Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 27 Agustus 2026 | 06.00 WIB

Jika Anda Ingin Berusaha Mengembangkan Kepribadian Diri, Cobalah 7 Ide Aneh yang Terbukti Ini

seseorang yang mengembangkan kepribadian diri / foto: Magnific/magnific

 

JawaPos.com - Mengembangkan kepribadian diri sering kali dibayangkan sebagai sesuatu yang serius: membaca buku pengembangan diri, mengikuti seminar, membuat target besar, atau memaksa diri untuk selalu menjadi versi terbaik setiap hari. Padahal, perubahan dalam diri tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Justru, beberapa kebiasaan yang terlihat aneh, sederhana, bahkan sedikit tidak nyaman dapat membantu seseorang memahami dirinya dengan lebih baik. Psikologi menunjukkan bahwa kepribadian dan pola perilaku tidak sepenuhnya kaku. Cara seseorang berpikir, merespons situasi, berinteraksi dengan orang lain, serta mengelola emosinya dapat berkembang melalui pengalaman dan latihan yang dilakukan secara konsisten.

Menariknya, beberapa cara untuk melatih diri terdengar berlawanan dengan intuisi.

Anda mungkin perlu sengaja melakukan sesuatu yang biasanya Anda hindari. Anda mungkin perlu diam ketika biasanya ingin menjelaskan diri. Anda mungkin perlu berbicara kepada diri sendiri. Bahkan, sesekali Anda mungkin perlu melakukan sesuatu yang tidak nyaman hanya untuk membuktikan kepada diri sendiri bahwa Anda mampu melewatinya.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (26/8), terdapat tujuh ide yang mungkin terdengar aneh, tetapi dapat menjadi latihan psikologis yang menarik jika dilakukan dengan cara yang sehat.

1. Sengaja Lakukan Hal Kecil yang Membuat Anda Tidak Nyaman

Banyak orang mengira perkembangan diri berarti membuat hidup menjadi semakin nyaman. Padahal, terlalu sering menghindari ketidaknyamanan justru dapat membuat seseorang semakin sensitif terhadap hal-hal yang sebenarnya dapat ia hadapi.

Karena itu, salah satu latihan yang cukup menarik adalah sengaja menghadapi ketidaknyamanan kecil.

Bukan berarti Anda harus melakukan sesuatu yang berbahaya atau ekstrem. Anda bisa memulainya dari hal sederhana.

Misalnya, jika biasanya Anda takut berbicara dengan orang baru, cobalah menyapa seseorang terlebih dahulu. Jika Anda selalu takut memberikan pendapat dalam diskusi, cobalah menyampaikan satu pendapat singkat. Jika Anda terbiasa menunda pekerjaan karena takut hasilnya tidak sempurna, cobalah mengerjakan versi pertama tanpa menuntut kesempurnaan.

Mengapa ini dapat membantu?

Karena otak belajar dari pengalaman. Ketika Anda menghadapi sesuatu yang membuat cemas dan kemudian menyadari bahwa Anda mampu melewatinya, pengalaman tersebut dapat memberikan informasi baru kepada diri sendiri: ternyata saya mampu menghadapi ini.

Dalam psikologi, pengalaman berhasil menghadapi tantangan dapat berhubungan dengan meningkatnya self-efficacy, yaitu keyakinan bahwa seseorang mampu melakukan tindakan yang diperlukan untuk menghadapi situasi tertentu.

Menariknya, keberanian biasanya tidak muncul sebelum seseorang bertindak.

Sering kali, keberanian justru muncul setelah seseorang mulai bertindak.

Jadi, jangan selalu menunggu sampai merasa percaya diri. Terkadang, Anda perlu bertindak terlebih dahulu agar rasa percaya diri memiliki kesempatan untuk tumbuh.

2. Berbicaralah kepada Diri Sendiri dengan Menyebut Nama Anda

Kebiasaan berbicara kepada diri sendiri mungkin terdengar aneh.

Namun, hampir semua orang sebenarnya melakukan dialog internal. Bedanya, sebagian besar orang melakukannya tanpa menyadarinya.

Ketika menghadapi masalah, Anda mungkin berkata dalam hati:

"Aku pasti gagal."

"Aku memang tidak pintar."

"Aku tidak akan mampu."

Salah satu cara yang menarik adalah mengubah cara berbicara tersebut dengan menggunakan nama sendiri atau kata ganti orang kedua.

Misalnya, daripada mengatakan:

"Aku tidak boleh gugup."

cobalah:

"Irfan, tenang. Kamu sudah mempersiapkan ini."

Atau:

"Kamu sedang menghadapi masalah, tetapi kamu bisa menyelesaikannya satu langkah demi satu langkah."

Mengapa cara sederhana ini menarik?

Sejumlah penelitian mengenai self-talk dan distanced self-talk menunjukkan bahwa mengubah perspektif ketika berbicara kepada diri sendiri dapat membantu seseorang mengatur emosi dan mengevaluasi situasi dengan lebih objektif.

Bayangkan Anda sedang menasihati seorang teman.

Ketika teman Anda gagal, mungkin Anda tidak langsung mengatakan, "Kamu memang bodoh." Anda kemungkinan akan mengatakan, "Tidak apa-apa. Cari tahu apa yang salah dan coba lagi."

Namun, kepada diri sendiri, kita sering memberikan perlakuan yang jauh lebih keras.

Dengan menyebut nama sendiri atau menggunakan "kamu", Anda seolah-olah menciptakan sedikit jarak psikologis. Jarak tersebut dapat membantu Anda melihat masalah bukan hanya sebagai orang yang sedang mengalami emosi, tetapi juga sebagai seseorang yang sedang memberikan nasihat kepada dirinya sendiri.

Tentu saja, berbicara kepada diri sendiri bukan solusi untuk semua masalah. Namun, sebagai latihan refleksi, cara ini sangat sederhana dan tidak membutuhkan alat apa pun.

3. Sengaja Katakan "Tidak" pada Hal yang Sebenarnya Ingin Anda Setujui

Ini mungkin salah satu latihan yang paling aneh.

Bukan karena mengatakan "tidak" itu buruk, tetapi karena banyak orang memiliki kecenderungan untuk mengatakan "iya" agar diterima, disukai, atau menghindari konflik.

Jika Anda terbiasa selalu menyenangkan orang lain, cobalah melatih batasan diri.

Bukan dengan menjadi kasar.

Bukan pula dengan menolak semua permintaan.

Tetapi dengan belajar membedakan antara:

"Saya memang ingin melakukannya."

dan

"Saya melakukannya karena takut orang lain kecewa."

Misalnya, seseorang mengajak Anda pergi ketika Anda sebenarnya membutuhkan waktu untuk beristirahat. Anda tidak harus mencari alasan panjang.

Cukup katakan:

"Terima kasih sudah mengajak. Kali ini saya tidak bisa ikut."

Sederhana.

Mengapa ini dapat menjadi latihan pengembangan diri?

Karena kemampuan menetapkan batasan berkaitan dengan pemahaman terhadap kebutuhan, prioritas, dan nilai pribadi.

Orang yang terus-menerus mengorbankan dirinya demi penerimaan sosial dapat kehilangan kontak dengan apa yang sebenarnya ia inginkan.

Menariknya, mengatakan "tidak" juga mengajarkan sesuatu yang sangat penting:

Anda tidak dapat mengendalikan apakah semua orang akan menyukai Anda.

Dan menerima kenyataan tersebut merupakan bagian penting dari kedewasaan psikologis.

Anda tidak perlu membuat semua orang puas untuk menjadi orang yang baik.

4. Lakukan Sesuatu Sendirian yang Biasanya Anda Lakukan Bersama Orang Lain

Pergi ke restoran sendirian.

Menonton film sendirian.

Berjalan-jalan sendirian.

Duduk di sebuah tempat sambil membaca buku tanpa ditemani.

Bagi sebagian orang, aktivitas tersebut terasa sangat aneh.

Ada kekhawatiran bahwa orang lain akan memperhatikan, menganggap Anda kesepian, atau bertanya-tanya mengapa Anda sendirian.

Padahal, kemungkinan besar orang lain tidak terlalu memperhatikan Anda sebanyak yang Anda bayangkan.

Fenomena psikologis yang dikenal sebagai spotlight effect menggambarkan kecenderungan manusia untuk melebih-lebihkan seberapa besar orang lain memperhatikan penampilan dan perilakunya.

Dengan kata lain, kita sering merasa seolah-olah sedang berada di bawah sorotan.

Padahal, orang lain sibuk memikirkan kehidupannya sendiri.

Sesekali melakukan aktivitas sendirian dapat menjadi latihan untuk membangun kenyamanan terhadap diri sendiri.

Anda belajar bahwa kesendirian tidak selalu berarti kesepian.

Anda juga belajar menikmati pengalaman tanpa membutuhkan validasi sosial setiap saat.

Tentu saja, manusia tetap membutuhkan hubungan sosial. Tujuan latihan ini bukan untuk menjauh dari orang lain, melainkan untuk membangun kemampuan bahwa Anda juga dapat merasa nyaman ketika tidak sedang ditemani.

Ada perbedaan besar antara:

"Saya sendirian karena tidak ada yang mau menemani."

dan:

"Saya sedang sendirian dan saya tetap bisa menikmati waktu saya."

Cara pandang kedua menunjukkan kemandirian psikologis yang lebih sehat.

5. Tulis Pikiran Terburuk Anda, Bukan Pikiran Terbaik Anda

Kebanyakan jurnal pengembangan diri berisi kalimat positif.

"Saya akan sukses."

"Saya harus percaya diri."

"Hari ini saya harus produktif."

Tidak ada yang salah dengan itu.

Namun, terkadang kita justru mendapatkan manfaat dari melakukan sesuatu yang berlawanan: menulis apa yang sebenarnya membuat kita takut.

Ambil selembar kertas.

Kemudian tuliskan:

"Apa hal terburuk yang saya khawatirkan saat ini?"

Jangan memperindah jawabannya.

Jika Anda takut gagal, tuliskan.

Jika Anda takut ditolak, tuliskan.

Jika Anda takut terlihat bodoh, tuliskan.

Jika Anda takut mengecewakan seseorang, tuliskan.

Kemudian tanyakan:

"Seberapa realistis kemungkinan ini benar-benar terjadi?"

Lalu:

"Jika hal tersebut terjadi, apa yang sebenarnya bisa saya lakukan?"

Latihan seperti ini memiliki kemiripan dengan teknik dalam pendekatan psikologis yang membantu seseorang mengidentifikasi dan mengevaluasi pikiran yang menimbulkan kecemasan.

Masalah sering kali terasa sangat besar ketika hanya berputar di dalam kepala.

Ketika dituliskan, pikiran tersebut menjadi sesuatu yang dapat diamati.

Anda tidak lagi hanya merasakan ketakutan.

Anda mulai memeriksa ketakutan tersebut.

Itulah perbedaannya.

Menulis bukan berarti semua kekhawatiran akan langsung hilang. Tetapi menempatkan pikiran ke dalam bentuk yang lebih konkret dapat membantu Anda melihat apakah kekhawatiran tersebut merupakan fakta, kemungkinan, atau sekadar prediksi yang dibuat oleh pikiran.

6. Sengaja Menjadi Pemula Lagi

Salah satu hal yang paling tidak nyaman bagi orang dewasa adalah menjadi pemula.

Ketika sudah terbiasa dianggap pintar, kompeten, atau berpengalaman dalam suatu bidang, kita cenderung ingin mempertahankan citra tersebut.

Masalahnya, perkembangan selalu membutuhkan fase ketika kita belum mahir.

Karena itu, cobalah melakukan sesuatu yang benar-benar baru.

Belajar menggambar.

Belajar bahasa baru.

Belajar memainkan alat musik.

Mencoba memasak sesuatu yang belum pernah dibuat.

Belajar olahraga yang belum pernah dilakukan.

Tujuannya bukan menjadi ahli.

Tujuannya adalah merasakan kembali bagaimana rasanya tidak bisa.

Ini penting karena pengalaman menjadi pemula dapat melatih toleransi terhadap kesalahan dan ketidakpastian.

Anda akan melakukan kesalahan.

Anda akan terlihat canggung.

Anda mungkin menghasilkan sesuatu yang buruk.

Dan justru di situlah latihan psikologisnya.

Anda belajar bahwa harga diri tidak harus bergantung pada kemampuan untuk selalu terlihat hebat.

Seseorang yang mampu berkata, "Saya belum bisa, tetapi saya mau belajar," memiliki pola pikir yang jauh lebih fleksibel daripada seseorang yang merasa harus selalu terlihat sempurna.

Menjadi pemula juga mengingatkan kita pada satu hal:

Tidak mahir bukan berarti tidak mampu.

Itu hanya berarti Anda sedang berada di awal proses.

7. Berhenti Berusaha Memperbaiki Diri Selama Beberapa Menit

Ini mungkin terdengar paling kontradiktif.

Jika Anda ingin mengembangkan kepribadian, mengapa justru harus berhenti berusaha memperbaiki diri?

Karena pengembangan diri yang sehat tidak sama dengan terus-menerus merasa bahwa diri Anda kurang.

Ada perbedaan antara:

"Saya ingin berkembang."

dan:

"Saya tidak akan pernah cukup baik sampai saya berubah."

Kalimat pertama dapat menjadi motivasi.

Kalimat kedua dapat berubah menjadi tekanan.

Cobalah mengambil beberapa menit setiap hari tanpa mengevaluasi diri.

Tidak perlu bertanya:

"Apakah saya sudah cukup produktif?"

"Apakah saya sudah lebih percaya diri?"

"Apa yang harus saya perbaiki?"

"Mengapa saya belum seperti orang lain?"

Cukup berhenti sejenak.

Bernapas.

Mengamati apa yang Anda rasakan.

Menerima bahwa Anda tidak harus selalu mengalami kemajuan yang terlihat setiap hari.

Dalam psikologi, sikap menerima pengalaman internal tanpa langsung menghakiminya memiliki kaitan dengan konsep mindfulness dan penerimaan diri.

Perkembangan pribadi membutuhkan evaluasi, tetapi terlalu banyak evaluasi dapat berubah menjadi kritik diri tanpa akhir.

Kadang-kadang, Anda berkembang bukan ketika memaksa diri menjadi seseorang yang berbeda, tetapi ketika mulai memahami siapa diri Anda sekarang.

Perubahan Kepribadian Tidak Selalu Dimulai dari Hal Besar

Ketujuh ide tersebut memiliki satu kesamaan.

Semuanya meminta Anda untuk melakukan sesuatu yang sedikit berbeda dari kebiasaan lama.

Menghadapi ketidaknyamanan.

Berbicara kepada diri sendiri dengan lebih berjarak.

Mengatakan tidak.

Melakukan sesuatu sendirian.

Menuliskan ketakutan.

Menjadi pemula.

Dan berhenti sejenak dari obsesi untuk memperbaiki diri.

Tidak satu pun dari kebiasaan tersebut merupakan "trik ajaib" yang akan mengubah kepribadian dalam semalam.

Kepribadian manusia terbentuk dari banyak faktor: pengalaman, lingkungan, kebiasaan, hubungan sosial, proses belajar, serta kecenderungan biologis. Perubahan juga biasanya berlangsung secara bertahap.

Namun, perubahan kecil dapat memiliki arti besar ketika dilakukan berulang kali.

Bayangkan seseorang yang setiap minggu melatih dirinya melakukan satu hal yang sedikit tidak nyaman. Setelah berbulan-bulan, ia mungkin tidak menjadi orang yang sepenuhnya berbeda.

Tetapi mungkin ia menjadi sedikit lebih berani.

Sedikit lebih mandiri.

Sedikit lebih mampu mengelola emosi.

Sedikit lebih toleran terhadap kesalahan.

Dan sedikit lebih mengenal dirinya sendiri.

Itulah inti dari pengembangan kepribadian.

Bukan menjadi manusia yang sempurna.

Melainkan menjadi seseorang yang semakin mampu memahami dirinya, mengambil keputusan dengan sadar, menghadapi ketidaknyamanan, membangun hubungan yang sehat, dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai yang dianggap penting.

Jadi, jika Anda ingin mengembangkan kepribadian diri, jangan selalu mencari metode yang paling rumit.

Mungkin justru cobalah sesuatu yang sederhana dan sedikit aneh.

Lakukan satu hal yang biasanya Anda hindari.

Katakan satu "tidak" yang memang perlu dikatakan.

Habiskan waktu sendirian tanpa merasa harus menjelaskannya.

Izinkan diri Anda menjadi pemula.

Dan sesekali berhentilah berusaha menjadi versi yang lebih baik, lalu belajar menghargai versi diri Anda yang sedang berproses.

Karena terkadang, perubahan terbesar dalam diri tidak dimulai ketika kita melakukan sesuatu yang luar biasa.

Perubahan itu dimulai ketika kita berani melakukan hal kecil dengan cara yang berbeda.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore