Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 29 Agustus 2026 | 04.15 WIB

7 Alasan Mengapa Seseorang Menjulurkan Lidah Saat Berkonsentrasi Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?

seseorang yang menjulurkan lidah saat berkonsentrasi / foto: Magnific/krakenimages.com

 

JawaPos.com - Pernahkah kamu memperhatikan seseorang yang sedang mengerjakan sesuatu dengan sangat serius, lalu tanpa sadar menjulurkan sedikit lidahnya?

Mungkin dia sedang menggambar, menulis, bermain gim, memperbaiki sesuatu, memasang benda kecil, menghitung angka, atau bahkan melakukan pekerjaan sederhana yang membutuhkan ketelitian. Anehnya, ketika konsentrasi semakin tinggi, lidahnya justru terlihat sedikit keluar dari mulut.

Bagi sebagian orang, kebiasaan ini mungkin terlihat lucu atau aneh. Namun, sebenarnya ada alasan psikologis dan neurologis yang cukup menarik di baliknya.

Menjulurkan lidah saat berkonsentrasi bukan berarti seseorang sedang gugup, tidak sopan, atau memiliki kebiasaan aneh. Dalam banyak situasi, perilaku tersebut dapat muncul secara otomatis ketika otak sedang mengerahkan perhatian yang cukup besar untuk menyelesaikan suatu tugas.

Fenomena ini bahkan sering terlihat pada anak-anak. Anak yang sedang menggambar dengan serius, menyusun puzzle, menggunting kertas, atau mencoba memasukkan benda ke tempat yang tepat terkadang akan menjulurkan lidah tanpa menyadarinya.

Lalu, mengapa hal itu bisa terjadi?

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (28/8), terdapat 7 alasan mengapa seseorang menjulurkan lidah saat berkonsentrasi menurut psikologi.

1. Otak Sedang Mengalokasikan Banyak Sumber Daya untuk Tugas yang Sulit

Alasan pertama berkaitan dengan cara otak mengelola perhatian.

Ketika seseorang mengerjakan tugas yang membutuhkan konsentrasi tinggi, otak harus mengalokasikan sumber daya kognitif untuk berbagai hal sekaligus. Ia perlu memperhatikan informasi, mengingat langkah-langkah, mengendalikan gerakan, memecahkan masalah, sekaligus mengabaikan gangguan dari lingkungan.

Misalnya, bayangkan seseorang sedang memperbaiki sebuah jam tangan.

Ia harus memperhatikan posisi komponen yang sangat kecil, mengontrol gerakan jari, mengingat bagaimana bagian-bagian tersebut dipasang, dan memastikan tidak ada komponen yang terlewat.

Dalam kondisi seperti ini, perhatian seseorang menjadi sangat terfokus.

Gerakan kecil seperti menjulurkan lidah bisa muncul sebagai bagian dari pola perilaku yang menyertai konsentrasi tersebut.

Yang menarik, orang tersebut sering kali tidak menyadarinya.

Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua perilaku tubuh dikendalikan secara sadar. Ketika perhatian utama seseorang diarahkan pada tugas tertentu, beberapa kebiasaan motorik kecil dapat muncul secara otomatis.

Jadi, ketika kamu melihat seseorang menjulurkan lidah saat sedang serius mengerjakan sesuatu, bisa jadi bukan karena ia sedang melakukan sesuatu yang aneh.

Justru sebaliknya.

Otaknya mungkin sedang bekerja sangat keras.

2. Gerakan Lidah Berkaitan dengan Sistem Motorik

Lidah bukan hanya bagian tubuh yang digunakan untuk berbicara dan makan. Lidah juga dikendalikan oleh sistem motorik yang sangat kompleks.

Ketika seseorang melakukan pekerjaan yang membutuhkan koordinasi tangan dan mata, otak mengaktifkan berbagai jaringan yang berhubungan dengan perencanaan dan pengendalian gerakan.

Dalam beberapa situasi, gerakan lidah dan mulut dapat ikut muncul ketika seseorang melakukan aktivitas motorik yang membutuhkan presisi.

Perhatikan anak kecil ketika sedang belajar menulis.

Ketika tangannya bergerak perlahan mengikuti garis atau membentuk huruf tertentu, terkadang mulutnya ikut bergerak. Ada anak yang membuka mulut, menggerakkan bibir, atau menjulurkan lidah.

Hal tersebut dapat menjadi bagian dari fenomena yang disebut motor overflow, yaitu munculnya gerakan tambahan yang tidak secara langsung diperlukan untuk menyelesaikan tugas.

Gerakan tersebut biasanya lebih mudah terlihat ketika seseorang sedang melakukan aktivitas yang membutuhkan ketelitian tinggi.

Dengan kata lain, ketika otak sedang berusaha mengontrol gerakan secara intensif, aktivitas motorik lain di sekitar area mulut dan wajah terkadang ikut muncul.

Itulah sebabnya seseorang bisa terlihat sangat serius sambil menjulurkan lidah.

3. Membantu Mengurangi Gangguan dari Lingkungan

Ketika seseorang sangat fokus, otaknya berusaha menyaring informasi yang tidak relevan.

Bayangkan kamu sedang membaca dokumen penting di tempat yang ramai.

Ada suara kendaraan, orang berbicara, notifikasi ponsel, musik, dan berbagai rangsangan lain yang sebenarnya tidak berhubungan dengan pekerjaanmu.

Agar dapat menyelesaikan tugas, otak harus memilih mana informasi yang perlu diperhatikan dan mana yang harus diabaikan.

Ekspresi wajah dan gerakan tubuh tertentu terkadang muncul sebagai bagian dari keadaan fokus tersebut.

Menjulurkan lidah bisa menjadi salah satu bentuk perilaku otomatis yang muncul ketika seseorang sedang "masuk" ke dalam tugas.

Hal ini juga dapat menjelaskan mengapa seseorang yang sangat berkonsentrasi sering kali tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya.

Ia mungkin tidak sadar bahwa seseorang sedang memanggil namanya.

Ia mungkin tidak menyadari ekspresi wajahnya.

Bahkan, ia mungkin tidak tahu bahwa lidahnya sedang sedikit keluar.

Perhatian pada saat itu sedang diarahkan hampir sepenuhnya kepada tugas yang ada di depan mata.

4. Sering Muncul Saat Seseorang Membutuhkan Koordinasi Tangan dan Mata

Salah satu situasi yang paling sering memperlihatkan fenomena ini adalah pekerjaan yang membutuhkan koordinasi tangan dan mata.

Contohnya:

menggambar,
menulis,
bermain alat musik,
menjahit,
bermain gim,
merakit benda,
memasukkan benda kecil ke tempat tertentu,
melakukan pekerjaan kerajinan,
olahraga tertentu,
atau mengoperasikan benda yang membutuhkan presisi.

Mengapa?

Karena aktivitas tersebut membutuhkan integrasi antara apa yang dilihat dan apa yang dilakukan tubuh.

Mata menerima informasi.

Otak memproses informasi tersebut.

Kemudian otak mengirimkan instruksi kepada tangan atau bagian tubuh lain.

Semakin sulit tugas tersebut, semakin besar kebutuhan terhadap koordinasi tersebut.

Dalam kondisi seperti itu, gerakan tubuh yang tidak diperlukan secara langsung dapat ikut muncul.

Lidah menjadi salah satu bagian tubuh yang kadang "ikut terlibat" dalam respons tersebut.

Ini juga menjadi alasan mengapa fenomena menjulurkan lidah sering terlihat pada anak-anak.

Anak-anak masih mengembangkan kemampuan motorik halus mereka. Karena itu, ketika mereka melakukan tugas yang membutuhkan koordinasi tinggi, gerakan tambahan pada wajah dan mulut dapat terlihat lebih jelas.

5. Bisa Menjadi Kebiasaan yang Terbentuk Sejak Kecil

Tidak semua orang yang menjulurkan lidah saat berkonsentrasi melakukannya karena mekanisme yang sama.

Pada sebagian orang, perilaku tersebut bisa menjadi kebiasaan.

Misalnya, ketika masih kecil, seseorang sering menjulurkan lidah setiap kali menggambar atau menulis. Kebiasaan itu kemudian berulang selama bertahun-tahun.

Lama-kelamaan, otak menghubungkan situasi tertentu dengan pola gerakan tersebut.

Ketika mulai berkonsentrasi, tubuh secara otomatis melakukan kebiasaan yang sama.

Orang tersebut bahkan mungkin tidak menyadarinya.

Ini mirip dengan berbagai kebiasaan kecil lainnya.

Ada orang yang menggigit bibir ketika berpikir.

Ada yang mengetukkan jari ke meja.

Ada yang mengerutkan dahi.

Ada yang menggoyangkan kaki.

Ada pula yang memainkan rambut ketika sedang berpikir.

Perilaku tersebut tidak selalu memiliki makna psikologis yang dalam.

Terkadang, itu hanyalah pola motorik yang sudah menjadi otomatis.

Karena itu, kita sebaiknya tidak langsung membuat kesimpulan kepribadian seseorang hanya berdasarkan kebiasaan menjulurkan lidah.

6. Menjadi Bagian dari Respons Tubuh Ketika Beban Kognitif Meningkat

Dalam psikologi kognitif terdapat konsep cognitive load, yaitu seberapa besar tuntutan mental yang sedang diberikan kepada seseorang ketika melakukan suatu tugas.

Semakin kompleks sebuah tugas, semakin besar pula beban kognitif yang diperlukan.

Misalnya, menghitung 2 + 2 membutuhkan usaha mental yang sangat kecil.

Namun, menghitung beberapa angka sambil mengingat informasi, mengikuti instruksi, dan membuat keputusan secara bersamaan jauh lebih berat.

Ketika beban kognitif meningkat, perhatian seseorang menjadi semakin terfokus.

Pada keadaan seperti itu, tubuh dapat menunjukkan berbagai tanda.

Seseorang mungkin:

mengerutkan dahi,
membuka mulut,
menggigit bibir,
menggerakkan bibir,
menjulurkan lidah,
berhenti berbicara,
atau mengurangi gerakan tubuh lainnya.

Semua itu tidak berarti bahwa satu gerakan tertentu memiliki satu makna yang pasti.

Namun, perilaku tersebut dapat menjadi bagian dari respons seseorang terhadap tuntutan mental yang tinggi.

Jadi, menjulurkan lidah bisa saja muncul ketika seseorang sedang berusaha keras menyelesaikan masalah.

Bukan karena ia tidak serius.

Justru mungkin karena ia terlalu serius.

7. Tidak Selalu Berarti Ada Masalah Psikologis

Ini adalah bagian yang penting.

Jika seseorang sering menjulurkan lidah ketika berkonsentrasi, jangan langsung menganggap bahwa ia memiliki gangguan psikologis.

Pada banyak orang, perilaku tersebut bisa sepenuhnya normal.

Kebiasaan kecil tubuh sangat beragam.

Ada orang yang menggigit kuku ketika tegang. Ada yang menggerakkan kaki ketika berpikir. Ada yang menyentuh wajah ketika berbicara. Ada pula yang menjulurkan lidah ketika membutuhkan konsentrasi.

Perilaku tersebut baru perlu mendapatkan perhatian lebih jika muncul bersama gejala lain yang mengganggu fungsi sehari-hari.

Misalnya, terdapat gerakan tidak terkendali yang semakin sering, kesulitan berbicara atau menelan, perubahan fungsi motorik, atau gejala lain yang tidak biasa.

Dalam kondisi seperti itu, penyebabnya tidak boleh langsung diasumsikan sebagai masalah psikologis. Evaluasi profesional dapat membantu menentukan apakah terdapat faktor neurologis, medis, perilaku, atau faktor lainnya.

Dengan demikian, menjulurkan lidah saat berkonsentrasi sendiri bukanlah tanda diagnosis tertentu.

Kita perlu melihat konteks dan pola perilaku secara keseluruhan.

Mengapa Anak-Anak Lebih Sering Melakukannya?

Jika kamu memperhatikan anak-anak ketika sedang menggambar atau bermain, kamu mungkin akan lebih sering melihat fenomena ini.

Hal tersebut masuk akal karena kemampuan kontrol motorik dan koordinasi mereka masih berkembang.

Ketika seorang anak mencoba melakukan tugas yang sulit, ia mungkin menggunakan lebih banyak sumber daya untuk mengontrol gerakannya.

Gerakan tambahan pada wajah, mulut, tangan, atau bagian tubuh lainnya kemudian menjadi lebih terlihat.

Seiring bertambahnya usia, kontrol motorik biasanya menjadi lebih matang sehingga gerakan semacam ini dapat berkurang.

Namun, pada sebagian orang, kebiasaan tersebut tetap bertahan hingga dewasa.

Karena itu, tidak aneh jika orang dewasa juga menjulurkan lidah ketika sedang melakukan aktivitas yang sangat membutuhkan ketelitian.

Apakah Menjulurkan Lidah Berarti Seseorang Sedang Gugup?

Belum tentu.

Konsentrasi dan kegugupan memang sama-sama dapat menyebabkan perubahan perilaku tubuh, tetapi keduanya merupakan keadaan psikologis yang berbeda.

Jika seseorang menjulurkan lidah ketika sedang menyelesaikan puzzle, menggambar, atau memperbaiki sesuatu, kemungkinan besar konteksnya adalah konsentrasi.

Namun, jika perilaku tersebut muncul bersama tanda-tanda kecemasan seperti tangan gemetar, napas cepat, gelisah, berkeringat, atau sulit berbicara, konteksnya mungkin berbeda.

Inilah mengapa bahasa tubuh tidak sebaiknya ditafsirkan hanya dari satu gerakan.

Satu perilaku tidak memiliki satu arti universal.

Kita harus memperhatikan situasi, ekspresi lain, kebiasaan individu, serta apa yang sedang dilakukan orang tersebut.

Apakah Orang yang Menjulurkan Lidah Saat Konsentrasi Lebih Kreatif?

Ini adalah anggapan yang menarik, tetapi tidak ada alasan kuat untuk menyimpulkan bahwa kebiasaan tersebut otomatis berarti seseorang lebih kreatif.

Orang kreatif bisa saja memiliki kebiasaan tersebut.

Namun, orang yang tidak kreatif juga bisa melakukannya.

Begitu pula dengan kecerdasan.

Menjulurkan lidah bukan indikator yang dapat digunakan untuk menentukan apakah seseorang cerdas, kreatif, fokus, atau memiliki kepribadian tertentu.

Kita perlu berhati-hati dengan berbagai klaim psikologi populer yang mengubah satu kebiasaan sederhana menjadi "tes kepribadian".

Psikologi yang baik melihat perilaku dalam konteks yang lebih luas.

Jadi, Apa Kesimpulannya?

Menjulurkan lidah ketika berkonsentrasi merupakan fenomena yang cukup menarik karena menunjukkan bahwa pikiran dan tubuh bekerja secara bersamaan.

Ketika seseorang mengerjakan tugas yang membutuhkan perhatian tinggi, koordinasi motorik, atau pemecahan masalah, tubuh dapat menghasilkan berbagai gerakan otomatis.

Beberapa orang mengerutkan dahi.

Sebagian menggigit bibir.

Ada yang menggerakkan kaki.

Dan sebagian lainnya mungkin menjulurkan lidah.

Secara sederhana, 7 alasan yang mungkin menjelaskan perilaku tersebut adalah:

Otak sedang mengalokasikan banyak sumber daya untuk tugas yang sulit.
Aktivitas motorik tangan dan lidah dapat saling berkaitan dalam situasi tertentu.
Perilaku tersebut dapat muncul ketika perhatian sangat terfokus.
Sering terlihat pada aktivitas yang membutuhkan koordinasi tangan dan mata.
Bisa menjadi kebiasaan yang terbentuk sejak masa kanak-kanak.
Dapat muncul ketika beban kognitif meningkat.
Tidak otomatis menunjukkan adanya masalah psikologis.

Pada akhirnya, kebiasaan menjulurkan lidah saat berkonsentrasi mungkin terlihat sederhana, tetapi ia mengingatkan kita pada satu hal penting: pikiran dan tubuh tidak pernah benar-benar bekerja secara terpisah.

Ketika kita sedang berpikir keras, tubuh sering kali ikut memberikan respons tanpa kita sadari.

Jadi, lain kali kamu melihat seseorang menjulurkan lidah ketika sedang serius mengerjakan sesuatu, jangan buru-buru menganggapnya aneh.

Bisa jadi, pada saat itu, pikirannya sedang benar-benar tenggelam dalam apa yang sedang ia kerjakan.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore