Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 27 Agustus 2026 | 05.40 WIB

5 Cara Efektif Menjalani Peran Orang Dewasa Saat Anda Sedang Kehilangan Tekad, Apa Sajakah Itu?

seseorang yang kehilangan tekad / foto: Magnific/stockking

 

JawaPos.com - Menjadi orang dewasa sering kali digambarkan sebagai kemampuan untuk selalu kuat, bertanggung jawab, produktif, dan mampu mengambil keputusan dengan tenang. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Ada masa ketika seseorang tetap harus bekerja, mengurus keluarga, membayar tagihan, menjaga hubungan, dan menyelesaikan berbagai kewajiban, sementara di dalam dirinya sendiri sedang tidak ada tenaga maupun tekad untuk melakukan semua itu.

Kehilangan tekad bukan berarti seseorang malas, lemah, atau tidak mampu menjalani kehidupan. Dalam psikologi, motivasi manusia memang tidak selalu berada pada tingkat yang sama. Stres berkepanjangan, kegagalan, perubahan hidup, konflik, kelelahan emosional, maupun terlalu banyak tuntutan dapat membuat seseorang kehilangan dorongan untuk melakukan hal-hal yang biasanya terasa biasa saja.

Masalahnya, kehidupan orang dewasa tidak selalu memberi kesempatan untuk berhenti total. Ada pekerjaan yang tetap harus dilakukan. Ada orang lain yang bergantung pada kita. Ada keputusan yang tidak bisa terus ditunda.

Lalu, bagaimana seseorang tetap dapat menjalani peran sebagai orang dewasa ketika tekadnya sedang hilang?

Jawabannya bukan dengan memaksa diri untuk selalu termotivasi. Justru, salah satu keterampilan psikologis yang penting adalah belajar tetap menjalankan hal-hal penting meskipun motivasi sedang rendah, sambil memberikan ruang bagi diri sendiri untuk pulih.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (15/8), terdapat lima cara yang dapat membantu.

1. Berhenti Menunggu Motivasi untuk Melakukan Hal yang Penting

Salah satu kesalahpahaman tentang motivasi adalah anggapan bahwa kita harus merasa bersemangat terlebih dahulu sebelum mulai bertindak.

Dalam kenyataan, hubungan antara motivasi dan tindakan tidak selalu berjalan satu arah. Kita memang bisa bertindak karena termotivasi, tetapi tindakan kecil juga dapat menghasilkan kembali rasa mampu, kemajuan, dan motivasi.

Karena itu, ketika sedang kehilangan tekad, jangan menjadikan perasaan bersemangat sebagai syarat untuk menjalani kewajiban.

Anda tidak harus berpikir, “Saya harus kembali bersemangat.”

Cobalah menggantinya dengan:

“Saya mungkin tidak ingin melakukannya sekarang, tetapi saya tetap bisa melakukan bagian kecil yang penting.”

Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi secara psikologis cukup penting.

Misalnya, seseorang sedang kehilangan motivasi untuk bekerja. Ia mungkin membayangkan harus menyelesaikan seluruh pekerjaan dalam satu hari. Pikiran tersebut justru membuat tugas terasa semakin berat.

Alih-alih demikian, ia dapat menentukan satu tindakan yang paling konkret:

membuka dokumen yang harus dikerjakan;
membaca tiga halaman;
membalas satu email penting;
bekerja selama 15 menit;
menyelesaikan satu bagian dari tugas.

Tujuannya bukan menjadi sangat produktif. Tujuannya adalah mempertahankan kemampuan untuk bergerak meskipun sedang tidak memiliki dorongan yang kuat.

Dalam psikologi perilaku, tindakan kecil dapat membantu memutus siklus pasif yang sering muncul ketika seseorang merasa kewalahan. Setelah satu tindakan berhasil dilakukan, hambatan untuk melakukan tindakan berikutnya sering kali menjadi lebih kecil.

Jadi, ketika tekad sedang rendah, jangan bertanya:

“Bagaimana caranya agar saya merasa ingin melakukan ini?”

Pertanyaan yang lebih membantu adalah:

“Apa hal terkecil yang masih bisa saya lakukan sekarang?”

Orang dewasa tidak selalu bertindak karena mereka merasa siap. Terkadang mereka bertindak karena mengetahui bahwa ada sesuatu yang tetap perlu dilakukan.

2. Turunkan Standar Sementara, Bukan Tanggung Jawab Sepenuhnya

Ketika sedang kehilangan tekad, seseorang sering terjebak dalam dua pilihan ekstrem.

Pilihan pertama adalah memaksa diri untuk tetap tampil seperti biasa.

Pilihan kedua adalah menyerah sepenuhnya karena merasa tidak sanggup.

Padahal, ada pilihan ketiga: tetap bertanggung jawab, tetapi menurunkan standar sementara.

Ini merupakan bentuk penyesuaian yang jauh lebih realistis.

Misalnya, ketika kondisi mental sedang baik, Anda mungkin mampu memasak makanan rumit setiap malam. Ketika sedang berada dalam periode sulit, makanan sederhana tetap merupakan bentuk pemenuhan kebutuhan.

Ketika biasanya rumah selalu rapi, mungkin saat ini cukup memastikan bagian yang paling penting tetap bersih.

Ketika biasanya Anda dapat bekerja sangat produktif selama delapan jam, mungkin target sementara adalah menyelesaikan tiga prioritas utama dengan kualitas yang cukup baik.

Prinsipnya adalah:

Jangan mengubah semua kewajiban menjadi tidak penting hanya karena energi Anda sedang berkurang. Tetapi jangan pula menuntut diri bekerja seolah-olah energi Anda tidak berkurang.

Ini membutuhkan kemampuan membedakan antara standar minimum yang sehat dan standar ideal.

Standar ideal adalah apa yang ingin Anda lakukan ketika kondisi memungkinkan.

Standar minimum adalah apa yang perlu dilakukan agar kehidupan tetap berjalan.

Dalam masa sulit, standar minimum bukan kegagalan. Ia adalah strategi bertahan.

Bayangkan baterai ponsel yang tinggal 10 persen. Anda tidak akan memaksanya menjalankan semua aplikasi secara bersamaan. Anda akan mengurangi penggunaan yang tidak penting dan mempertahankan fungsi utama sampai baterainya kembali terisi.

Manusia juga membutuhkan penyesuaian semacam itu.

Menurunkan standar sementara bukan berarti menjadi orang yang tidak bertanggung jawab. Justru, kemampuan mengatur kapasitas adalah salah satu bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.

3. Pisahkan “Saya Sedang Kesulitan” dari “Saya Adalah Orang yang Gagal”

Ketika tekad menghilang, pikiran manusia mudah membuat kesimpulan yang terlalu besar.

Hari ini sulit bangun dari tempat tidur berubah menjadi:

“Saya malas.”

Satu pekerjaan yang gagal berubah menjadi:

“Saya memang tidak kompeten.”

Beberapa minggu tanpa produktivitas berubah menjadi:

“Hidup saya tidak akan pernah beres.”

Inilah salah satu pola berpikir yang perlu diperhatikan.

Ada perbedaan besar antara mengalami suatu keadaan dan mendefinisikan diri berdasarkan keadaan tersebut.

“Saya sedang kehilangan motivasi” adalah sebuah pengamatan terhadap kondisi.

“Saya adalah orang yang tidak punya motivasi” terdengar seperti identitas permanen.

“Saya sedang kesulitan menjalankan tanggung jawab” berbeda dengan “Saya tidak mampu menjadi orang dewasa.”

Bahasa yang kita gunakan terhadap diri sendiri dapat memengaruhi cara kita memahami pengalaman.

Karena itu, ketika sedang menghadapi periode sulit, cobalah menggunakan bahasa yang lebih spesifik dan sementara.

Daripada:

“Saya berantakan.”

Cobalah:

“Saya sedang mengalami periode yang berat dan beberapa hal menjadi lebih sulit.”

Daripada:

“Saya tidak mampu melakukan apa pun.”

Cobalah:

“Energi saya sedang rendah sehingga saya perlu mengurangi beban dan mengerjakan hal-hal secara bertahap.”

Tujuannya bukan membuat kalimat positif secara paksa.

Tujuannya adalah membuat penilaian terhadap diri sendiri lebih akurat.

Anda boleh mengakui bahwa pekerjaan Anda berantakan. Anda boleh mengakui bahwa Anda sedang tidak produktif. Anda boleh mengakui bahwa Anda kecewa terhadap keputusan tertentu.

Namun, semua itu tidak otomatis menjadi bukti bahwa Anda adalah manusia yang gagal.

Satu periode buruk bukan keseluruhan hidup Anda.

4. Gunakan Rutinitas sebagai “Kerangka” Ketika Motivasi Tidak Bisa Diandalkan

Ketika motivasi kuat, kita sering dapat mengandalkan keinginan untuk melakukan sesuatu.

Masalahnya, ketika motivasi turun, sistem yang hanya bergantung pada keinginan menjadi mudah runtuh.

Karena itu, rutinitas dapat menjadi semacam kerangka yang membantu kehidupan tetap berjalan.

Rutinitas tidak harus rumit.

Bahkan, ketika sedang kehilangan tekad, semakin sederhana rutinitas biasanya semakin mudah dipertahankan.

Anda dapat membuat beberapa titik tetap dalam hari, misalnya:

Pagi: bangun, mandi, makan, dan menentukan satu prioritas utama.

Siang: menyelesaikan tugas utama dan beristirahat secara sadar.

Sore: menyelesaikan kebutuhan praktis yang penting.

Malam: mengurangi aktivitas yang terlalu menstimulasi dan mempersiapkan kebutuhan untuk esok hari.

Rutinitas semacam ini bukan dimaksudkan untuk membuat hidup terasa seperti mesin.

Fungsinya justru mengurangi jumlah keputusan yang harus dibuat.

Ketika seseorang sedang kelelahan secara psikologis, keputusan sederhana pun dapat terasa berat. Apa yang harus dikerjakan dulu? Haruskah saya bekerja? Haruskah saya keluar? Haruskah saya membalas pesan? Kapan saya beristirahat?

Dengan struktur yang sederhana, sebagian keputusan tersebut sudah dibuat sebelumnya.

Ada hal lain yang penting: jangan menjadikan rutinitas sebagai alat untuk menghukum diri sendiri.

Jika satu hari rutinitas tidak berjalan, Anda tidak perlu menganggap semuanya gagal.

Besok adalah kesempatan untuk kembali ke kerangka tersebut.

Konsistensi yang sehat bukan berarti tidak pernah gagal menjalankan rutinitas. Konsistensi berarti mampu kembali setelah keluar dari jalur.

5. Jangan Menjalani Masa Sulit Seolah-olah Anda Harus Menghadapinya Sendirian

Salah satu jebakan kehidupan dewasa adalah anggapan bahwa menjadi dewasa berarti harus mampu menangani semuanya sendiri.

Padahal, manusia pada dasarnya membutuhkan hubungan sosial.

Ketika sedang kehilangan tekad, dukungan dari orang lain dapat menjadi sumber perspektif, bantuan praktis, maupun rasa bahwa seseorang tidak harus memikul semuanya sendirian.

Anda tidak selalu perlu meminta orang lain menyelesaikan masalah.

Terkadang, cukup mengatakan:

“Akhir-akhir ini saya sedang tidak baik-baik saja. Saya mungkin tidak butuh solusi, tetapi saya ingin ada seseorang yang bisa diajak bicara.”

Kalimat sederhana seperti ini dapat membuka ruang untuk mendapatkan dukungan.

Dukungan juga dapat bersifat praktis.

Jika pekerjaan rumah terasa terlalu berat, mungkin seseorang dapat membantu melakukan satu tugas. Jika pekerjaan sedang menumpuk, mungkin Anda dapat berkomunikasi dengan rekan kerja mengenai prioritas. Jika keputusan tertentu terasa terlalu berat, berbicara dengan orang yang dipercaya dapat membantu melihat situasi dari sudut pandang berbeda.

Dan apabila kehilangan tekad berlangsung lama, mengganggu pekerjaan, hubungan, tidur, aktivitas sehari-hari, atau membuat hidup terasa semakin sulit, berbicara dengan psikolog atau profesional kesehatan mental dapat menjadi langkah yang masuk akal.

Meminta bantuan bukan berarti gagal menjalankan peran sebagai orang dewasa.

Justru, mengetahui kapan Anda membutuhkan bantuan merupakan bagian dari kedewasaan.

Menjadi Dewasa Tidak Berarti Selalu Merasa Kuat

Ada gambaran tentang kedewasaan yang sering kali tidak realistis: orang dewasa harus tahu apa yang dilakukan, harus mampu mengendalikan emosi, harus produktif, harus bertanggung jawab, dan harus tetap kuat apa pun yang terjadi.

Kenyataannya jauh lebih manusiawi.

Orang dewasa juga bisa bingung.

Bisa lelah.

Bisa kehilangan arah.

Bisa bangun pagi tanpa memiliki semangat.

Bisa mempertanyakan keputusan hidupnya.

Bisa merasa ingin berhenti sejenak.

Yang membedakan bukan apakah seseorang pernah kehilangan tekad atau tidak. Yang lebih penting adalah bagaimana ia merespons keadaan tersebut.

Kadang-kadang, kedewasaan bukan tentang melakukan hal luar biasa.

Kedewasaan mungkin hanya berarti bangun dan melakukan satu hal yang perlu dilakukan.

Membayar satu tagihan.

Mengirim satu pesan penting.

Menyelesaikan satu pekerjaan.

Makan dengan cukup.

Beristirahat.

Meminta bantuan.

Kemudian mencoba lagi besok.

Tidak semua fase kehidupan membutuhkan performa terbaik kita. Ada fase ketika tugas kita hanyalah mempertahankan hal-hal yang penting sambil perlahan membangun kembali tenaga.

Jadi, jika saat ini Anda sedang kehilangan tekad, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa ada sesuatu yang salah dengan diri Anda.

Mungkin Anda memang sedang membutuhkan istirahat.

Mungkin beban yang Anda tanggung terlalu banyak.

Mungkin ada kekecewaan yang belum selesai.

Mungkin hidup sedang memasuki periode yang menuntut penyesuaian.

Apa pun penyebabnya, Anda tidak harus menyelesaikan seluruh hidup hari ini.

Mulailah dari satu hal yang penting.

Lakukan sebisanya.

Turunkan standar jika memang perlu.

Berhenti menjadikan kesulitan sementara sebagai identitas.

Bangun struktur yang sederhana.

Dan izinkan orang lain membantu ketika beban terasa terlalu berat.

Karena menjadi orang dewasa bukan berarti tidak pernah kehilangan tekad.

Menjadi dewasa berarti belajar tetap merawat hidup, bahkan ketika tekad sedang tidak berada di tempatnya.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore