakan.

Kamu sedang berhadapan dengan:

kebiasaan yang sudah terbentuk,
lingkungan yang memicu perilaku lama,
kebutuhan emosional,
cara otak mencari kenyamanan,
identitas yang sudah lama kamu bangun,
serta ekspektasi yang mungkin terlalu tinggi terhadap dirimu sendiri.

Itulah sebabnya perubahan tidak selalu terjadi hanya karena kamu sangat menginginkannya.

Keinginan adalah titik awal, bukan seluruh proses.

Kamu bisa sangat ingin berubah dan tetap mengalami kesulitan.

Kamu bisa sangat serius dan tetap gagal beberapa kali.

Kamu bisa tahu apa yang harus dilakukan dan tetap kembali ke pola lama.

Dan semua itu tidak otomatis berarti kamu lemah.

Perubahan Dimulai Ketika Kamu Berhenti Membenci Dirimu yang Lama

Ada satu jebakan yang sering terjadi ketika seseorang ingin berubah.

Ia membenci dirinya yang sekarang.

Ia berkata:

“Aku harus menjadi orang yang berbeda karena diriku yang sekarang tidak cukup baik.”

Masalahnya, kebencian terhadap diri sendiri tidak selalu menghasilkan perubahan yang sehat.

Kadang-kadang justru membuat seseorang semakin terjebak dalam rasa malu.

Perubahan yang lebih berkelanjutan sering kali dimulai dari posisi yang berbeda:

“Aku menerima bahwa saat ini aku masih seperti ini, tetapi aku tidak harus selamanya seperti ini.”

Kamu tidak perlu membenci versi lama dirimu untuk membangun versi baru.

Kamu bisa memahami mengapa dirimu terbentuk seperti sekarang.

Mungkin ada kebiasaan yang dahulu membantumu bertahan.

Mungkin ada mekanisme pertahanan yang pernah membuatmu merasa aman.

Mungkin ada pola yang dulu berguna tetapi sekarang sudah tidak lagi sesuai dengan kehidupanmu.

Memahami bukan berarti membenarkan.

Memahami berarti kamu bisa berhenti berperang secara membabi buta dengan dirimu sendiri dan mulai mengubah sesuatu dengan lebih sadar.

Jangan Bertanya, “Bagaimana Aku Bisa Berubah Sekaligus?”

Pertanyaan yang lebih berguna adalah:

“Apa satu hal kecil yang bisa aku lakukan hari ini untuk menjadi sedikit berbeda?”

Jika kamu ingin lebih disiplin, tepati satu janji kecil kepada dirimu.

Jika ingin lebih sehat, buat satu pilihan yang lebih baik hari ini.

Jika ingin berhenti menunda, kerjakan sesuatu selama sepuluh menit.

Jika ingin lebih percaya diri, lakukan satu hal yang biasanya kamu hindari.

Jika ingin mengurangi kebiasaan buruk, identifikasi satu pemicunya.

Jangan meremehkan tindakan kecil.

Satu tindakan mungkin tidak mengubah hidupmu.

Tetapi tindakan yang diulang dapat membentuk kebiasaan.

Kebiasaan yang diulang dapat memengaruhi identitas.

Dan identitas yang berubah dapat memengaruhi cara kamu menjalani hidup.

Pada akhirnya, perubahan bukan tentang menjadi manusia baru dalam satu malam.

Perubahan adalah proses ketika kamu terus-menerus memberikan bukti kepada dirimu bahwa kamu mampu hidup dengan cara yang berbeda.

Penutup: Kamu Tidak Harus Berubah dengan Cepat, Kamu Harus Terus Bergerak

Mungkin selama ini kamu mengira bahwa orang yang berhasil berubah adalah orang yang memiliki kemauan lebih kuat darimu.

Belum tentu.

Sering kali mereka hanya memahami bahwa perubahan tidak terjadi secara instan.

Mereka membangun lingkungan yang mendukung.

Mereka membuat langkah yang lebih kecil.

Mereka belajar mengenali pemicu.

Mereka menerima bahwa kemunduran adalah bagian dari proses.

Dan yang paling penting, mereka tidak menjadikan satu kegagalan sebagai alasan untuk berhenti selamanya.

Jadi jika saat ini kamu sedang berusaha berubah tetapi merasa berjalan terlalu lambat, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa kamu tidak mampu.

Mungkin kamu sedang melakukan sesuatu yang memang sulit:

mengajarkan otak, emosi, kebiasaan, lingkungan, dan identitasmu untuk bekerja dengan cara yang baru.

Dan itu membutuhkan waktu.

Kamu tidak harus menjadi versi terbaik dirimu besok pagi.

Kamu hanya perlu membuat satu pilihan yang sedikit lebih baik hari ini.

Kemudian ulangi.

Besok ulangi lagi.

Dan ketika kamu gagal, mulai lagi.

Karena perubahan yang nyata bukanlah tentang tidak pernah kembali ke pola lama.

Perubahan adalah kemampuan untuk kembali memilih arah yang baru, setiap kali kamu menyadari bahwa kamu telah tersesat.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore