Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 12 Agustus 2026 | 04.32 WIB

Jika Anda Kesulitan Menerapkan Screen Time untuk Si Kecil, Coba Lakukan 7 Strategi Ini

seseorang yang kesulitan menerapkan screen time untuk si kecil / foto: Magnific/The Yuri Arcurs Collection

 

JawaPos.com - Membatasi screen time anak sering kali terdengar sederhana: tentukan waktunya, beri tahu anak, lalu matikan perangkat ketika waktunya habis.

Namun, praktiknya tidak selalu semudah itu.

Ketika waktu bermain gawai selesai, anak bisa menangis, marah, memohon tambahan waktu, bahkan mengalami tantrum. Di sisi lain, orang tua juga bisa merasa serba salah. Jika terlalu tegas, takut anak merasa tidak dipahami. Jika terlalu longgar, aturan screen time yang sudah dibuat justru tidak pernah benar-benar berjalan.

Situasi seperti ini sebenarnya cukup wajar.

Bagi anak, terutama yang masih kecil, berpindah dari aktivitas yang sangat menyenangkan seperti menonton video atau bermain gim menuju aktivitas lain membutuhkan kemampuan mengendalikan diri yang masih berkembang. Karena itu, persoalan screen time bukan hanya soal "berapa menit anak boleh menggunakan gawai", tetapi juga tentang bagaimana orang tua membantu anak belajar mengatur diri.

Psikologi perkembangan dan ilmu perilaku memberikan beberapa prinsip yang dapat membantu orang tua membuat aturan screen time lebih mudah diterapkan.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (11/8), terdapat tujuh strategi yang bisa dicoba.

1. Jangan hanya mengatakan "berhenti", tetapi beri peringatan sebelum waktunya habis

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah memberikan batas waktu secara tiba-tiba.

Anak sedang asyik menonton atau bermain, kemudian orang tua datang dan berkata, "Sudah, matikan sekarang!"

Bagi orang dewasa, perintah tersebut mungkin terdengar biasa. Namun, bagi anak, perubahan mendadak dari aktivitas yang menyenangkan menuju aktivitas lain dapat terasa sangat tidak nyaman.

Karena itu, cobalah memberikan transisi bertahap.

Misalnya:

"Lima menit lagi kita selesai, ya."

Kemudian, ketika tinggal sekitar satu menit:

"Sebentar lagi waktunya habis. Setelah ini kita matikan tabletnya."

Strategi sederhana ini memberikan kesempatan kepada anak untuk mempersiapkan diri secara mental.

Anak juga perlahan belajar bahwa aktivitas memiliki awal dan akhir.

Anda bahkan bisa menggunakan rutinitas yang konsisten. Misalnya, setiap kali screen time akan selesai, orang tua selalu memberikan peringatan lima menit sebelumnya.

Dengan begitu, anak tidak merasa bahwa aturan muncul secara tiba-tiba.

Mengapa strategi ini membantu?

Anak kecil belum memiliki kemampuan regulasi diri yang sama seperti orang dewasa. Mereka masih belajar mengendalikan impuls, mengelola kekecewaan, dan berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya.

Peringatan membantu proses transisi sehingga penghentian gawai tidak terasa seperti kehilangan yang mendadak.

2. Buat aturan screen time yang sederhana dan konsisten

Anak akan lebih mudah memahami aturan jika aturan tersebut jelas.

Daripada mengatakan:

"Jangan terlalu lama main HP."

Lebih baik membuat aturan yang konkret.

Misalnya:

"Setelah makan sore, kamu boleh menonton selama 30 menit."

Atau:

"Gawai digunakan setelah pekerjaan rumah selesai."

Yang terpenting bukan membuat aturan sebanyak mungkin, melainkan membuat aturan yang mudah dipahami dan konsisten.

Jika hari ini anak boleh bermain selama satu jam, tetapi besok hanya 20 menit tanpa alasan yang jelas, anak bisa kesulitan memahami batas sebenarnya.

Konsistensi membuat aturan terasa lebih dapat diprediksi.

Bukan berarti orang tua tidak boleh fleksibel. Tentu ada kondisi tertentu ketika aturan bisa disesuaikan. Namun, perubahan sebaiknya memiliki alasan yang jelas dan dikomunikasikan kepada anak.

Misalnya:

"Hari ini kita sedang perjalanan, jadi waktu menontonnya sedikit berbeda."

Dengan begitu, anak belajar bahwa aturan dapat memiliki pengecualian, tetapi bukan berarti aturan tidak berlaku.

Jangan membuat terlalu banyak larangan

Orang tua juga tidak perlu mengubah screen time menjadi daftar panjang larangan.

Fokuslah pada beberapa aturan utama, misalnya:

kapan boleh menggunakan gawai,
berapa lama penggunaannya,
di mana gawai boleh digunakan,
dan kapan gawai harus disimpan.

Semakin sederhana aturan, semakin mudah seluruh anggota keluarga menjalankannya.

3. Berikan pilihan kecil agar anak merasa memiliki kendali

Anak sering menolak bukan semata-mata karena tidak mau mengikuti aturan. Terkadang mereka juga sedang belajar tentang kemandirian.

Karena itu, daripada semua keputusan dibuat oleh orang tua, berikan pilihan terbatas.

Misalnya:

"Kamu mau matikan sekarang atau setelah video ini selesai?"

Atau:

"Setelah screen time, kamu mau menggambar atau bermain balok?"

Perhatikan bahwa orang tua tetap mempertahankan batas utama.

Anak tidak diberi pilihan mengenai apakah screen time berlangsung tanpa batas. Yang diberikan adalah pilihan kecil di dalam batas yang sudah ditentukan.

Ini dapat membantu anak merasa memiliki kontrol terhadap dirinya sendiri.

Hindari pilihan yang sebenarnya bukan pilihan

Jangan mengatakan:

"Mau berhenti sekarang atau Mama matikan HP-nya?"

Jika kedua pilihan tersebut sebenarnya merupakan ancaman, anak kemungkinan akan merasakannya.

Pilihan yang lebih baik adalah pilihan yang benar-benar dapat diterima orang tua.

Contohnya:

"Mau simpan tabletnya di meja atau di laci?"

Keduanya sama-sama berarti screen time selesai.

Anak mendapatkan kesempatan mengambil keputusan kecil, sementara batas tetap berada di tangan orang tua.

4. Validasi perasaan anak, tetapi tetap pertahankan batas

Ketika anak menangis karena waktu bermain selesai, sebagian orang tua langsung mengatakan:

"Sudah, jangan menangis."

Padahal, menangis atau kecewa bukan berarti anak sedang melakukan sesuatu yang salah.

Anak boleh merasa kecewa.

Yang perlu dipelajari adalah bagaimana mengekspresikan kekecewaan tanpa melanggar aturan.

Orang tua bisa mengatakan:

"Kamu masih ingin menonton, ya. Memang menyenangkan kalau bisa lanjut."

Kemudian lanjutkan:

"Tapi waktunya sudah selesai. Sekarang kita simpan tabletnya."

Ini adalah perbedaan penting antara memvalidasi emosi dan mengabulkan permintaan.

Memvalidasi berarti mengakui perasaan anak.

Bukan berarti orang tua harus memberikan tambahan waktu setiap kali anak menangis.

Kalimat seperti:

"Mama tahu kamu kecewa."

tidak sama dengan:

"Kalau kamu berhenti menangis, boleh tambah 10 menit."

Jika tambahan waktu terus diberikan sebagai respons terhadap tantrum, anak bisa belajar bahwa ledakan emosi merupakan cara efektif untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

Sebaliknya, ketika orang tua tetap tenang dan konsisten, anak perlahan belajar bahwa rasa kecewa dapat dirasakan tanpa harus selalu mendapatkan apa yang diinginkan.

5. Jangan menjadikan gawai sebagai satu-satunya sumber hiburan

Screen time akan jauh lebih sulit dibatasi jika gawai menjadi aktivitas paling menarik yang tersedia sepanjang hari.

Bayangkan anak diminta berhenti bermain gim, kemudian setelah itu tidak ada kegiatan menarik lain.

Tentu saja perpindahan tersebut terasa berat.

Karena itu, salah satu strategi penting adalah menyediakan alternatif aktivitas yang menarik.

Misalnya:

bermain di luar rumah,
membaca buku,
menggambar,
bermain balok,
bermain peran,
membantu memasak,
bermain bersama orang tua,
bermain dengan saudara,
atau melakukan aktivitas fisik.

Tidak berarti setiap aktivitas harus dibuat sehebat video atau gim.

Tujuannya adalah membantu anak memahami bahwa kesenangan tidak hanya berasal dari layar.

Ciptakan "ritual setelah screen time"

Anda juga bisa membuat aktivitas tertentu yang selalu dilakukan setelah gawai disimpan.

Contohnya:

"Setelah menonton, kita mandi."

Atau:

"Setelah bermain tablet, kita baca satu buku bersama."

Dengan rutinitas yang berulang, anak menjadi lebih mudah memprediksi apa yang terjadi setelah screen time berakhir.

Transisi pun dapat terasa lebih natural.

6. Orang tua juga perlu memperhatikan kebiasaan penggunaan gawai sendiri

Ini mungkin salah satu strategi yang paling sulit, tetapi juga sangat penting.

Anak tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan orang tua. Mereka juga belajar dari apa yang mereka lihat.

Jika orang tua mengatakan:

"Jangan terus-terusan main HP."

tetapi orang tua sendiri terus memeriksa ponsel saat makan, berbicara dengan anak sambil melihat layar, atau menggunakan ponsel setiap kali merasa bosan, anak bisa mendapatkan pesan yang berbeda.

Anak mungkin berpikir:

"Kalau HP begitu menyenangkan sampai orang dewasa sulit melepaskannya, kenapa aku harus berhenti?"

Karena itu, cobalah membuat beberapa zona bebas gawai untuk seluruh keluarga.

Misalnya:

saat makan,
ketika berbicara bersama,
satu jam sebelum tidur,
atau selama kegiatan keluarga tertentu.

Aturan yang berlaku untuk semua anggota keluarga biasanya terasa lebih adil bagi anak.

Orang tua tidak harus menjadi sempurna.

Yang penting adalah menunjukkan bahwa orang dewasa pun sedang belajar mengatur penggunaan teknologi.

Misalnya:

"Ayah juga mau menyimpan HP sekarang supaya kita bisa makan bersama."

Kalimat sederhana seperti ini dapat menjadi contoh nyata bagi anak.

7. Fokus pada pembentukan kebiasaan, bukan kesempurnaan

Menerapkan screen time bukan proyek yang harus berhasil 100 persen setiap hari.

Ada hari ketika anak mengikuti aturan dengan baik.

Ada pula hari ketika anak sangat sulit berhenti.

Ada hari ketika orang tua konsisten.

Ada juga hari ketika orang tua terlalu lelah dan akhirnya memberikan tambahan waktu.

Itu tidak berarti seluruh usaha gagal.

Yang lebih penting adalah melihat pola dalam jangka panjang.

Apakah anak mulai memahami kapan waktunya menggunakan gawai?

Apakah ia mulai bisa berhenti dengan lebih sedikit protes?

Apakah transisi dari layar menuju aktivitas lain menjadi lebih mudah?

Apakah keluarga mulai memiliki rutinitas tanpa gawai?

Kemajuan seperti inilah yang layak diperhatikan.

Orang tua juga dapat mengevaluasi aturan secara berkala.

Jika aturan terlalu sulit diterapkan, mungkin bukan anak saja yang perlu "diperbaiki". Bisa jadi sistemnya memang perlu dibuat lebih realistis.

Misalnya, daripada menetapkan:

"Tidak boleh menggunakan gawai sama sekali selama hari kerja."

orang tua dapat membuat aturan yang lebih mudah dipertahankan dan sesuai dengan rutinitas keluarga.

Tujuannya bukan menciptakan rumah yang bebas layar.

Tujuannya adalah membantu anak membangun hubungan yang lebih sehat dengan teknologi.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Saat Anak Tantrum karena Screen Time?

Ini adalah situasi yang paling sering membuat orang tua kehilangan kesabaran.

Ketika gawai dimatikan dan anak mulai menangis, berteriak, atau meminta tambahan waktu, cobalah menggunakan pola sederhana:

Tenang → validasi → tegaskan batas → alihkan.

Contohnya:

"Kamu kecewa karena waktunya sudah selesai."

"Mama tahu kamu masih ingin bermain."

"Tapi waktunya memang sudah habis."

"Sekarang kita simpan tabletnya. Kamu mau menggambar atau bermain bersama Mama?"

Tidak perlu memberikan ceramah panjang ketika anak sedang sangat emosional.

Ketika anak berada dalam kondisi emosi yang tinggi, penjelasan panjang sering kali justru sulit diterima.

Gunakan kalimat pendek, suara tenang, dan batas yang jelas.

Jika anak tetap menangis, orang tua tidak harus langsung mencari cara agar tangisannya berhenti.

Anak boleh mengalami rasa kecewa.

Peran orang tua adalah mendampingi anak melewati emosi tersebut dengan aman, bukan menghilangkan setiap rasa tidak nyaman.

Hindari Menggunakan Screen Time sebagai "Obat" untuk Setiap Emosi

Ada kebiasaan yang tanpa sadar bisa membuat screen time semakin sulit dikendalikan: memberikan gawai setiap kali anak bosan, rewel, menangis, atau sulit menunggu.

Memang, cara ini sering berhasil dalam jangka pendek.

Anak menjadi diam.

Orang tua mendapatkan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan.

Namun, jika selalu dilakukan, anak dapat semakin terbiasa menggunakan layar sebagai cara utama untuk mengatasi rasa bosan atau tidak nyaman.

Cobalah memperkenalkan alternatif lain.

Ketika anak bosan, misalnya, tidak selalu harus langsung diberi gawai.

Anda bisa mengatakan:

"Kamu bosan? Yuk, kita cari kegiatan."

Lalu berikan dua pilihan sederhana.

"Mau menggambar atau bermain bola?"

Dengan cara ini, anak belajar bahwa kebosanan bukan sesuatu yang harus selalu segera dihilangkan dengan layar.

Justru, kemampuan menghadapi kebosanan merupakan bagian dari proses belajar mandiri.

Buat Screen Time Lebih Berkualitas, Bukan Sekadar Menghitung Menit

Membatasi durasi memang penting, tetapi perhatian orang tua sebaiknya tidak hanya tertuju pada angka.

Pertanyaan lain yang juga penting adalah:

Apa yang anak lakukan selama menggunakan layar?

Menonton konten yang sesuai usia bersama orang tua tentu berbeda dengan anak berpindah-pindah video tanpa tujuan selama berjam-jam.

Begitu pula bermain gim edukatif, menonton tayangan yang sesuai usia, melakukan video call dengan keluarga, dan menggunakan perangkat untuk membuat sesuatu memiliki karakter yang berbeda.

Karena itu, orang tua dapat mempertimbangkan beberapa hal:

Apakah kontennya sesuai usia?
Apakah kontennya aman dan sesuai nilai keluarga?
Apakah anak hanya menjadi penonton pasif atau juga berpikir dan berinteraksi?
Apakah penggunaan layar mengganggu tidur?
Apakah penggunaan layar menggantikan aktivitas penting seperti bermain fisik, belajar, makan, atau berinteraksi dengan keluarga?

Dengan begitu, pembicaraan tentang screen time menjadi lebih luas daripada sekadar "berapa jam".

Jangan Lupa: Anak Masih Sedang Belajar Mengendalikan Diri

Pada akhirnya, mungkin inilah hal paling penting untuk diingat orang tua.

Anak tidak lahir dengan kemampuan regulasi diri yang sempurna.

Mereka masih belajar menunggu.

Masih belajar menerima kata "tidak".

Masih belajar berhenti ketika sesuatu menyenangkan.

Masih belajar menghadapi rasa kecewa.

Karena itu, ketika anak kesulitan berhenti menggunakan gawai, jangan langsung menyimpulkan bahwa anak "kecanduan" atau "tidak bisa diatur".

Lihatlah situasinya sebagai kesempatan untuk melatih keterampilan tersebut.

Orang tua memberikan batas.

Anak mengalami rasa kecewa.

Orang tua membantu anak melewati rasa kecewa.

Kemudian proses tersebut diulang berkali-kali.

Dari situlah kemampuan regulasi diri perlahan terbentuk.

Kesimpulan

Menerapkan screen time pada anak memang tidak selalu mudah. Terlebih jika anak sudah terbiasa mendapatkan hiburan dari gawai kapan pun ia mau.

Namun, aturan screen time tidak harus diterapkan dengan pertengkaran setiap hari.

Orang tua dapat memulainya dengan tujuh strategi sederhana:

Berikan peringatan sebelum screen time berakhir.
Buat aturan yang sederhana dan konsisten.
Berikan pilihan kecil agar anak merasa memiliki kendali.
Validasi perasaan tanpa mengubah batas.
Sediakan alternatif aktivitas yang menarik.
Tunjukkan kebiasaan penggunaan gawai yang sehat sebagai orang tua.
Fokus pada pembentukan kebiasaan, bukan kesempurnaan.

Yang perlu diingat, tujuan screen time bukan membuat anak sama sekali tidak tertarik pada layar.

Teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Yang ingin dibangun adalah kemampuan anak untuk menggunakan teknologi secara seimbang, memahami batas, dan secara perlahan belajar mengatur dirinya sendiri.

Jadi, jika selama ini Anda merasa gagal menerapkan screen time karena anak selalu menangis atau marah ketika gawai diambil, jangan langsung menyerah.

Mungkin yang perlu diubah bukan hanya durasinya, tetapi juga cara keluarga melakukan transisi, membuat aturan, merespons emosi, dan membangun kebiasaan sehari-hari.

Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi fondasi penting bagi hubungan anak dengan teknologi di kemudian hari.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore