seseorang yang menyebalkan di tempat kerja / foto: Magnific/katemangostar
Orang yang menyebalkan di tempat kerja tidak selalu terlihat kasar atau terang-terangan bermusuhan. Justru, sebagian dari mereka bisa tampil sangat ramah, pandai berbicara, bahkan terlihat profesional di depan banyak orang.
Masalahnya, perilaku mereka sering meninggalkan dampak yang tidak menyenangkan: membuat orang lain merasa tidak dihargai, memicu konflik, menciptakan drama, mengganggu konsentrasi, atau membuat lingkungan kerja terasa penuh tekanan.
Namun, bagaimana sebenarnya cara mengenali mereka?
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (28/8), menurut psikologi, kita tidak perlu langsung memberikan label kepada seseorang hanya berdasarkan satu kejadian. Manusia bisa bersikap buruk karena sedang lelah, stres, memiliki masalah pribadi, atau mengalami tekanan tertentu. Yang lebih penting adalah melihat pola perilaku yang berulang.
Jika Anda ingin mengetahui siapa saja orang yang berpotensi menjadi sumber masalah dalam lingkungan kerja, berikut delapan cara yang dapat Anda gunakan untuk mengamatinya.
1. Perhatikan bagaimana dia memperlakukan orang yang tidak bisa memberinya keuntungan
Salah satu cara paling sederhana untuk membaca karakter seseorang adalah memperhatikan bagaimana ia memperlakukan orang yang dianggap tidak memiliki kekuasaan atau manfaat bagi dirinya.
Perhatikan bagaimana dia berbicara kepada petugas kebersihan, staf administrasi, pegawai baru, bawahan, atau orang lain yang posisinya dianggap lebih rendah.
Apakah dia tetap sopan?
Apakah dia mau mengucapkan terima kasih?
Apakah dia menghargai pendapat mereka?
Atau justru sikapnya berubah drastis ketika berhadapan dengan orang yang dianggap tidak penting?
Orang yang hanya bersikap baik kepada atasan tetapi merendahkan bawahan perlu diperhatikan. Perbedaan perilaku seperti ini dapat menjadi petunjuk bahwa keramahan yang ditampilkan bukan selalu berasal dari rasa hormat, melainkan dari kepentingan.
Dalam psikologi sosial, perilaku seseorang dalam situasi berbeda dapat memberikan gambaran tentang pola interpersonalnya. Karena itu, jangan hanya melihat bagaimana seseorang memperlakukan Anda.
Lihat bagaimana ia memperlakukan orang lain ketika tidak ada keuntungan langsung untuk dirinya.
2. Perhatikan bagaimana reaksinya ketika melakukan kesalahan
Tidak ada manusia yang sempurna. Di tempat kerja, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan.
Yang menarik justru bukan kesalahannya, melainkan bagaimana ia bereaksi setelah melakukan kesalahan.
Orang yang sehat secara interpersonal biasanya mampu mengatakan:
"Saya salah."
Kemudian ia berusaha mencari solusi.
Sebaliknya, orang yang sulit bertanggung jawab mungkin langsung mencari kambing hitam.
Ketika sesuatu berjalan buruk, selalu ada nama orang lain yang disebut. Ketika proyek gagal, ia menyalahkan anggota tim. Ketika instruksinya tidak jelas, ia mengatakan orang lain tidak bisa bekerja. Ketika mendapat kritik, ia justru menyerang balik.
Tentu, satu kali menyalahkan orang lain belum cukup untuk menyimpulkan karakter seseorang.
Tetapi jika Anda melihat pola yang konsisten—tidak pernah salah, selalu punya alasan, dan selalu ada orang lain yang harus bertanggung jawab—Anda sebaiknya berhati-hati.
Salah satu tanda kematangan emosional adalah kemampuan mengakui kesalahan tanpa merasa harga diri runtuh.
Orang yang bisa berkata "Saya salah" justru sering kali lebih mudah diajak bekerja sama daripada orang yang selalu berusaha terlihat benar.
3. Uji bagaimana dia merespons ketika Anda mengatakan "tidak"
Ini adalah salah satu cara paling efektif untuk mengetahui karakter seseorang.
Cobalah perhatikan apa yang terjadi ketika Anda menolak permintaannya secara wajar.
Misalnya, Anda sedang memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan. Kemudian dia meminta bantuan tambahan.
Anda mengatakan:
"Maaf, saya belum bisa membantu sekarang karena sedang menyelesaikan pekerjaan ini."
Apa reaksinya?
Apakah dia memahami situasi Anda?
Atau dia mulai membuat Anda merasa bersalah?
Orang yang sulit menghargai batasan pribadi sering kali menunjukkan berbagai bentuk tekanan ketika keinginannya tidak terpenuhi.
Mereka mungkin berkata:
"Masa begitu saja tidak bisa?"
"Kan cuma sebentar."
"Saya kira kita teman."
Atau bahkan membuat Anda merasa bahwa menolak berarti Anda tidak mau bekerja sama.
Padahal, mengatakan "tidak" terhadap sebuah permintaan bukan berarti seseorang egois.
Dalam hubungan kerja yang sehat, setiap orang memiliki batasan, prioritas, waktu, dan tanggung jawab masing-masing.
Karena itu, salah satu cara membaca karakter seseorang adalah melihat apakah ia menghormati batasan orang lain.
Orang yang menghargai Anda akan bisa menerima penolakan tanpa harus menghukum Anda secara emosional.
4. Perhatikan apakah dia sering membicarakan keburukan orang lain
Pernahkah Anda berada dalam sebuah percakapan lalu seseorang mulai menceritakan keburukan rekan kerja yang tidak ada di ruangan?
Awalnya mungkin terdengar seperti obrolan biasa.
Namun, jika hampir setiap percakapan dengannya berisi gosip, keluhan, kritik, atau cerita tentang betapa buruknya orang lain, Anda perlu memperhatikan polanya.
Ada hal menarik yang perlu diingat:
Jika seseorang nyaman membicarakan keburukan orang lain kepada Anda, tidak ada jaminan ia tidak akan membicarakan keburukan Anda kepada orang lain.
Gosip juga tidak selalu berbentuk cerita yang jelas-jelas jahat.
Kadang bentuknya sangat halus.
"Saya sebenarnya tidak mau ngomong, tapi..."
"Jangan bilang siapa-siapa, ya..."
"Saya cuma khawatir sama dia..."
Kalimat-kalimat seperti ini bisa menjadi pembuka percakapan yang akhirnya berubah menjadi penyebaran informasi pribadi atau penilaian negatif terhadap orang lain.
Tentu, membicarakan masalah di tempat kerja tidak selalu berarti bergosip. Ada perbedaan antara mendiskusikan masalah untuk mencari solusi dengan menyebarkan cerita untuk menjatuhkan seseorang.
Yang perlu diperhatikan adalah tujuan dan polanya.
Apakah pembicaraan itu membantu menyelesaikan masalah?
Atau hanya membuat orang lain terlihat buruk?
5. Perhatikan bagaimana dia menghadapi keberhasilan orang lain
Karakter seseorang juga dapat terlihat ketika orang lain mendapatkan sesuatu yang ia inginkan.
Misalnya, seorang rekan kerja mendapatkan promosi.
Bagaimana reaksinya?
Apakah ia mengucapkan selamat?
Atau langsung mencari alasan mengapa orang tersebut sebenarnya tidak layak mendapatkannya?
"Dia naik jabatan karena dekat dengan bos."
"Sebenarnya saya lebih pantas."
"Ah, posisi itu juga tidak sehebat yang dibayangkan."
Komentar seperti itu mungkin sesekali muncul karena seseorang merasa kecewa atau iri. Perasaan tersebut pada dasarnya manusiawi.
Namun, jika setiap keberhasilan orang lain selalu dianggap sebagai ancaman, hal tersebut dapat menjadi pola yang melelahkan dalam sebuah tim.
Orang yang sehat secara profesional mampu membedakan antara:
"Saya juga ingin mendapatkan kesempatan itu."
dan
"Kalau saya tidak mendapatkannya, berarti orang itu harus dijatuhkan."
Perbedaannya sangat besar.
Ambisi tidak selalu buruk.
Persaingan juga tidak selalu buruk.
Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang merasa harus membuat orang lain gagal agar dirinya terlihat berhasil.
6. Perhatikan apakah perkataannya sering tidak sesuai dengan tindakannya
Ada orang yang sangat pandai berbicara.
Ia selalu punya penjelasan.
Selalu terdengar meyakinkan.
Selalu mengatakan bahwa dirinya peduli terhadap tim.
Namun ketika tiba waktunya bertindak, semuanya berbeda.
Ia mengatakan kerja sama penting, tetapi sering meninggalkan pekerjaan kepada orang lain.
Ia mengatakan menghargai waktu, tetapi berkali-kali datang terlambat tanpa alasan yang jelas.
Ia mengatakan komunikasi harus terbuka, tetapi justru menyembunyikan informasi penting.
Ia mengatakan siap membantu, tetapi menghilang ketika benar-benar dibutuhkan.
Dalam memahami karakter seseorang, jangan hanya memperhatikan apa yang ia katakan.
Perhatikan konsistensi antara perkataan dan perilakunya.
Manusia tentu bisa berubah pikiran. Seseorang juga bisa gagal memenuhi janji sesekali.
Yang perlu diperhatikan adalah pola yang berulang.
Jika seseorang berkali-kali mengatakan satu hal tetapi melakukan hal yang berlawanan, Anda mungkin perlu lebih mempercayai pola tindakannya daripada kata-katanya.
7. Perhatikan bagaimana dia menghadapi kritik
Tidak ada lingkungan kerja yang sempurna.
Cepat atau lambat, seseorang akan menerima kritik.
Pertanyaannya adalah: apa yang terjadi ketika orang tersebut dikritik?
Apakah dia mendengarkan?
Apakah dia bertanya untuk memahami?
Apakah dia mempertimbangkan kemungkinan bahwa dirinya memang perlu memperbaiki sesuatu?
Atau langsung defensif?
Orang yang sangat sulit menerima kritik kadang menganggap setiap masukan sebagai serangan terhadap harga dirinya.
Akibatnya, diskusi sederhana berubah menjadi pertengkaran.
Ketika diberi masukan tentang pekerjaannya, ia menyerang karakter orang yang memberikan masukan.
Ketika diberi tahu ada kesalahan, ia mengungkit kesalahan masa lalu orang lain.
Ketika diminta memperbaiki sesuatu, ia berkata bahwa orang lain juga melakukan kesalahan.
Respons seperti ini dapat membuat komunikasi di tempat kerja menjadi sangat sulit.
Sebaliknya, orang yang matang secara emosional tidak harus selalu setuju dengan kritik.
Ia boleh tidak setuju.
Tetapi ia mampu mendengarkan tanpa langsung mengubah diskusi menjadi konflik pribadi.
Jadi, jangan hanya melihat bagaimana seseorang berbicara ketika semuanya berjalan sesuai keinginannya.
Lihat bagaimana ia bersikap ketika egonya ditantang.
8. Perhatikan bagaimana perasaan Anda setelah berinteraksi dengannya
Cara terakhir mungkin terdengar sangat subjektif, tetapi tetap berguna jika digunakan dengan hati-hati.
Setelah berinteraksi dengan seseorang, bagaimana biasanya perasaan Anda?
Apakah Anda merasa lebih tenang dan mendapatkan kejelasan?
Atau justru merasa bingung, bersalah, tegang, dan terkuras?
Satu interaksi tentu tidak bisa dijadikan bukti.
Namun jika setiap kali berurusan dengan orang yang sama Anda merasa harus berjalan di atas kulit telur, terus-menerus menjaga kata-kata, takut disalahkan, atau merasa harus membuktikan diri, mungkin ada dinamika hubungan yang tidak sehat.
Di sinilah pentingnya membedakan antara intuisi dan prasangka.
Intuisi dapat menjadi sinyal awal bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Tetapi intuisi sebaiknya diikuti dengan pengamatan terhadap fakta.
Tanyakan kepada diri sendiri:
Apa sebenarnya yang dia lakukan?
Seberapa sering hal itu terjadi?
Apakah perilaku tersebut terjadi kepada banyak orang?
Apakah saya memiliki bukti atau hanya asumsi?
Apakah ada penjelasan lain yang masuk akal?
Dengan cara ini, Anda tidak terburu-buru memberi label kepada seseorang hanya karena tidak menyukainya.
Jangan Terlalu Cepat Memberi Label "Orang Toxic"
Ada satu hal penting yang sering dilupakan ketika membicarakan orang menyebalkan di tempat kerja.
Tidak semua orang yang membuat kita kesal adalah orang toxic.
Seorang rekan kerja mungkin sedang mengalami hari yang buruk.
Seorang atasan mungkin sedang berada di bawah tekanan besar.
Seseorang mungkin memiliki gaya komunikasi yang berbeda dengan kita.
Bahkan kita sendiri mungkin sedang dalam kondisi lelah sehingga lebih sensitif terhadap perilaku orang lain.
Karena itu, psikologi mengajarkan pentingnya melihat pola, konteks, dan frekuensi, bukan hanya satu kejadian.
Orang yang terlambat sekali bukan berarti tidak bertanggung jawab.
Orang yang menolak membantu bukan berarti egois.
Orang yang mengkritik kita bukan berarti membenci kita.
Orang yang berbeda pendapat bukan berarti menjadi musuh.
Yang lebih perlu diwaspadai adalah perilaku negatif yang dilakukan secara konsisten, terutama jika perilaku tersebut merugikan orang lain dan tidak ada kemauan untuk memperbaikinya.
Tujuan Mengenali Mereka Bukan untuk Mencari Musuh
Mengetahui karakter orang lain seharusnya tidak membuat kita sibuk mencari siapa yang salah.
Tujuannya justru agar kita bisa bekerja dengan lebih bijaksana.
Jika Anda mengetahui seseorang sulit menerima kritik, Anda bisa memilih cara komunikasi yang lebih efektif.
Jika seseorang sering menyebarkan gosip, Anda bisa lebih berhati-hati dalam membagikan informasi pribadi.
Jika seseorang tidak menghormati batasan, Anda dapat belajar mengatakan "tidak" dengan tegas.
Jika seseorang sering melempar kesalahan kepada orang lain, Anda dapat memastikan komunikasi dan tanggung jawab pekerjaan terdokumentasi dengan baik.
Dengan kata lain, mengenali karakter orang lain bukan berarti menghakimi mereka.
Ini tentang mengetahui bagaimana Anda harus merespons.
Anda tidak selalu bisa memilih siapa yang bekerja bersama Anda.
Tetapi Anda masih bisa memilih bagaimana Anda menghadapi mereka.
Kesimpulan
Orang yang menyebalkan di tempat kerja tidak selalu mudah dikenali.
Mereka mungkin terlihat ramah, pandai berbicara, atau bahkan sangat populer.
Karena itu, jangan hanya menilai seseorang dari penampilan atau kesan pertama.
Perhatikan pola perilakunya.
Lihat bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak bisa memberinya keuntungan, bagaimana ia menghadapi kesalahan, bagaimana reaksinya ketika ditolak, bagaimana ia berbicara tentang orang lain, bagaimana ia merespons keberhasilan rekan kerja, apakah perkataan dan tindakannya konsisten, bagaimana ia menghadapi kritik, serta bagaimana pola interaksi tersebut memengaruhi Anda.
Pada akhirnya, kemampuan membaca karakter bukanlah kemampuan untuk mengetahui siapa yang "jahat" dan siapa yang "baik".
Lebih tepatnya, ini adalah kemampuan untuk mengenali pola perilaku sehingga kita dapat membangun batasan, berkomunikasi dengan lebih efektif, dan menjaga hubungan profesional tetap sehat.
Karena di tempat kerja, kita tidak harus menyukai semua orang.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Al-Hilal vs Al Ahli di Liga Arab Saudi: The Blue Waves Amankan 3 Poin di Kandang!
Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Prediksi Skor Udinese vs Venezia di Coppa Italia: Sang Zebra Kecil Berpeluang Menang di Friuli!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Kasus Penipuan Rp 3,5 Miliar Dihentikan Usai Ruben Onsu Berdamai dengan Pelapor
Profil Matheus Lagoa! Legenda dan Kapten Anapolis, Puzzle Terakhir Persebaya Surabaya
Prediksi Skor West Ham vs Wolverhampton, Kemenangan Perdana atau Lanjutkan Tren Positif
Obligasi Danantara: Dana Murah Pembangunan yang Rentan TPPU?
Breaking News! Persebaya Surabaya Rekrut Kapten Anapolis FC Matheus Lagoa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
