pasangan yang saling mengejek satu sama lain / foto: Magnific/sevendeman
Bagi orang lain, kebiasaan tersebut mungkin terlihat aneh. Bagaimana mungkin dua orang yang saling mencintai justru sering mengejek? Bukankah seharusnya pasangan saling memuji?
Namun, dalam konteks tertentu, saling mengejek dengan pasangan justru bisa menjadi salah satu bentuk kedekatan emosional. Ketika dilakukan dengan penuh kasih sayang, memahami batasan, dan tidak bertujuan merendahkan, candaan di antara pasangan dapat menciptakan suasana yang lebih santai sekaligus memperkuat ikatan.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (11/8), psikologi hubungan juga menunjukkan bahwa humor dan kemampuan untuk bermain-main bersama dapat menjadi bagian penting dari hubungan yang sehat. Tentu saja, tidak semua ejekan memiliki dampak positif. Ada perbedaan besar antara candaan yang membuat pasangan tertawa bersama dan ejekan yang membuat salah satu pihak merasa direndahkan.
Lantas, mengapa saling mengejek bisa membuat hubungan semakin dekat?
Berikut enam alasannya.
1. Saling mengejek menunjukkan adanya rasa nyaman
Salah satu tanda hubungan yang semakin dekat adalah ketika seseorang merasa tidak perlu terus-menerus menjaga citra di depan pasangannya.
Pada tahap awal hubungan, seseorang biasanya lebih berhati-hati dalam berbicara. Ia mungkin memikirkan setiap kata, berusaha terlihat menarik, dan menghindari perilaku yang dianggap memalukan.
Namun, ketika hubungan sudah semakin dekat, komunikasi biasanya menjadi lebih spontan.
Pasangan mulai mengetahui kebiasaan kecil satu sama lain. Mereka mengetahui makanan favorit, kebiasaan buruk, ekspresi wajah ketika sedang kesal, bahkan hal-hal kecil yang mungkin tidak diketahui orang lain.
Dari sinilah candaan pribadi sering muncul.
Misalnya, seseorang yang selalu terlambat bisa menjadi bahan candaan ringan bagi pasangannya. Atau seseorang yang selalu lupa meletakkan kunci bisa digoda dengan sebutan tertentu yang hanya mereka berdua pahami.
Candaan seperti ini dapat menjadi tanda bahwa pasangan merasa cukup aman untuk menjadi dirinya sendiri.
Dengan kata lain, saling mengejek dalam konteks yang penuh kasih sayang bisa menunjukkan adanya rasa nyaman dan keakraban.
Ketika seseorang berani bercanda tanpa takut langsung disalahpahami, hubungan dapat terasa lebih santai. Pasangan tidak lagi hanya menjadi seseorang yang harus selalu dibuat terkesan, tetapi juga menjadi tempat untuk menjadi diri sendiri.
Tentu, rasa nyaman bukan berarti bebas mengatakan apa saja.
Justru dalam hubungan yang sehat, rasa nyaman berjalan bersama dengan kemampuan membaca batas pasangan.
2. Candaan menciptakan “bahasa rahasia” di antara pasangan
Setiap pasangan biasanya memiliki dunia kecil yang hanya mereka berdua pahami.
Ada lelucon yang tidak akan lucu bagi orang lain. Ada panggilan khusus. Ada cerita lama yang selalu diungkit dan membuat keduanya tertawa. Ada pula ekspresi atau kalimat tertentu yang langsung membuat pasangan tahu apa yang sedang dimaksud.
Hal-hal tersebut dapat menjadi semacam bahasa rahasia dalam hubungan.
Misalnya, pasangan pernah mengalami kejadian lucu ketika sedang bepergian. Setelah bertahun-tahun berlalu, salah satu dari mereka cukup mengucapkan satu kalimat dari kejadian tersebut dan keduanya langsung tertawa.
Orang lain mungkin tidak memahami apa yang lucu.
Namun, justru itulah yang membuatnya istimewa.
Candaan semacam ini menciptakan pengalaman bersama yang memperkuat perasaan bahwa mereka memiliki sejarah dan dunia yang dibangun bersama.
Dalam psikologi hubungan, pengalaman positif yang dilakukan berulang kali dapat membantu membangun kedekatan dan rasa keterhubungan.
Karena itu, saling mengejek bukan hanya soal membuat pasangan tertawa. Dalam banyak kasus, candaan tersebut menjadi pengingat bahwa pasangan memiliki pengalaman, cerita, dan kenangan yang hanya mereka miliki bersama.
Semakin banyak “lelucon internal” yang terbentuk, semakin kuat pula rasa memiliki terhadap hubungan tersebut.
3. Humor dapat membantu meredakan ketegangan
Hubungan romantis tidak mungkin selalu berjalan mulus.
Ada perbedaan pendapat, kesalahpahaman, pekerjaan yang membuat stres, masalah keluarga, atau sekadar hari yang buruk.
Dalam situasi tertentu, humor dapat membantu mengurangi ketegangan.
Bayangkan pasangan sedang mengalami situasi yang cukup tegang. Salah satu kemudian mengatakan sesuatu yang lucu dan membuat keduanya tertawa.
Masalahnya mungkin belum selesai.
Namun, suasana emosional yang sebelumnya tegang bisa berubah menjadi lebih ringan.
Ini penting karena ketika emosi sedang sangat tinggi, seseorang biasanya lebih sulit berkomunikasi dengan tenang. Candaan yang tepat dapat menjadi semacam “jeda emosional” sebelum pasangan kembali membicarakan masalah dengan kepala lebih dingin.
Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan.
Humor bukan berarti digunakan untuk menghindari masalah.
Jika pasangan sedang membicarakan persoalan serius, lalu salah satunya terus bercanda untuk menghindari pembicaraan, hal tersebut justru dapat membuat hubungan bermasalah.
Humor akan lebih bermanfaat ketika digunakan untuk meredakan ketegangan, bukan untuk menutupi persoalan yang perlu diselesaikan.
Jadi, pasangan yang mampu tertawa bersama ketika menghadapi situasi sulit mungkin memiliki salah satu alat sederhana untuk menjaga hubungan tetap fleksibel dan tidak terlalu kaku.
4. Saling mengejek bisa membuat hubungan terasa lebih menyenangkan
Hubungan yang terlalu serius setiap saat dapat terasa melelahkan.
Ada pekerjaan, tagihan, tanggung jawab keluarga, rutinitas, dan berbagai persoalan kehidupan yang harus dipikirkan. Jika hubungan juga selalu dipenuhi percakapan serius, lama-kelamaan pasangan mungkin merasa bahwa interaksi mereka hanya berkisar pada kewajiban.
Di sinilah humor memiliki peran.
Saling menggoda dapat menghadirkan unsur playfulness, yaitu kemampuan untuk bermain, bercanda, dan menikmati kebersamaan tanpa selalu memiliki tujuan tertentu.
Misalnya, pasangan sedang memasak bersama. Salah satu mengejek kemampuan memasak pasangannya yang kurang sempurna. Pasangan lainnya membalas dengan candaan tentang kemampuan mencuci piring.
Tidak ada niat untuk benar-benar merendahkan.
Mereka hanya menikmati momen tersebut.
Hal-hal kecil seperti ini dapat membuat rutinitas sehari-hari terasa lebih menyenangkan.
Hubungan yang sehat bukan hanya dibangun dari kemampuan menyelesaikan masalah. Hubungan juga membutuhkan pengalaman positif.
Tertawa bersama, melakukan aktivitas menyenangkan, bercanda, dan menikmati momen sederhana dapat membantu menciptakan kenangan positif yang membuat hubungan terasa lebih hidup.
Karena itu, terkadang pasangan tidak membutuhkan kencan mahal untuk mempererat hubungan.
Bisa jadi, tertawa bersama karena lelucon sederhana justru menjadi salah satu momen yang paling mereka ingat.
5. Ejekan ringan dapat menunjukkan bahwa pasangan benar-benar saling mengenal
Ada perbedaan antara mengejek secara acak dan menggoda seseorang berdasarkan hal-hal yang benar-benar kita ketahui tentang dirinya.
Pasangan yang sudah lama bersama biasanya mengetahui banyak detail kecil tentang satu sama lain.
Mereka tahu apa yang membuat pasangannya tertawa. Mereka tahu kapan sebuah candaan bisa diterima dan kapan sebaiknya berhenti. Mereka juga mengetahui topik apa yang sebaiknya tidak dijadikan bahan lelucon.
Kemampuan membaca batas tersebut merupakan bagian penting dari kedekatan.
Misalnya, seseorang mungkin tidak keberatan jika pasangannya mengejek kebiasaan buruknya dalam memilih makanan. Namun, ia mungkin sangat sensitif jika bentuk tubuh atau masalah pribadi dijadikan bahan candaan.
Pasangan yang mengenal satu sama lain dengan baik akan memahami perbedaan tersebut.
Dengan demikian, humor dalam hubungan juga dapat menjadi bentuk komunikasi nonverbal tentang seberapa baik pasangan memahami satu sama lain.
Ketika seseorang berkata, “Aku tahu kamu akan kesal kalau aku bilang begini, jadi aku berhenti,” sebenarnya ia sedang menunjukkan perhatian terhadap perasaan pasangannya.
Kedekatan bukan hanya tentang mengetahui apa yang membuat pasangan tertawa.
Kedekatan juga berarti mengetahui kapan harus berhenti bercanda.
6. Bisa menjadi tanda bahwa pasangan merasa aman secara emosional
Alasan terakhir mungkin merupakan salah satu yang paling penting.
Hubungan yang sehat membutuhkan rasa aman secara emosional.
Rasa aman membuat seseorang merasa bahwa ia dapat menjadi dirinya sendiri tanpa harus terus-menerus takut dihakimi atau ditolak.
Ketika pasangan dapat bercanda, saling menggoda, lalu tertawa bersama tanpa ada niat untuk menyakiti, interaksi tersebut dapat menjadi bagian dari rasa aman itu.
Namun, rasa aman tersebut harus berjalan dua arah.
Jika hanya satu orang yang selalu mengejek sementara yang lain terpaksa tertawa agar tidak dianggap terlalu sensitif, itu bukan lagi humor yang sehat.
Begitu pula jika ejekan digunakan untuk mengontrol, mempermalukan, mengungkit kelemahan, atau membuat pasangan merasa tidak berharga.
Dalam kondisi seperti itu, candaan justru dapat merusak kepercayaan.
Karena itu, yang membuat ejekan dapat memperkuat hubungan bukanlah kata-kata ejekannya semata.
Yang membuatnya sehat adalah adanya rasa percaya, kasih sayang, kesetaraan, dan pemahaman terhadap batas masing-masing.
Ketika kedua orang sama-sama dapat tertawa, sama-sama merasa dihargai, dan sama-sama bebas mengatakan “jangan bercanda soal itu”, humor dapat menjadi bagian dari hubungan yang hangat.
Bukan Semua Ejekan Itu Sehat
Penting untuk membedakan antara teasing atau godaan penuh kasih sayang dengan ejekan yang bersifat merendahkan.
Ejekan cenderung sehat ketika:
Keduanya dapat tertawa bersama.
Tidak ada niat mempermalukan pasangan.
Tidak menyentuh luka atau trauma pribadi.
Tidak dilakukan di depan orang lain untuk menjatuhkan pasangan.
Pasangan dapat mengatakan “jangan” dan batas tersebut dihormati.
Candaan tidak digunakan sebagai senjata saat sedang bertengkar.
Tidak ada pihak yang selalu menjadi sasaran.
Setelah bercanda, pasangan tetap merasa dihargai dan dicintai.
Sebaliknya, ejekan mulai menjadi tidak sehat ketika salah satu pasangan merasa takut, malu, tidak berharga, atau terus-menerus direndahkan.
Misalnya, mengejek penampilan pasangan di depan teman-temannya, menghina kemampuan intelektualnya, menggunakan kelemahan pribadi sebagai bahan lelucon, atau mengatakan “kan cuma bercanda” setelah menyakiti perasaan pasangan.
Kalimat “cuma bercanda” tidak otomatis membuat sebuah candaan menjadi tidak menyakitkan.
Yang lebih penting adalah dampaknya dan bagaimana pasangan merespons ketika diberi tahu bahwa candaan tersebut melewati batas.
Kuncinya Bukan pada Ejekannya, tetapi pada Cara Melakukannya
Pada akhirnya, hubungan yang sehat bukanlah hubungan yang tidak pernah saling mengejek.
Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana kedua orang memahami bagaimana cara bercanda tanpa kehilangan rasa hormat.
Saling mengejek bisa menjadi tanda keakraban ketika di dalamnya terdapat kasih sayang. Candaan dapat membuat hubungan terasa lebih santai, menciptakan kenangan bersama, mengurangi ketegangan, dan membangun semacam bahasa pribadi yang hanya dimengerti oleh pasangan.
Tetapi humor tidak boleh dijadikan alasan untuk menyakiti.
Ada perbedaan besar antara:
“Aku tahu kamu selalu lama kalau siap-siap. Aku sudah hafal.”
dengan:
“Kamu memang selalu menyusahkan dan tidak pernah bisa melakukan apa pun dengan benar.”
Kalimat pertama bisa menjadi candaan ringan yang mencerminkan keakraban. Kalimat kedua menyerang harga diri.
Jadi, jika kamu dan pasangan sering saling mengejek lalu tertawa bersama, tidak perlu langsung menganggap kebiasaan tersebut sebagai sesuatu yang buruk.
Bisa jadi, di balik candaan-candaan kecil itu terdapat sesuatu yang lebih penting: rasa nyaman, kepercayaan, pengalaman bersama, dan kemampuan untuk menjadi diri sendiri di hadapan orang yang dicintai.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Profil Penang FC: Ujian Persebaya Jelang Super League, Ada Misi Khusus Bernardo Tavares
Profil Lengkap Destry Damayanti, Calon Tunggal Gubernur BI
Finis P9 Moto3 Inggris 2026, Veda Ega Pratama Bongkar Kesalahan di Silverstone
Tumplek Blek! Ribuan Massa Padati Jalan Gubernur Surabaya untuk Ikuti Aksi Tolak LGBTQ
