seseorang yang merasa jauh dari tujuan hidup / foto: Magnific/luis_molinero
Kita sudah berusaha. Sudah mencoba disiplin. Sudah membuat rencana. Bahkan mungkin sudah mengorbankan waktu, tenaga, uang, dan kenyamanan. Namun, entah mengapa hasil yang diharapkan belum juga terlihat.
Di titik seperti itu, pikiran mulai bertanya:
"Apa aku salah jalan?"
"Kenapa orang lain terlihat lebih cepat sampai?"
"Jangan-jangan aku memang tidak cukup mampu."
Perasaan seperti ini sebenarnya sangat manusiawi. Dalam psikologi, pengalaman ketika seseorang merasa usahanya tidak membawa dirinya lebih dekat kepada sesuatu yang diinginkan dapat berkaitan dengan berbagai hal: persepsi terhadap kemajuan, ekspektasi, motivasi, self-efficacy, perbandingan sosial, hingga cara seseorang menetapkan tujuan.
Yang perlu dipahami adalah: merasa jauh dari tujuan tidak selalu berarti kamu benar-benar semakin jauh.
Kadang-kadang masalahnya bukan pada jarak yang sudah ditempuh, tetapi pada cara kita melihat perjalanan tersebut.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (1/9), terdapat tujuh hal yang bisa kamu lakukan ketika tujuan terasa semakin menjauh.
1. Berhenti Sejenak dan Bedakan antara "Belum Sampai" dengan "Tidak Akan Pernah Sampai"
Ketika kita terlalu lama mengejar sesuatu tanpa melihat hasil yang signifikan, otak mudah membuat kesimpulan ekstrem.
Hari ini belum berhasil.
Besok belum berhasil.
Minggu depan masih sama.
Lalu muncul pikiran:
"Mungkin aku memang tidak akan pernah berhasil."
Padahal, "belum berhasil" dan "tidak akan pernah berhasil" adalah dua hal yang sangat berbeda.
Masalahnya, ketika sedang kecewa atau lelah, kita cenderung menilai masa depan berdasarkan kondisi emosional saat ini. Perasaan negatif hari ini seolah-olah menjadi bukti bahwa masa depan juga akan buruk.
Dalam psikologi, kondisi seperti ini dapat berkaitan dengan pola berpikir negatif dan kecenderungan membuat prediksi masa depan berdasarkan keadaan saat ini.
Karena itu, ketika tujuan terasa menjauh, jangan langsung mengambil keputusan besar.
Cobalah berhenti sejenak dan tanyakan:
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Bukan:
"Kenapa hidupku selalu gagal?"
Ada perbedaan besar di antara keduanya.
Pertanyaan pertama mencari fakta.
Pertanyaan kedua sering kali mencari pembenaran untuk rasa kecewa.
Coba lihat perjalananmu secara objektif.
Apa yang sudah berubah dalam enam bulan terakhir?
Keterampilan apa yang sekarang kamu miliki dan dulu belum kamu punya?
Apa yang sekarang bisa kamu lakukan dengan lebih baik?
Apa yang dulu terasa sulit tetapi sekarang mulai terasa biasa?
Kemajuan tidak selalu berbentuk pencapaian besar.
Kadang kemajuan terlihat seperti kemampuan untuk tetap mencoba setelah sebelumnya menyerah.
Kadang berupa keberanian mengatakan tidak.
Kadang berupa kemampuan mengelola emosi.
Kadang berupa pemahaman bahwa strategi yang kamu gunakan sebelumnya ternyata tidak efektif.
Belum sampai bukan berarti gagal.
Bisa jadi kamu hanya sedang berada di bagian perjalanan yang hasilnya belum terlihat.
2. Ubah Tujuan Besar Menjadi Langkah yang Bisa Kamu Kendalikan
Salah satu alasan tujuan terasa menjauh adalah karena kita terlalu fokus pada hasil akhir.
Misalnya kamu ingin membangun bisnis yang sukses.
Kamu membayangkan omzet tertentu, jumlah pelanggan tertentu, atau kebebasan finansial.
Masalahnya, sebagian besar hasil tersebut tidak sepenuhnya berada dalam kendalimu.
Kamu bisa mengontrol berapa banyak waktu yang kamu gunakan untuk belajar.
Kamu bisa mengontrol berapa banyak calon pelanggan yang kamu hubungi.
Kamu bisa mengontrol kualitas produk.
Tetapi kamu tidak bisa sepenuhnya mengontrol apakah orang akan membeli produkmu.
Hal yang sama berlaku dalam karier, pendidikan, hubungan, maupun kehidupan pribadi.
Jika perhatian kita terus-menerus diarahkan pada sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan, kita akan lebih mudah merasa tidak berdaya.
Karena itu, pecah tujuan besar menjadi tujuan proses.
Misalnya:
Tujuan hasil:
"Aku ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik."
Ubah menjadi:
"Aku akan memperbarui CV minggu ini."
"Aku akan melamar lima pekerjaan yang relevan."
"Aku akan belajar satu keterampilan baru selama 30 menit setiap hari."
Atau:
Tujuan hasil:
"Aku ingin menjadi lebih sehat."
Ubah menjadi:
"Aku akan berjalan 30 menit tiga kali minggu ini."
Tujuan besar memberikan arah.
Tetapi tujuan kecil memberikan sesuatu yang bisa dilakukan hari ini.
Ini penting karena setiap langkah kecil yang selesai dapat memberikan bukti kepada diri sendiri bahwa kamu masih memiliki kemampuan untuk bergerak.
Jangan bertanya hanya:
"Kapan aku sampai?"
Tanyakan juga:
"Apa satu hal yang bisa aku lakukan hari ini untuk bergerak sedikit lebih dekat?"
Terkadang kita tidak membutuhkan motivasi yang lebih besar.
Kita hanya membutuhkan langkah yang lebih kecil.
3. Ukur Kemajuan dari Dirimu yang Dulu, Bukan dari Kehidupan Orang Lain
Salah satu penyebab tujuan terasa semakin jauh adalah perbandingan sosial.
Kita melihat seseorang yang seumuran sudah memiliki karier bagus.
Ada yang sudah membeli rumah.
Ada yang membangun bisnis.
Ada yang menikah.
Ada yang punya tubuh ideal.
Ada yang terlihat bahagia.
Kemudian kita melihat diri sendiri dan berpikir:
"Aku tertinggal."
Padahal kita sering membandingkan bagian belakang layar kehidupan kita dengan bagian depan panggung kehidupan orang lain.
Kita mengetahui kegagalan, keraguan, utang, ketakutan, dan hari-hari buruk kita sendiri.
Sementara dari orang lain, kita sering hanya melihat hasil akhirnya.
Media sosial dapat memperkuat pola ini karena kehidupan manusia yang kompleks dipadatkan menjadi foto, angka, pencapaian, dan cerita singkat.
Akibatnya, standar keberhasilan menjadi tidak realistis.
Psikologi menunjukkan bahwa perbandingan sosial dapat memengaruhi evaluasi diri. Jika dilakukan terus-menerus secara tidak sehat, perbandingan dengan orang yang dianggap lebih unggul dapat memperburuk rasa tidak mampu.
Karena itu, coba ubah pertanyaannya.
Bukan:
"Kenapa aku belum seperti dia?"
Tetapi:
"Apakah aku hari ini sedikit lebih baik dibanding diriku beberapa bulan lalu?"
Mungkin dulu kamu mudah menyerah.
Sekarang kamu bertahan lebih lama.
Mungkin dulu kamu tidak punya keterampilan tertentu.
Sekarang kamu sudah mulai menguasainya.
Mungkin dulu kamu tidak tahu apa yang ingin dilakukan.
Sekarang setidaknya kamu tahu apa yang tidak ingin dilakukan.
Itu juga kemajuan.
Tidak semua perjalanan memiliki timeline yang sama.
Kamu tidak terlambat hanya karena seseorang sampai lebih dulu.
4. Periksa Kembali Apakah Tujuan Itu Masih Benar-Benar Milikmu
Ini adalah pertanyaan yang sering kita hindari:
"Apakah aku masih menginginkan tujuan ini, atau aku hanya takut mengecewakan orang lain?"
Tidak semua tujuan yang kita kejar berasal dari keinginan pribadi.
Sebagian berasal dari keluarga.
Sebagian dari lingkungan.
Sebagian dari budaya.
Sebagian dari ekspektasi sosial.
Sebagian lagi berasal dari standar yang kita lihat di internet.
Sejak kecil, kita mungkin diajarkan bahwa sukses berarti memiliki pekerjaan tertentu, penghasilan tertentu, status tertentu, atau kehidupan dengan bentuk tertentu.
Lalu kita mengejarnya selama bertahun-tahun.
Namun ketika sudah dekat dengan tujuan tersebut, kita justru merasa kosong.
Di sinilah pentingnya melakukan evaluasi.
Tanyakan kepada diri sendiri:
Kalau tidak ada yang tahu pencapaianku, apakah aku masih menginginkannya?
Kalau tidak ada media sosial, apakah tujuan ini tetap penting?
Apakah aku mengejar ini karena benar-benar ingin, atau karena ingin dianggap berhasil?
Apakah proses menuju tujuan ini sesuai dengan nilai-nilai yang penting bagiku?
Jika aku gagal mencapainya, apa sebenarnya yang paling aku takutkan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu memisahkan keinginan pribadi dari ekspektasi eksternal.
Mungkin ternyata tujuanmu memang masih benar.
Bagus.
Berarti kamu bisa kembali mengejarnya dengan alasan yang lebih jelas.
Tetapi mungkin juga kamu menemukan bahwa tujuan tersebut sudah tidak relevan.
Dan itu bukan kegagalan.
Mengubah arah bukan berarti membuang hidupmu.
Kadang kita membutuhkan keberanian bukan untuk terus berjalan, tetapi untuk mengakui bahwa jalan yang kita pilih ternyata bukan jalan yang ingin kita tempuh.
5. Beri Ruang untuk Istirahat Tanpa Menganggap Istirahat sebagai Kegagalan
Ada orang yang merasa bersalah ketika berhenti.
Mereka berpikir:
"Kalau aku istirahat, orang lain akan mendahuluiku."
"Kalau aku berhenti sebentar, aku akan kehilangan momentum."
"Aku harus terus bekerja."
Akhirnya, hidup berubah menjadi perlombaan tanpa garis finis.
Padahal manusia bukan mesin.
Kemampuan kita untuk fokus, mengambil keputusan, mengendalikan emosi, dan mempertahankan motivasi juga memiliki batas.
Ketika seseorang terlalu lama memaksa diri, kelelahan dapat membuat tujuan yang sebenarnya masih penting terasa tidak berarti.
Masalahnya kemudian dianggap sebagai:
"Aku sudah tidak punya motivasi."
Padahal bisa saja yang sebenarnya terjadi adalah:
"Aku terlalu lelah."
Istirahat bukan berarti menyerah.
Istirahat adalah bagian dari keberlanjutan.
Ada perbedaan antara berhenti karena menyerah dan berhenti untuk memulihkan diri.
Karena itu, jangan takut mengambil jeda.
Tidur yang cukup.
Berjalan tanpa membawa target.
Menghabiskan waktu bersama orang yang membuatmu nyaman.
Melakukan sesuatu yang tidak menghasilkan uang.
Membiarkan pikiran tidak produktif untuk sementara.
Kita hidup dalam budaya yang sering memuja produktivitas.
Namun hidup yang sehat bukan tentang seberapa banyak yang bisa kita lakukan tanpa berhenti.
Melainkan tentang seberapa lama kita bisa terus berjalan tanpa menghancurkan diri sendiri dalam prosesnya.
6. Evaluasi Strategimu, Bukan Hanya Menyalahkan Dirimu
Ketika tujuan tidak tercapai, banyak orang langsung menyalahkan karakter dirinya.
"Aku malas."
"Aku bodoh."
"Aku tidak disiplin."
"Aku memang tidak berbakat."
Padahal ada kemungkinan masalahnya bukan pada siapa dirimu.
Mungkin strateginya yang tidak tepat.
Bayangkan seseorang ingin meningkatkan kemampuan tertentu.
Dia sudah belajar selama berbulan-bulan, tetapi metodenya tidak efektif.
Jika dia menyimpulkan:
"Aku memang tidak pintar."
maka masalahnya menjadi identitas.
Tetapi jika dia bertanya:
"Apakah cara belajarku sudah efektif?"
maka masalahnya menjadi sesuatu yang bisa diperbaiki.
Ini perbedaan yang sangat penting.
Cobalah melakukan evaluasi sederhana:
Apa yang berhasil?
Pertahankan.
Apa yang tidak berhasil?
Kurangi atau hentikan.
Apa yang belum pernah dicoba?
Eksperimen.
Apa yang berada di luar kendali?
Terima.
Apa yang masih bisa diperbaiki?
Fokuskan energi di sana.
Kegagalan satu strategi tidak sama dengan kegagalan dirimu sebagai manusia.
Kamu bisa mengganti jadwal.
Mengubah metode.
Mencari mentor.
Meminta bantuan.
Belajar keterampilan baru.
Mengurangi target sementara.
Atau bahkan mengubah arah.
Jangan menjadikan satu hasil buruk sebagai bukti bahwa seluruh dirimu buruk.
7. Fokus pada Identitas yang Sedang Kamu Bangun, Bukan Hanya Pencapaian yang Ingin Kamu Dapatkan
Ini mungkin bagian yang paling penting.
Bayangkan kamu memiliki tujuan menjadi seorang penulis.
Jika seluruh identitasmu bergantung pada:
"Aku harus menerbitkan buku."
maka setiap penolakan akan terasa seperti serangan terhadap dirimu.
Tetapi jika kamu melihat dirimu sebagai:
"Aku adalah seseorang yang terus belajar menulis."
maka prosesnya memiliki nilai bahkan sebelum buku tersebut terbit.
Begitu juga dengan tujuan lainnya.
Bukan hanya:
"Aku ingin punya bisnis."
Tetapi:
"Aku sedang menjadi seseorang yang belajar membangun bisnis."
Bukan hanya:
"Aku ingin menjadi orang yang percaya diri."
Tetapi:
"Aku sedang belajar menjadi seseorang yang berani menghadapi ketidaknyamanan."
Perubahan identitas seperti ini membuat perjalanan tidak sepenuhnya bergantung pada hasil akhir.
Kamu tetap memiliki sesuatu yang bisa dibangun setiap hari.
Dan sering kali, pencapaian besar sebenarnya merupakan akumulasi dari identitas dan kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali.
Ketika Tujuan Terasa Menjauh, Mungkin Kamu Tidak Perlu Berlari Lebih Cepat
Ada satu kesalahpahaman yang sering terjadi dalam perjalanan mencapai tujuan.
Kita mengira ketika tujuan terasa jauh, solusinya adalah berusaha lebih keras.
Kadang memang begitu.
Tetapi tidak selalu.
Kadang solusinya adalah berhenti dan melihat apakah kita sedang berjalan ke arah yang benar.
Mungkin kamu membutuhkan strategi baru.
Mungkin targetmu terlalu besar.
Mungkin ekspektasimu terlalu tinggi.
Mungkin kamu sedang membandingkan dirimu dengan orang lain.
Mungkin kamu hanya sedang kelelahan.
Atau mungkin tujuan tersebut memang sudah tidak sesuai dengan dirimu yang sekarang.
Semua kemungkinan itu layak diperiksa.
Karena hidup bukan sekadar tentang mencapai titik tertentu secepat mungkin.
Ada bagian dari perjalanan yang juga membentuk siapa kita.
Jadi, ketika suatu hari kamu merasa tujuanmu semakin menjauh, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa kamu gagal.
Tarik napas.
Berhenti sebentar.
Lihat kembali jalan yang sudah kamu tempuh.
Tanyakan apa yang bisa dipelajari.
Kemudian pilih satu langkah kecil berikutnya.
Tidak perlu menyelesaikan seluruh hidupmu hari ini.
Kamu hanya perlu tahu langkah berikutnya.
Dan terkadang, langkah berikutnya bukan berlari.
Terkadang langkah berikutnya adalah beristirahat.
Terkadang belajar.
Terkadang mengubah strategi.
Terkadang meminta bantuan.
Dan terkadang, untuk pertama kalinya, kamu perlu bertanya:
"Apakah ini benar-benar tujuan yang ingin aku tuju?"
Sebab tujuan hidup bukan hanya tentang seberapa cepat kamu sampai.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Palermo vs Mantova di Coppa Italia: Rosanero Siap Libas Tim Tamu di Renzo Barbera
Sidang Kasus Pemuda Dipukul Pengusaha Buah di Surabaya, Saksi Sebut Tak Melihat Kejadian Jelas
Prediksi Skor Lyon vs Auxerre di Liga Prancis: Les Gones Berpeluang Menang Telak di Groupama!
Prediksi Skor Laos U-20 vs Timnas Indonesia U-20: Garuda Muda Berpeluang Pesta Gol!
Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Arema FC vs Isenmulang Kalteng FC: Singo Edan Diprediksi Menang di Kanjuruhan
Prediksi Skor Toulouse vs Lille di Liga Prancis: Les Dogues Berpeluang Sikat Tuan Rumah!
Prediksi Susunan Pemain Bali United vs PSS Sleman: Dominikus Dion Harap Super Elja Main Pede
Manajemen Buka Suara Usai Ikang Fawzi Dikabarkan Menikah Lagi
