Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 1 September 2026 | 21.27 WIB

Jika Kamu Sedang Mencari Cara untuk Didengar oleh Pasangan, Lakukan 7 Perilaku Ini Sebelum Berbicara

seseorang yang berusaha untuk didengar oleh pasangan / foto: Magnific/lookstudio

 

JawaPos.com - Pernahkah kamu merasa sudah menjelaskan semuanya kepada pasangan, tetapi rasanya tidak ada satu pun yang benar-benar masuk?

Kamu berbicara panjang lebar, menjelaskan apa yang membuatmu kecewa, mencoba memilih kata-kata yang tepat, bahkan mungkin menahan emosi agar percakapan tidak berubah menjadi pertengkaran. Namun, pada akhirnya pasangan tetap defensif, diam, menghindar, atau justru membalas dengan membicarakan kesalahanmu.

Di titik tertentu, kamu mungkin mulai berpikir:

"Kenapa aku tidak pernah didengar?"

Pertanyaan itu sebenarnya menarik. Karena dalam hubungan, didengar bukan hanya soal seberapa baik kita berbicara. Ada kondisi psikologis tertentu yang membuat seseorang lebih siap menerima apa yang kita sampaikan.

Ketika seseorang merasa diserang, disalahkan, dipermalukan, atau dipaksa untuk langsung memberikan jawaban, otaknya cenderung beralih ke mode bertahan. Dalam keadaan seperti itu, kalimat yang sebenarnya masuk akal pun bisa terasa seperti serangan.

Karena itu, jika kamu ingin pasangan benar-benar mendengarkan, mungkin yang perlu diubah bukan hanya apa yang kamu katakan, tetapi juga apa yang kamu lakukan sebelum mulai berbicara.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (1/9), terdapat tujuh perilaku yang bisa membantu menciptakan kondisi percakapan yang lebih aman dan terbuka.

1. Tenangkan dirimu sebelum meminta pasangan memahami dirimu

Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sering kali justru menjadi bagian yang paling sulit.

Ketika sedang kecewa, kita ingin segera bicara. Kita ingin pasangan tahu betapa sakitnya perasaan kita. Kita merasa, "Kalau aku tidak mengatakannya sekarang, dia tidak akan pernah mengerti."

Padahal, berbicara ketika emosi sedang berada di puncak sering membuat pesan yang ingin disampaikan menjadi kabur.

Kita mungkin mulai dengan satu masalah, lalu tanpa sadar membawa lima masalah lain. Nada suara meninggi. Pilihan kata menjadi lebih tajam. Hal-hal yang sebenarnya sudah lama selesai kembali disebutkan.

Bukan karena kita ingin menyakiti pasangan, tetapi karena emosi sedang mengambil alih.

Sebelum berbicara, cobalah berhenti sebentar dan tanyakan kepada diri sendiri:

"Apa sebenarnya yang ingin aku sampaikan?"

Bukan:

"Bagaimana caranya membuat dia sadar bahwa dia salah?"

Perbedaannya sangat besar.

Tujuan pertama adalah membangun pemahaman. Tujuan kedua adalah memenangkan konflik.

Jika tubuhmu masih sangat tegang, napas pendek, ingin membentak, menangis tanpa bisa berhenti, atau merasa harus segera mendapatkan respons dari pasangan, mungkin percakapan itu belum perlu dimulai sekarang.

Menunda percakapan bukan berarti menghindari masalah.

Terkadang, menenangkan diri adalah cara untuk memastikan bahwa ketika kamu akhirnya berbicara, yang keluar adalah kebutuhanmu, bukan ledakan emosimu.

2. Pastikan pasangan berada dalam kondisi yang cukup siap untuk mendengarkan

Bayangkan kamu ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting kepada seseorang ketika dia sedang terburu-buru, kelelahan, lapar, bekerja, bermain gim, atau baru saja mengalami hari yang buruk.

Apakah mungkin dia akan memberikan perhatian penuh?

Mungkin saja. Tetapi kemungkinan percakapannya berjalan baik menjadi lebih kecil.

Karena itu, sebelum masuk ke topik yang sensitif, cobalah memperhatikan kondisi pasangan.

Kamu tidak harus meminta izin secara formal untuk setiap percakapan. Namun, pertanyaan sederhana seperti:

"Kamu lagi punya waktu untuk ngobrol sebentar? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."

bisa mengubah suasana.

Kalimat seperti itu memberi pasangan kesempatan untuk mempersiapkan diri.

Yang lebih penting, kamu juga menunjukkan bahwa kamu tidak hanya peduli dengan keinginanmu untuk bicara, tetapi juga dengan kapasitas pasangan untuk mendengarkan.

Ini bukan berarti semua percakapan sulit harus menunggu sampai suasana benar-benar sempurna. Dalam kehidupan nyata, waktu ideal tidak selalu tersedia.

Namun, ada perbedaan antara mengatakan:

"Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting. Kapan kamu punya waktu malam ini?"

dan tiba-tiba membuka konflik ketika pasangan sedang bersiap tidur.

Ketika seseorang merasa memiliki sedikit kendali atas situasi, dia sering kali lebih mudah memasuki percakapan dengan pikiran terbuka.

3. Tentukan tujuan percakapan sebelum membuka mulut

Banyak konflik hubungan menjadi panjang karena kedua orang sebenarnya tidak tahu apa yang sedang mereka cari.

Satu orang ingin didengarkan.

Orang lain mengira dia harus memberikan solusi.

Satu orang ingin mendapatkan permintaan maaf.

Yang lain mengira dia sedang diminta membela diri.

Satu orang hanya ingin menjelaskan perasaannya.

Yang lain merasa sedang diadili.

Akhirnya, keduanya berbicara, tetapi tidak pernah benar-benar bertemu.

Karena itu, sebelum berbicara, tentukan dulu tujuanmu.

Apakah kamu ingin:

pasangan memahami perasaanmu?
mencari solusi?
meminta perubahan perilaku?
menyelesaikan kesalahpahaman?
menyampaikan batasan?
atau sekadar didengarkan tanpa langsung diberi nasihat?

Kamu bahkan bisa mengatakannya di awal.

"Aku tidak sedang mencari solusi dulu. Aku cuma ingin kamu mendengarkan sampai aku selesai."

Kalimat sederhana ini bisa menghilangkan banyak kesalahpahaman.

Sebaliknya, jika kamu memang ingin mencari solusi, katakan dengan jelas.

"Aku ingin kita mencari cara supaya masalah ini tidak terjadi lagi."

Komunikasi yang baik bukan hanya tentang memilih kata yang lembut. Komunikasi yang baik juga membutuhkan tujuan yang jelas.

4. Periksa apakah kamu sedang berbicara tentang masalah atau menyerang karakter

Ada perbedaan besar antara:

"Aku sedih ketika kamu membatalkan rencana kita tanpa memberitahuku."

dan:

"Kamu memang selalu egois."

Kalimat pertama membicarakan sebuah perilaku dan dampaknya.

Kalimat kedua menyerang identitas seseorang.

Begitu seseorang merasa identitasnya diserang, percakapan biasanya berubah arah.

Alih-alih mendengarkan pengalamanmu, dia mulai berpikir tentang bagaimana membela dirinya.

"Aku tidak egois."

"Kapan aku selalu begitu?"

"Kamu sendiri lebih parah."

Akhirnya, masalah awal hilang.

Karena itu, sebelum berbicara, coba periksa kembali kalimat yang ingin kamu sampaikan.

Tanyakan:

"Apakah aku sedang menjelaskan apa yang terjadi, atau sedang memberi label kepada orang ini?"

Gunakan lebih banyak kalimat yang berfokus pada pengalamanmu.

Misalnya:

"Aku merasa diabaikan ketika sedang bicara tetapi kamu tetap melihat ponsel."

daripada:

"Kamu tidak pernah menghargai aku."

Bukan berarti kamu harus menyembunyikan kemarahan atau berpura-pura baik-baik saja.

Kamu tetap boleh mengatakan bahwa kamu marah.

Tetapi kemarahan bisa disampaikan tanpa menjadikan pasangan sebagai musuh.

5. Cobalah memahami sudut pandang pasangan sebelum menuntutnya memahami sudut pandangmu

Ini salah satu perilaku yang sering terasa tidak adil.

Kamu mungkin berpikir:

"Kenapa aku harus memahami dia? Aku yang terluka."

Namun memahami bukan berarti membenarkan.

Memahami berarti mencoba mengetahui bagaimana situasi itu terlihat dari sisi orang lain.

Sebelum berbicara, tanyakan kepada dirimu:

"Kalau aku berada di posisi dia, apa yang mungkin sedang dia rasakan?"

Mungkin dia merasa tidak dihargai.

Mungkin dia merasa takut mengecewakanmu.

Mungkin dia sebenarnya malu karena melakukan kesalahan.

Mungkin dia tidak tahu bagaimana merespons emosimu.

Atau mungkin memang ada bagian dari masalah yang belum kamu lihat.

Ketika kamu masuk ke percakapan dengan asumsi bahwa hanya kamu yang memiliki perspektif yang benar, pasangan akan lebih mudah merasa tidak punya ruang untuk menjelaskan dirinya.

Sebaliknya, jika kamu mengatakan:

"Aku ingin kamu dengar ceritaku, tapi aku juga ingin tahu bagaimana kamu melihat kejadian ini."

kamu sedang mengubah percakapan dari pertarungan menjadi usaha memahami.

Dan menariknya, ketika seseorang merasa sudut pandangnya juga memiliki tempat dalam percakapan, dia sering kali menjadi lebih bersedia memberikan ruang untuk sudut pandangmu.

6. Pilih satu masalah yang paling penting, jangan membuka seluruh arsip kesalahan

Ketika seseorang sudah lama merasa kecewa, ada godaan besar untuk mengeluarkan semuanya sekaligus.

"Sekalian saja aku katakan semuanya."

Kemudian satu masalah berubah menjadi daftar panjang:

"Waktu bulan lalu kamu juga begitu."

"Tahun lalu kamu melakukan hal yang sama."

"Kamu juga pernah bilang..."

"Belum lagi waktu kamu..."

Masalahnya, semakin banyak isu yang dimasukkan ke dalam satu percakapan, semakin sulit bagi kedua orang untuk memproses semuanya.

Pasangan akhirnya tidak tahu apa yang sebenarnya harus diperbaiki.

Kamu pun mungkin tidak mendapatkan jawaban yang kamu butuhkan.

Sebelum berbicara, pilih satu hal yang paling penting.

Tanyakan:

"Kalau pasangan hanya memahami satu hal dari percakapan ini, apa yang paling ingin aku dia pahami?"

Misalnya, bukan:

"Kamu selalu mengabaikanku."

Tetapi:

"Aku ingin kita membicarakan kebiasaanmu membatalkan rencana secara mendadak karena itu membuatku merasa tidak dianggap."

Lebih spesifik.

Lebih mudah dipahami.

Dan lebih mungkin menghasilkan perubahan.

Hubungan yang sehat tidak membutuhkan setiap kesalahan masa lalu diselesaikan dalam satu malam.

Kadang-kadang, satu percakapan yang fokus jauh lebih bermanfaat daripada tiga jam saling melempar daftar kesalahan.

7. Datang dengan keinginan untuk memahami, bukan sekadar keinginan untuk didengar

Ini mungkin bagian yang paling penting.

Banyak orang ingin didengar, tetapi lupa bahwa pasangan mereka juga ingin didengar.

Kita ingin pasangan berhenti memotong pembicaraan.

Kita ingin pasangan memahami perasaan kita.

Kita ingin pasangan tidak defensif.

Namun, apakah kita melakukan hal yang sama ketika pasangan mulai menjelaskan sudut pandangnya?

Jika jawabannya tidak, mungkin masalahnya bukan hanya kurangnya komunikasi.

Mungkin kalian sedang berada dalam pola dua orang yang sama-sama berusaha membuktikan bahwa dirinya paling terluka.

Sebelum memulai percakapan, buat satu keputusan sederhana:

"Aku akan mendengarkan untuk memahami, bukan hanya menunggu giliran untuk membalas."

Ketika pasangan selesai berbicara, cobalah memastikan bahwa kamu benar-benar memahami maksudnya.

Misalnya:

"Jadi menurutmu, yang membuat kamu kecewa bukan cuma kejadian tadi, tapi karena kamu merasa aku tidak mempercayaimu. Aku benar?"

Kalimat seperti ini bukan berarti kamu setuju.

Kamu hanya memastikan bahwa kamu tidak sedang melawan sesuatu yang sebenarnya tidak dikatakan pasangan.

Sering kali, seseorang menjadi lebih lembut setelah merasa benar-benar dipahami.

Bukan karena masalahnya langsung selesai, tetapi karena dia tidak lagi merasa harus berteriak agar keberadaannya diakui.

Jadi, bagaimana cara agar pasangan lebih mau mendengarkan?

Cobalah mengingat tujuh perilaku ini sebelum memulai percakapan penting:

1. Tenangkan dirimu terlebih dahulu.

Jangan biarkan emosi menentukan seluruh arah percakapan.

2. Pastikan pasangan cukup siap untuk berbicara.

Pilih waktu ketika kalian memiliki ruang untuk benar-benar hadir.

3. Tentukan tujuan percakapan.

Apakah kamu ingin didengarkan, mencari solusi, meminta perubahan, atau menyelesaikan kesalahpahaman?

4. Fokus pada perilaku, bukan menyerang karakter.

Bicarakan apa yang terjadi dan bagaimana dampaknya terhadapmu.

5. Coba pahami perspektif pasangan.

Memahami bukan berarti membenarkan.

6. Fokus pada satu masalah utama.

Tidak semua luka harus dibuka dalam satu percakapan.

7. Bersedia mendengarkan juga.

Jika kamu ingin pasangan memberi ruang untuk perasaanmu, berikan ruang yang sama untuk perasaannya.

Pada akhirnya, kemampuan untuk didengar dalam hubungan bukan hanya ditentukan oleh seberapa keras kita berbicara atau seberapa sempurna kita memilih kata.

Terkadang, seseorang lebih mudah mendengarkan ketika dia merasa aman, tidak sedang dihakimi, dan tahu bahwa percakapan tersebut bukan perang yang harus dimenangkan.

Dan ada satu hal penting yang perlu diingat.

Kamu tidak bisa mengendalikan apakah pasangan akan mendengarkanmu.

Kamu hanya bisa mengendalikan cara kamu menyampaikan sesuatu, cara kamu mengatur emosimu, dan cara kamu memperlakukan orang lain dalam percakapan.

Jika kamu sudah berusaha berbicara dengan tenang, jelas, dan penuh rasa hormat tetapi pasangan terus-menerus mengabaikan, meremehkan, mengintimidasi, atau menolak setiap bentuk komunikasi, maka masalahnya mungkin bukan lagi tentang cara berbicara.

Karena komunikasi yang sehat membutuhkan dua orang.

Satu orang bisa membuka pintu.

Tetapi dua orang harus bersedia masuk ke dalam percakapan.

Jadi, sebelum bertanya,

"Bagaimana caranya supaya pasangan mau mendengarkanku?"

mungkin pertanyaan yang lebih berguna adalah:

"Apa yang bisa aku lakukan agar percakapan ini menjadi tempat yang cukup aman bagi kami berdua untuk saling mendengar?"

Dari sana, percakapan yang sulit mungkin tidak langsung menjadi mudah.

Tetapi setidaknya, kalian tidak lagi berdiri di dua sisi yang berlawanan.

Kalian mulai berdiri di sisi yang sama—menghadapi masalah yang sama.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore