seseorang yang terlambat hadir / foto: Magnific/pressfoto
Namun, ada sisi lain dari perfeksionisme yang terkadang terlihat paradoks. Seseorang yang sangat memperhatikan kualitas justru bisa sering terlambat menghadiri pertemuan, menyelesaikan pekerjaan, atau berangkat ke suatu tempat.
Hal ini bukan selalu berarti orang tersebut tidak menghargai waktu. Dalam psikologi, keterlambatan dapat berkaitan dengan cara seseorang memperkirakan waktu, mengambil keputusan, mengelola kecemasan, hingga menghadapi keinginan untuk melakukan sesuatu dengan sempurna.
Dengan kata lain, perfeksionisme tidak selalu membuat seseorang lebih efisien. Dalam situasi tertentu, standar yang terlalu tinggi justru dapat membuat proses menjadi lebih panjang.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (28/8), terdapat enam alasan mengapa orang dengan sifat perfeksionis sering terlambat menurut sudut pandang psikologi.
1. Terlalu Banyak Memperhatikan Detail
Salah satu karakteristik yang sering muncul pada perfeksionisme adalah perhatian yang sangat besar terhadap detail. Bagi orang perfeksionis, menyelesaikan sesuatu bukan sekadar membuatnya selesai, tetapi memastikan bahwa hasilnya sesuai dengan standar yang mereka anggap ideal.
Masalahnya, perhatian terhadap detail membutuhkan waktu.
Misalnya, seseorang sebenarnya hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk bersiap sebelum pergi. Namun, ia mulai memperhatikan hal-hal kecil: pakaian mana yang paling sesuai, apakah penampilannya sudah cukup rapi, apakah barang yang dibawa sudah lengkap, atau apakah ada sesuatu yang masih perlu diperbaiki.
Hal-hal kecil tersebut mungkin terlihat sepele jika dilihat satu per satu. Namun, ketika semuanya dilakukan sekaligus, waktu yang digunakan dapat bertambah secara signifikan.
Dalam konteks psikologi, kecenderungan ini dapat berkaitan dengan overchecking atau perilaku memeriksa sesuatu secara berulang untuk memastikan tidak ada kesalahan.
Orang perfeksionis bisa mengalami pola berpikir seperti:
"Sepertinya sudah bagus, tetapi mungkin masih ada yang kurang."
Kemudian muncul dorongan untuk memeriksa kembali.
Setelah diperiksa, muncul lagi pikiran:
"Bagaimana kalau sebenarnya masih belum cukup baik?"
Akhirnya, aktivitas yang seharusnya sederhana menjadi jauh lebih lama.
Ironisnya, orang tersebut mungkin sebenarnya sadar bahwa ia sedang menghabiskan waktu. Namun, dorongan untuk memastikan semuanya sempurna terasa lebih kuat daripada keinginan untuk segera selesai.
Karena itu, keterlambatan seorang perfeksionis terkadang bukan disebabkan oleh kemalasan, melainkan karena standar kualitas yang diterapkan pada hal-hal yang sebenarnya tidak membutuhkan kesempurnaan.
2. Sulit Menentukan Kapan Sesuatu Sudah "Cukup Baik"
Perfeksionisme sering berkaitan dengan kesulitan menerima hasil yang dianggap belum ideal.
Bagi banyak orang, sebuah pekerjaan bisa dianggap selesai ketika memenuhi standar yang diperlukan. Bagi orang perfeksionis, standar tersebut dapat terasa jauh lebih tinggi.
Perbedaan ini terlihat dalam cara seseorang menyelesaikan pekerjaan.
Orang biasa mungkin berpikir:
"Ini sudah cukup untuk dikumpulkan."
Sementara orang perfeksionis mungkin berpikir:
"Masih bisa diperbaiki."
Kalimat kedua tampaknya positif karena menunjukkan keinginan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Namun, jika muncul terus-menerus, proses tersebut dapat membuat seseorang kehilangan batas antara perbaikan yang bermanfaat dan perbaikan yang tidak lagi memberikan dampak berarti.
Misalnya, seseorang memiliki tugas yang harus selesai pukul 09.00. Ia sebenarnya sudah menyelesaikannya pukul 08.30. Namun, karena merasa masih ada bagian yang bisa diperbaiki, ia menghabiskan 15 menit berikutnya untuk menyempurnakannya.
Lalu ia menemukan kesalahan kecil.
Ia memperbaikinya.
Setelah itu, ia membaca ulang seluruh pekerjaan.
Kemudian menemukan bagian lain yang menurutnya kurang menarik.
Ia memperbaikinya lagi.
Tanpa disadari, waktu terus berjalan.
Pada akhirnya, ia terlambat bukan karena tidak mengerjakan tugas, tetapi karena kesulitan menerima bahwa pekerjaan tersebut sudah cukup baik untuk tujuan yang diperlukan.
Kemampuan menentukan kapan harus berhenti merupakan bagian penting dari manajemen waktu. Perfeksionisme yang terlalu kuat dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan tersebut.
3. Terlalu Banyak Berpikir Sebelum Mengambil Keputusan
Perfeksionisme juga dapat membuat pengambilan keputusan menjadi lebih lama.
Seseorang yang memiliki standar sangat tinggi mungkin merasa perlu memastikan bahwa pilihannya adalah pilihan terbaik. Akibatnya, keputusan sederhana pun bisa berubah menjadi proses pertimbangan yang panjang.
Contohnya terlihat ketika seseorang hendak memilih pakaian sebelum bekerja.
Bagi sebagian orang, pilihannya sederhana: mengambil pakaian yang tersedia, mengenakannya, lalu berangkat.
Namun, orang yang perfeksionis mungkin mulai mempertimbangkan berbagai hal:
Apakah warnanya cocok?
Apakah modelnya sesuai?
Apakah terlihat terlalu formal?
Bagaimana jika bertemu orang tertentu?
Apakah pakaian tersebut cocok dengan suasana hari ini?
Apakah ada pilihan yang lebih baik?
Semakin banyak kemungkinan yang dipertimbangkan, semakin lama proses pengambilan keputusan.
Hal yang sama dapat terjadi dalam pekerjaan. Orang perfeksionis mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk memilih kata dalam sebuah email, menentukan format presentasi, menyusun laporan, atau bahkan memilih cara terbaik untuk memulai suatu tugas.
Di balik perilaku tersebut terdapat keinginan untuk mengurangi kemungkinan kesalahan.
Namun, tidak semua keputusan membutuhkan tingkat kepastian yang sama.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak keputusan sebenarnya dapat dibuat dengan informasi yang cukup, bukan informasi yang sempurna.
Jika seseorang selalu menunggu sampai merasa 100 persen yakin, ia dapat kehilangan waktu yang seharusnya digunakan untuk bertindak.
Dengan demikian, salah satu penyebab keterlambatan pada orang perfeksionis adalah analysis paralysis, yaitu kondisi ketika terlalu banyak analisis justru menghambat tindakan.
4. Takut Melakukan Kesalahan atau Mendapat Penilaian Negatif
Perfeksionisme tidak hanya berhubungan dengan keinginan mendapatkan hasil yang bagus. Pada sebagian orang, perfeksionisme juga berkaitan dengan ketakutan terhadap kegagalan.
Seseorang mungkin berpikir bahwa melakukan kesalahan berarti dirinya tidak cukup kompeten, tidak cukup pintar, atau tidak cukup baik.
Akibatnya, ia berusaha melakukan segala sesuatu seaman mungkin.
Misalnya, seseorang harus melakukan presentasi pukul 10.00. Alih-alih hanya mempersiapkan materi utama, ia terus berlatih, memperbaiki slide, memeriksa data, mencari kemungkinan pertanyaan, dan membayangkan berbagai skenario buruk.
Persiapan tentu merupakan hal yang baik.
Namun, persiapan yang didorong oleh ketakutan dapat menjadi berlebihan.
Orang tersebut mungkin merasa:
"Kalau masih ada kemungkinan saya salah, berarti saya belum siap."
Masalahnya, hampir tidak ada situasi yang memberikan kepastian sempurna.
Semakin seseorang berusaha menghilangkan semua kemungkinan kesalahan, semakin banyak waktu yang dapat dihabiskan.
Ketakutan terhadap evaluasi negatif juga dapat membuat seseorang membutuhkan waktu lebih lama untuk bersiap sebelum bertemu orang lain. Ia mungkin terlalu memperhatikan penampilan, cara berbicara, barang yang dibawa, atau bagaimana dirinya akan dipersepsikan.
Pada akhirnya, kecemasan yang muncul dari keinginan untuk tampil sempurna justru dapat berkontribusi terhadap keterlambatan.
5. Memiliki Perkiraan Waktu yang Tidak Realistis
Salah satu masalah penting dalam keterlambatan adalah kemampuan memperkirakan durasi sebuah aktivitas.
Orang perfeksionis terkadang membuat rencana berdasarkan kondisi ideal.
Misalnya, ia memperkirakan:
mandi 10 menit,
berpakaian 10 menit,
sarapan 10 menit,
perjalanan 20 menit.
Secara matematis, semuanya terlihat masuk akal.
Namun, rencana tersebut tidak memperhitungkan hal-hal kecil yang dapat muncul di antara aktivitas tersebut.
Bagaimana jika memilih pakaian membutuhkan waktu tambahan?
Bagaimana jika sebelum berangkat ia merasa perlu merapikan sesuatu?
Bagaimana jika ia kembali memeriksa barang bawaan?
Bagaimana jika perjalanan sedikit lebih lama dari perkiraan?
Ketika semua aktivitas dihitung berdasarkan skenario ideal, jadwal menjadi sangat rapat.
Psikologi mengenal kecenderungan manusia untuk meremehkan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas tertentu sebagai planning fallacy. Seseorang dapat membuat estimasi berdasarkan rencana terbaik, bukan berdasarkan pengalaman nyata tentang berapa lama tugas tersebut biasanya berlangsung.
Pada orang dengan kecenderungan perfeksionis, persoalan ini dapat semakin terasa karena durasi aktivitas mungkin memang lebih panjang akibat perhatian terhadap detail.
Misalnya, ia tahu bahwa biasanya membutuhkan 30 menit untuk bersiap. Namun, ia tetap menjadwalkan hanya 20 menit karena merasa kali ini bisa lebih cepat.
Ketika proses berjalan seperti biasanya, jadwal pun berantakan.
Karena itu, orang perfeksionis mungkin sebenarnya memiliki niat untuk datang tepat waktu, tetapi estimasi waktunya tidak sesuai dengan perilaku aktualnya.
6. Menunda karena Menunggu Kondisi yang "Ideal"
Alasan terakhir berkaitan dengan kecenderungan menunggu kondisi yang dirasa sempurna sebelum mulai melakukan sesuatu.
Ini bisa menjadi bentuk prokrastinasi yang cukup halus.
Seseorang mungkin ingin mengerjakan tugas dengan sangat baik. Namun, karena ia merasa belum memiliki kondisi yang ideal, ia menundanya.
"Nanti saja kalau suasananya sudah lebih tenang."
"Saya akan mulai setelah semua kebutuhan saya siap."
"Saya harus menemukan cara terbaik dulu."
"Kalau waktunya tinggal sedikit, saya justru bisa lebih fokus."
Masalahnya, kondisi ideal sering kali tidak datang.
Akhirnya, tugas baru benar-benar dikerjakan ketika tenggat waktu sudah dekat. Karena waktu semakin sedikit, seseorang menjadi terburu-buru dan berisiko menghasilkan pekerjaan yang tidak sesuai dengan standar pribadinya.
Siklus ini kemudian dapat berulang:
standar tinggi → takut hasil tidak sempurna → menunda → waktu semakin sedikit → terburu-buru → stres → hasil tidak sesuai harapan → semakin ingin mengontrol pekerjaan berikutnya.
Dalam jangka panjang, pola tersebut dapat membuat seseorang merasa frustrasi terhadap dirinya sendiri.
Menariknya, orang lain mungkin melihatnya sebagai seseorang yang "selalu terlambat", padahal di dalam dirinya terdapat konflik antara keinginan untuk melakukan sesuatu dengan sempurna dan keterbatasan waktu yang tersedia.
Perfeksionisme Tidak Selalu Berarti Disiplin yang Lebih Tinggi
Penting untuk memahami bahwa perfeksionisme dan kedisiplinan bukanlah hal yang sama.
Seseorang dapat memiliki standar tinggi sekaligus memiliki kemampuan mengatur waktu dengan baik. Namun, ketika standar tersebut menjadi terlalu kaku, perfeksionisme dapat berubah dari motivasi menjadi hambatan.
Perbedaannya terletak pada fleksibilitas.
Orang yang sehat dalam mengejar kualitas dapat berkata:
"Saya ingin hasilnya bagus, tetapi saya tahu kapan harus berhenti."
Sementara perfeksionisme yang tidak fleksibel cenderung berkata:
"Kalau belum sempurna, berarti belum selesai."
Yang pertama memungkinkan seseorang menyesuaikan kualitas dengan situasi. Yang kedua dapat membuat seseorang menghabiskan terlalu banyak sumber daya untuk mendapatkan hasil yang hanya sedikit lebih baik.
Dalam kehidupan sehari-hari, tidak semua hal membutuhkan kesempurnaan.
Ada situasi ketika ketepatan waktu lebih penting daripada detail tambahan. Ada pekerjaan yang harus selesai terlebih dahulu sebelum disempurnakan. Ada pula keputusan yang cukup dibuat berdasarkan informasi yang tersedia.
Belajar membedakan antara "harus sempurna" dan "harus cukup baik" dapat membantu orang dengan kecenderungan perfeksionis mengelola waktunya dengan lebih efektif.
Cara Mengurangi Kebiasaan Terlambat akibat Perfeksionisme
Jika seseorang menyadari bahwa keterlambatannya berkaitan dengan kecenderungan perfeksionis, beberapa strategi sederhana dapat membantu.
1. Tentukan batas waktu untuk setiap aktivitas
Jangan hanya mengatakan, "Saya akan bersiap sekarang."
Tetapkan batas yang jelas, misalnya:
07.00–07.20: bersiap.
Ketika waktu habis, aktivitas harus dihentikan meskipun hasilnya belum terasa sempurna.
2. Gunakan prinsip "cukup baik"
Tanyakan kepada diri sendiri:
"Apakah perbaikan berikutnya benar-benar memberikan manfaat besar?"
Jika jawabannya tidak, mungkin sudah waktunya berhenti.
3. Berikan waktu cadangan
Jika biasanya membutuhkan 30 menit untuk bersiap, jangan membuat jadwal hanya 30 menit. Berikan tambahan waktu untuk hal-hal tak terduga.
Buffer waktu dapat membantu mengurangi tekanan ketika terjadi sedikit keterlambatan dalam proses.
4. Bedakan kesalahan penting dan kesalahan kecil
Tidak semua kesalahan memiliki konsekuensi yang sama.
Kesalahan dalam data keuangan mungkin harus diperiksa dengan serius. Tetapi memilih antara dua pakaian yang sama-sama pantas dipakai tidak membutuhkan analisis selama 20 menit.
5. Latih kemampuan mengambil keputusan sederhana dengan cepat
Mulailah dari hal-hal kecil.
Pilih pakaian dalam satu menit. Pilih menu dalam beberapa menit. Balas email setelah informasi yang dibutuhkan sudah cukup.
Tujuannya bukan membuat keputusan secara ceroboh, tetapi melatih otak bahwa tidak semua keputusan membutuhkan kepastian maksimal.
6. Perhatikan pola keterlambatan
Coba catat selama beberapa hari:
kapan biasanya terlambat,
aktivitas apa yang paling banyak menghabiskan waktu,
apa yang dilakukan sebelum terlambat,
dan pikiran apa yang muncul ketika bersiap.
Dari sana, pola dapat terlihat lebih jelas.
Mungkin masalah sebenarnya bukan "sulit bangun pagi", melainkan terlalu lama memilih pakaian. Bisa juga bukan "tidak bisa mengatur waktu", tetapi terlalu sering memeriksa pekerjaan yang sebenarnya sudah selesai.
Kesimpulan
Orang dengan sifat perfeksionis bisa sering terlambat bukan karena mereka tidak peduli terhadap waktu. Justru sebaliknya, keinginan untuk melakukan sesuatu dengan benar dapat membuat mereka menghabiskan lebih banyak waktu daripada yang direncanakan.
Enam penyebab yang mungkin berperan adalah terlalu memperhatikan detail, sulit merasa bahwa sesuatu sudah cukup baik, terlalu banyak berpikir sebelum mengambil keputusan, takut melakukan kesalahan, memperkirakan waktu secara tidak realistis, dan menunda sampai kondisi terasa ideal.
Perfeksionisme pada dasarnya bukan sesuatu yang selalu buruk. Standar tinggi dapat mendorong seseorang menghasilkan pekerjaan yang berkualitas. Namun, standar tersebut perlu disertai fleksibilitas.
Pada akhirnya, menjadi tepat waktu bukan berarti harus mengorbankan kualitas. Yang perlu dipelajari adalah menentukan kapan kualitas tambahan memang penting dan kapan "cukup baik" sudah benar-benar cukup.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Racing Santander vs Elche di Liga Spanyol 2026/2027: Tuan Rumah Kunci 3 Poin!
Prediksi Skor Alaves vs Villarreal di Liga Spanyol 2026/2027: Sengit, Berakhir Imbang?
Prediksi Skor Deportivo Alaves vs Villarreal di Liga Spanyol: Babazorros Bisa Buat Kejutan
Kronologi Kericuhan di Pejompongan yang Tewaskan Lansia dan Bikin Pelajar Babak Belur
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Newcastle di Liga Inggris 2026/2027: Sengit, Berpotensi Imbang!
Prediksi Skor Levante vs Real Betis di Liga Spanyol 2026/2027: Tim Tamu Bisa Curi 3 Poin!
Prediksi Skor Bournemouth vs Everton di Liga Inggris 2026/2027: Berpotensi Imbang!
Prediksi Skor Coventry City vs Hull City di Liga Inggris 2026/2027: Bisa Berakhir Imbang!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Susunan Pemain AC Milan vs Venezia: Fisik Adrien Rabiot Belum Siap, Rafael Leao Absen
