seseorang yang menemukan red flags pada temannya / foto: Magnific/azerbaijan_stockers
Kadang-kadang, kita terlalu takut kehilangan seorang teman sampai rela memaklumi perilaku yang sebenarnya sudah berulang kali menyakiti diri sendiri. Kita menyebutnya “namanya juga teman”, “mungkin dia sedang punya masalah”, atau “saya harus bisa memahami dia”. Padahal, memahami seseorang tidak berarti kita harus terus-menerus menerima perlakuan yang membuat kita merasa tidak dihargai.
Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (13/8), dalam psikologi, kualitas hubungan sosial memiliki kaitan erat dengan kesejahteraan emosional. Pertemanan yang sehat seharusnya memberikan ruang untuk menjadi diri sendiri, merasa aman, dihargai, dan didukung. Sebaliknya, hubungan yang terus dipenuhi manipulasi, penghinaan, persaingan tidak sehat, atau pelanggaran batas dapat menjadi sumber stres.
Namun, penting untuk membedakan antara satu kesalahan sesekali dan pola perilaku yang terus berulang. Tidak ada manusia yang sempurna. Seorang teman bisa salah, meminta maaf, belajar, dan berubah. Red flag menjadi jauh lebih serius ketika perilaku tersebut dilakukan berulang kali, Anda sudah menyampaikan keberatan, tetapi orang tersebut tetap mengulanginya.
Lalu, apa saja tanda yang perlu diperhatikan?
1. Dia Hanya Datang Ketika Membutuhkan Sesuatu
Salah satu tanda paling mudah terlihat dalam pertemanan yang tidak seimbang adalah ketika seseorang hampir selalu muncul ketika membutuhkan bantuan.
Saat dia membutuhkan uang, Anda dicari.
Saat dia sedang punya masalah, Anda menjadi tempat curhat.
Saat dia membutuhkan bantuan pekerjaan, koneksi, atau sekadar seseorang untuk mendengarkan keluhannya, Anda selalu dianggap tersedia.
Namun ketika Anda yang sedang membutuhkan dukungan, dia tiba-tiba menghilang.
Sekali atau dua kali tentu belum tentu berarti apa-apa. Setiap orang bisa sibuk atau memiliki masalah pribadi. Tetapi jika pola tersebut berlangsung terus-menerus, Anda perlu mempertanyakannya.
Pertemanan yang sehat tidak harus selalu 50:50 dalam setiap situasi. Ada masa ketika salah satu pihak membutuhkan lebih banyak dukungan. Tetapi dalam jangka panjang, seharusnya terdapat rasa saling memberi dan menerima.
Jika Anda terus menjadi “tempat mengambil” sementara kebutuhan emosional Anda sendiri tidak pernah dianggap penting, hubungan tersebut mungkin sudah berjalan secara tidak seimbang.
Pertanyaan sederhananya adalah:
“Apakah dia menyukai saya sebagai seorang teman, atau dia hanya menyukai apa yang bisa saya lakukan untuknya?”
Perbedaan antara keduanya sangat besar.
2. Dia Sering Meremehkan atau Menghina Anda, Lalu Mengatakannya sebagai Candaan
“Ah, kamu memang terlalu sensitif.”
“Bercanda saja kok.”
“Jangan baper.”
Kalimat seperti ini sering digunakan untuk menutupi perkataan yang sebenarnya menyakitkan.
Humor memang merupakan bagian normal dalam pertemanan. Teman dekat bahkan sering saling menggoda. Masalahnya bukan sekadar apakah seseorang bercanda, tetapi bagaimana perasaan Anda setelah candaan tersebut dan apakah dia menghormati batas Anda.
Bayangkan seorang teman berkali-kali mengejek penampilan, pekerjaan, kemampuan, kondisi ekonomi, hubungan pribadi, atau kegagalan Anda di depan orang lain.
Ketika Anda mengatakan bahwa hal tersebut membuat tidak nyaman, dia justru menyalahkan Anda karena dianggap terlalu sensitif.
Itu adalah pola yang patut diperhatikan.
Dalam hubungan yang sehat, seseorang seharusnya dapat memahami bahwa niat bercanda tidak otomatis menghapus dampak dari perkataannya.
Teman yang menghargai Anda mungkin berkata:
“Maaf, saya tidak sadar itu membuat kamu tidak nyaman. Saya tidak akan mengulanginya.”
Sebaliknya, teman yang terus meremehkan Anda mungkin justru membuat Anda merasa bersalah karena memiliki batasan.
Jika Anda mulai merasa harus selalu berhati-hati dengan perkataan karena takut dijadikan bahan ejekan, mungkin ada sesuatu yang tidak sehat dalam hubungan tersebut.
3. Dia Tidak Bisa Bahagia Melihat Anda Berhasil
Ada perbedaan antara teman yang memiliki ambisi dan teman yang merasa harus selalu mengalahkan Anda.
Teman yang sehat bisa merasa iri sesaat—karena iri adalah emosi manusiawi—tetapi tetap mampu memberikan apresiasi terhadap keberhasilan Anda.
Sebaliknya, red flag muncul ketika seseorang secara konsisten mencoba mengecilkan pencapaian Anda.
Anda mendapatkan pekerjaan baru.
Dia mengatakan, “Ah, pekerjaan seperti itu biasa.”
Anda mencapai sesuatu yang sudah lama diimpikan.
Dia langsung membicarakan pencapaiannya sendiri.
Anda mendapatkan pujian.
Dia mencari kekurangan Anda.
Anda sedang bahagia.
Dia justru membuat Anda merasa tidak pantas bahagia.
Pola semacam ini dapat membuat pertemanan terasa seperti kompetisi permanen.
Padahal, seorang teman tidak seharusnya membuat Anda merasa harus meminta maaf karena hidup Anda berjalan dengan baik.
Dalam pertemanan yang sehat, keberhasilan salah satu orang tidak harus menjadi ancaman bagi orang lain.
Teman yang baik bisa berkata:
“Aku ikut senang melihat kamu berhasil.”
Bukan:
“Ya, kamu beruntung saja.”
4. Dia Tidak Menghormati Batasan Anda
Ini merupakan salah satu red flag yang sangat penting.
Setiap orang memiliki batasan.
Anda berhak mengatakan tidak.
Anda berhak tidak membalas pesan segera.
Anda berhak memiliki waktu sendiri.
Anda berhak menolak permintaan.
Anda berhak tidak menceritakan semua masalah pribadi.
Dan Anda berhak menentukan bagaimana orang lain memperlakukan Anda.
Masalah muncul ketika seorang teman menganggap batasan Anda sebagai sesuatu yang harus dinegosiasikan atau dilanggar.
Misalnya, Anda sudah mengatakan tidak ingin membicarakan masalah pribadi, tetapi dia terus memaksa.
Anda tidak ingin meminjamkan sesuatu, tetapi dia membuat Anda merasa bersalah.
Anda membutuhkan waktu untuk diri sendiri, tetapi dia menuduh Anda berubah.
Anda mengatakan tidak nyaman dengan suatu perlakuan, tetapi dia terus melakukannya.
Dalam hubungan yang sehat, “tidak” seharusnya bisa berarti tidak.
Batasan bukan bentuk permusuhan. Batasan adalah cara seseorang menjaga kesehatan hubungan sekaligus menjaga dirinya sendiri.
Menariknya, reaksi seseorang ketika Anda memasang batasan sering kali lebih informatif daripada perilakunya ketika semuanya berjalan sesuai keinginannya.
Orang yang menghargai Anda mungkin kecewa, tetapi tetap menghormati keputusan Anda.
Orang yang hanya ingin mengendalikan Anda mungkin marah, memanipulasi, membuat Anda merasa bersalah, atau memainkan peran sebagai korban.
5. Anda Selalu Merasa Lelah Secara Emosional Setelah Bersamanya
Tidak semua red flag muncul dalam bentuk perkataan yang jelas.
Kadang-kadang tubuh dan emosi kita justru memberikan sinyal terlebih dahulu.
Coba perhatikan bagaimana perasaan Anda setelah menghabiskan waktu bersama seseorang.
Apakah Anda merasa tenang?
Apakah Anda merasa didengar?
Apakah Anda bisa menjadi diri sendiri?
Atau justru Anda merasa tegang, lelah, bersalah, tidak percaya diri, dan terus memikirkan percakapan yang baru saja terjadi?
Satu kali merasa lelah tentu bukan bukti bahwa seseorang adalah teman yang buruk. Kita semua bisa mengalami percakapan berat.
Namun, jika setiap kali berinteraksi dengan orang tersebut Anda hampir selalu merasa terkuras, hal itu layak diperhatikan.
Terutama jika Anda merasa harus terus-menerus menjaga suasana hati mereka, menghindari topik tertentu, atau berjalan di atas “kulit telur” agar tidak membuat mereka marah.
Pertemanan seharusnya tidak selalu membuat Anda merasa sempurna atau bahagia. Teman juga bisa memberikan kritik dan membicarakan masalah yang sulit.
Tetapi secara keseluruhan, hubungan yang sehat seharusnya memiliki cukup banyak rasa aman, penghargaan, dan kenyamanan.
Jika sebagian besar interaksi justru membuat Anda kehilangan energi dan kepercayaan diri, mungkin masalahnya bukan sekadar “Anda sedang terlalu sensitif”.
6. Dia Membocorkan Rahasia dan Mengkhianati Kepercayaan Anda
Kepercayaan adalah salah satu fondasi penting dalam hubungan dekat.
Ketika Anda menceritakan sesuatu yang bersifat pribadi kepada seorang teman, Anda berharap informasi tersebut diperlakukan dengan hati-hati.
Jika seorang teman berulang kali membocorkan rahasia, menyebarkan cerita pribadi, atau menggunakan informasi sensitif Anda untuk mempermalukan Anda, itu merupakan masalah serius.
Lebih buruk lagi jika dia melakukan hal tersebut kemudian mengatakan:
“Kan saya cuma cerita ke satu orang.”
Atau:
“Saya tidak bermaksud membuat masalah.”
Kesalahan memang bisa terjadi. Tetapi jika perilaku tersebut terus berulang, Anda perlu melihatnya sebagai sebuah pola.
Kepercayaan tidak dibangun hanya dengan kata-kata seperti “percaya sama saya”.
Kepercayaan dibangun melalui perilaku yang konsisten.
Ketika seseorang menunjukkan berkali-kali bahwa dia tidak dapat menjaga informasi pribadi Anda, Anda tidak wajib terus memberinya akses yang sama terhadap kehidupan pribadi Anda.
Kadang-kadang, menjaga jarak bukan berarti membenci seseorang.
Itu berarti Anda mulai belajar melindungi diri sendiri.
Jangan Terburu-buru Memutus Pertemanan Hanya karena Satu Kesalahan
Meskipun keenam tanda di atas penting untuk diperhatikan, bukan berarti setiap teman yang pernah melakukan salah satu perilaku tersebut harus langsung ditinggalkan.
Psikologi tidak sesederhana membuat daftar “teman baik” dan “teman buruk”.
Manusia bisa melakukan kesalahan.
Yang lebih penting adalah pola, frekuensi, konteks, dan respons setelah ditegur.
Perhatikan beberapa pertanyaan berikut:
Apakah perilaku tersebut terjadi berulang kali?
Apakah Anda sudah pernah menyampaikan keberatan?
Apakah dia mau mendengarkan?
Apakah dia meminta maaf dengan tulus?
Apakah ada perubahan setelahnya?
Apakah Anda merasa aman untuk menjadi diri sendiri?
Apakah hubungan tersebut terasa timbal balik?
Teman yang melakukan kesalahan tetapi bersedia bertanggung jawab dan memperbaiki diri berada dalam situasi yang berbeda dengan teman yang terus menyakiti Anda lalu menyalahkan Anda karena merasa terluka.
Mengapa Kita Sering Tetap Bertahan dalam Pertemanan yang Tidak Sehat?
Pertanyaan yang lebih sulit sebenarnya bukan “Mengapa dia melakukan itu?”
Melainkan:
“Mengapa saya masih bertahan?”
Ada banyak alasan.
Kita mungkin sudah berteman selama bertahun-tahun.
Kita takut kesepian.
Kita memiliki banyak kenangan bersama.
Kita takut dianggap jahat.
Kita berharap dia akan berubah.
Atau kita merasa bahwa mengakhiri hubungan berarti seluruh sejarah persahabatan menjadi sia-sia.
Padahal, lamanya sebuah hubungan tidak selalu menentukan kualitas hubungan tersebut.
Seseorang bisa menjadi bagian besar dari masa lalu Anda tanpa harus menjadi bagian besar dari masa depan Anda.
Ini adalah pemahaman yang tidak mudah, tetapi penting.
Tidak semua hubungan harus berakhir dengan pertengkaran besar.
Terkadang sebuah pertemanan cukup berubah secara perlahan.
Anda tidak lagi menceritakan semua hal pribadi.
Anda mengurangi frekuensi bertemu.
Anda berhenti selalu tersedia.
Anda mulai membangun hubungan dengan orang-orang yang lebih menghargai Anda.
Dan pada akhirnya, jarak terbentuk dengan sendirinya.
Teman Baru Tidak Harus Banyak, yang Penting Sehat
Ketika menyadari bahwa sebuah pertemanan tidak sehat, jangan berpikir bahwa satu-satunya pilihan adalah memiliki banyak teman baru.
Yang lebih penting adalah membangun hubungan yang berkualitas.
Carilah orang yang bisa menghargai batasan Anda.
Orang yang dapat mendengarkan tanpa selalu mengubah percakapan menjadi tentang dirinya.
Orang yang mampu meminta maaf.
Orang yang tidak merasa terancam ketika Anda berhasil.
Orang yang bisa memberikan kritik tanpa merendahkan.
Dan yang paling penting, orang yang membuat Anda merasa bahwa Anda tidak perlu menjadi orang lain agar diterima.
Pertemanan yang sehat bukan berarti tidak pernah ada konflik.
Konflik pasti ada.
Perbedaannya adalah bagaimana kedua orang menghadapi konflik tersebut.
Dalam hubungan yang sehat, konflik dapat menjadi kesempatan untuk saling memahami.
Dalam hubungan yang tidak sehat, konflik justru menjadi arena untuk menyalahkan, memanipulasi, mempermalukan, atau mengendalikan.
Kesimpulan
Jika Anda sering menemukan keenam tanda ini dalam hubungan pertemanan, jangan langsung mengambil keputusan hanya berdasarkan satu kejadian.
Tetapi jangan pula terus mengabaikan pola yang sudah jelas.
Teman yang baik tidak harus selalu setuju dengan Anda. Mereka juga tidak harus selalu membuat Anda nyaman. Namun, mereka seharusnya menghormati Anda sebagai manusia.
Jika seseorang berkali-kali meremehkan Anda, hanya datang ketika membutuhkan sesuatu, tidak mampu menghargai keberhasilan Anda, melanggar batasan, menguras energi emosional, dan mengkhianati kepercayaan Anda—sementara tidak menunjukkan keinginan untuk berubah—mungkin sudah waktunya mengevaluasi kembali hubungan tersebut.
Mencari teman baru bukan berarti Anda tidak setia.
Menjaga jarak bukan berarti Anda jahat.
Dan memilih lingkungan yang lebih sehat bukan berarti Anda merasa lebih baik daripada orang lain.
Terkadang, salah satu bentuk kedewasaan adalah menyadari bahwa tidak semua orang yang pernah menjadi teman harus terus menjadi teman.
Pada akhirnya, pertemanan yang baik seharusnya membuat hidup terasa lebih manusiawi: ada tempat untuk tertawa, bercerita, berbeda pendapat, gagal, berkembang, dan tetap diterima.
Jika sebuah hubungan justru membuat Anda terus-menerus kehilangan rasa percaya diri, ketenangan, dan harga diri, mungkin bukan Anda yang terlalu sensitif.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Jessica Mila Sentil Kapten Kapal Soal Polemik Pulau Padar: Harus Terbuka soal Larangan Berlayar!
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku Sepekan
