Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 9 Agustus 2026 | 05.31 WIB

Jika Seseorang Takut Melakukan 6 Hal Ini, Kemungkinan Ada Sisi Narsistik dalam Dirinya

seseorang yang takut mengakui kesalahan / foto: Magnific/jet-po

 

JawaPos.com - Pernahkah Anda bertemu seseorang yang terlihat sangat percaya diri, senang mendapatkan perhatian, dan tampak selalu ingin dianggap hebat? Namun, di balik penampilan tersebut, ia justru sangat takut terhadap kritik, kegagalan, penolakan, atau situasi yang membuat dirinya terlihat biasa saja?

Dalam psikologi, narsisme tidak selalu muncul dalam bentuk seseorang yang terang-terangan membanggakan dirinya. Ada pula bentuk narsisme yang lebih tersembunyi. Seseorang bisa terlihat pendiam, sensitif, bahkan rendah hati, tetapi di dalam dirinya memiliki kebutuhan yang sangat kuat untuk merasa istimewa, dihargai, dikagumi, atau diperlakukan secara khusus.

Salah satu cara untuk memahami pola tersebut adalah dengan melihat hal-hal yang sangat sulit dilakukan atau sangat ditakuti seseorang.

Mengapa?

Karena ketakutan tertentu dapat menunjukkan bagian dari harga diri seseorang yang terasa rapuh. Ketika harga diri sangat bergantung pada pengakuan dari luar, situasi yang mengancam citra diri bisa terasa jauh lebih menakutkan daripada bagi kebanyakan orang.

Namun, penting untuk diingat: takut melakukan satu atau beberapa hal berikut tidak otomatis berarti seseorang narsistik. Banyak orang yang sehat secara psikologis juga dapat takut gagal, ditolak, atau dikritik. Yang lebih penting adalah pola yang konsisten, intensitasnya, dan bagaimana seseorang memperlakukan orang lain ketika menghadapi ancaman terhadap harga dirinya.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (8/8), terdapat enam hal yang patut diperhatikan.

1. Takut Mengakui Kesalahan

Salah satu tanda yang sering dikaitkan dengan pola narsistik adalah kesulitan mengakui kesalahan.

Bagi sebagian orang, mengatakan "Saya salah" hanyalah bagian normal dari kehidupan. Mereka mungkin merasa malu sesaat, tetapi setelah itu dapat mengevaluasi diri dan memperbaiki keadaan.

Pada seseorang dengan kecenderungan narsistik yang kuat, situasinya bisa berbeda.

Mengakui kesalahan dapat terasa seperti kehilangan status, kompetensi, atau keunggulan.

Bukan sekadar:

"Saya melakukan kesalahan."

Melainkan secara emosional dapat terasa seperti:

"Kalau saya salah, berarti saya tidak sehebat yang saya pikirkan."

Inilah yang membuat pengakuan sederhana menjadi begitu sulit.

Orang tersebut mungkin kemudian mencari alasan, menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain, atau menjelaskan mengapa kesalahannya sebenarnya bukan kesalahannya.

Misalnya, ketika sebuah proyek gagal, ia tidak mengatakan:

"Sepertinya keputusan saya memang kurang tepat."

Sebaliknya, ia mungkin mengatakan:

"Kalau anggota tim saya lebih kompeten, ini tidak akan terjadi."

Perbedaannya bukan sekadar cara berbicara. Ini berkaitan dengan bagaimana seseorang melindungi citra dirinya.

Mengapa ini bisa terjadi?

Dalam pola narsistik, harga diri dapat sangat bergantung pada bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri. Karena itu, pengakuan terhadap kekurangan dapat terasa mengancam.

Ia mungkin memiliki gambaran diri sebagai orang yang pintar, sukses, kuat, berpengaruh, atau selalu benar. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan gambaran tersebut, muncul ketegangan psikologis.

Untuk mengurangi ketegangan itu, seseorang bisa melakukan berbagai bentuk pertahanan psikologis.

Salah satunya adalah mengalihkan kesalahan kepada orang lain.

Tetapi hati-hati dalam menilainya

Tidak semua orang yang sulit meminta maaf adalah narsistik.

Rasa malu, pengalaman masa kecil, ketakutan terhadap konflik, perfeksionisme, atau pengalaman pernah dipermalukan juga dapat membuat seseorang sulit mengakui kesalahan.

Yang perlu diperhatikan adalah pola berulang: apakah orang tersebut hampir selalu harus menjadi pihak yang benar dan secara konsisten menolak bertanggung jawab?

Jika iya, hal itu lebih bermakna daripada satu kejadian.

2. Takut Terlihat Biasa Saja

Ini mungkin salah satu ketakutan yang paling menarik.

Bagi banyak orang, menjadi orang biasa bukan masalah besar. Mereka bisa memiliki kehidupan sederhana, pekerjaan biasa, pencapaian yang tidak spektakuler, dan tetap merasa dirinya berharga.

Namun, bagi seseorang dengan kecenderungan narsistik yang kuat, menjadi "biasa" dapat terasa sangat tidak nyaman.

Mengapa?

Karena sebagian harga dirinya mungkin dibangun berdasarkan perasaan bahwa dirinya lebih istimewa daripada orang lain.

Ia mungkin membutuhkan posisi tertentu.

Harus menjadi yang paling pintar.

Harus terlihat paling sukses.

Harus mendapatkan perhatian.

Harus memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain.

Harus menjadi orang yang dianggap penting.

Ketika perhatian tersebut hilang, rasa percaya dirinya bisa ikut terguncang.

Bukan selalu tentang kesombongan

Narsisme juga dapat muncul dalam bentuk yang lebih halus.

Seseorang mungkin tidak pernah mengatakan:

"Saya lebih hebat daripada kalian."

Namun, ia sangat gelisah ketika orang lain mendapatkan penghargaan sementara dirinya tidak.

Ia mungkin merasa tersinggung ketika pencapaiannya tidak disebut.

Ia mungkin terus membandingkan dirinya dengan teman, rekan kerja, atau anggota keluarga.

Ia mungkin merasa hidupnya tidak berarti ketika tidak mendapatkan pengakuan.

Dengan kata lain, masalahnya bukan sekadar ingin sukses.

Masalahnya adalah ketika nilai diri terlalu bergantung pada posisi seseorang dibandingkan orang lain.

3. Takut Mendapat Kritik

Semua orang tentu tidak suka dikritik.

Namun, orang dengan kecenderungan narsistik yang kuat dapat mengalami kritik sebagai sesuatu yang jauh lebih mengancam.

Kritik terhadap perilaku bisa terasa seperti serangan terhadap identitas.

Contohnya, seseorang mengatakan:

"Presentasimu kurang jelas."

Orang yang relatif sehat secara psikologis mungkin berpikir:

"Baik, bagian mana yang harus saya perbaiki?"

Sementara seseorang yang memiliki harga diri rapuh dan kecenderungan narsistik dapat menerjemahkan kritik tersebut menjadi:

"Kamu menganggap saya bodoh."

Akibatnya, reaksinya bisa jauh lebih besar daripada situasinya.

Ia dapat menjadi defensif.

Marah.

Menyerang balik.

Meremehkan orang yang mengkritiknya.

Mengatakan bahwa orang lain iri.

Atau justru menarik diri dan merasa sangat terluka.

Menariknya, narsisme tidak selalu berarti seseorang menerima kritik dengan kemarahan terbuka.

Pada bentuk yang lebih tersembunyi, seseorang bisa terlihat sangat tersinggung, murung, malu, atau merasa menjadi korban setelah menerima kritik.

Mengapa kritik terasa begitu menyakitkan?

Karena kritik dapat menghancurkan gambaran diri yang sedang dipertahankan.

Jika seseorang merasa:

"Saya harus terlihat pintar agar saya berharga,"

maka kritik terhadap kecerdasannya menjadi sangat mengancam.

Jika ia merasa:

"Saya harus sukses agar saya berharga,"

maka kegagalan menjadi sangat sulit diterima.

Inilah salah satu alasan mengapa psikologi membedakan antara kepercayaan diri yang sehat dan harga diri yang bergantung pada validasi eksternal.

Orang yang benar-benar percaya diri biasanya masih dapat berkata:

"Saya memang salah."

Orang dengan harga diri yang rapuh mungkin merasa harus membuktikan:

"Saya tidak mungkin salah."

4. Takut Meminta Bantuan

Meminta bantuan merupakan bagian normal dari kehidupan.

Tidak ada manusia yang mampu melakukan semuanya sendirian.

Namun, bagi sebagian orang yang memiliki kecenderungan narsistik, meminta bantuan dapat terasa sangat mengancam.

Sebab, meminta bantuan berarti mengakui:

"Saya tidak tahu."

"Saya tidak mampu melakukannya sendiri."

"Saya membutuhkan orang lain."

Bagi orang yang sangat menjaga citra kompeten dan kuat, pengakuan semacam ini bisa terasa memalukan.

Ia mungkin lebih memilih mengalami kesulitan sendirian daripada meminta bantuan.

Bahkan ketika jelas-jelas membutuhkan bantuan, ia tetap berusaha mempertahankan kesan bahwa dirinya mampu mengendalikan semuanya.

Di baliknya bisa terdapat rasa takut terlihat lemah

Ini penting.

Narsisme sering dikaitkan dengan kesan percaya diri yang tinggi. Tetapi pada sebagian orang, di balik kebutuhan untuk terlihat kuat terdapat rasa tidak aman yang cukup besar.

Orang tersebut mungkin berpikir:

"Kalau saya membutuhkan orang lain, berarti saya tidak hebat."

Akibatnya, ia berusaha mempertahankan kemandirian secara berlebihan.

Ironisnya, hal ini justru dapat membuat hubungan menjadi sulit.

Pasangan mungkin merasa tidak dibutuhkan.

Teman merasa tidak dipercaya.

Rekan kerja merasa pendapatnya tidak dihargai.

Dan orang tersebut sendiri bisa merasa bahwa tidak ada seorang pun yang benar-benar mendukungnya.

Kemandirian bukan masalah

Tentu saja, mampu mandiri adalah hal positif.

Yang menjadi perhatian adalah ketika seseorang sangat takut terlihat membutuhkan orang lain, bahkan dalam situasi yang secara wajar memang membutuhkan kerja sama.

5. Takut Berada di Posisi yang Tidak Memiliki Kendali

Seseorang dengan kecenderungan narsistik yang kuat dapat memiliki kebutuhan besar untuk mengendalikan situasi.

Ia ingin menentukan bagaimana sesuatu dilakukan.

Ia ingin mengetahui apa yang sedang terjadi.

Ia ingin memengaruhi keputusan.

Dan terkadang, ia sulit menerima ketika orang lain mengambil keputusan tanpa melibatkannya.

Mengapa?

Karena kehilangan kendali juga dapat berarti kehilangan kemampuan untuk menjaga citra diri.

Selama seseorang memegang kendali, ia dapat mengatur bagaimana dirinya terlihat di mata orang lain.

Tetapi ketika keadaan berada di luar kendalinya, kemungkinan munculnya kegagalan, kritik, atau rasa malu menjadi lebih besar.

Contohnya dalam hubungan

Bayangkan seseorang yang selalu ingin mengetahui ke mana pasangannya pergi, dengan siapa, dan apa yang dilakukan.

Tidak semua perilaku kontrol otomatis menunjukkan narsisme. Bisa ada banyak penyebab lain.

Tetapi apabila kontrol tersebut disertai keyakinan bahwa:

"Saya berhak mengetahui semuanya."

"Keputusan harus mengikuti keinginan saya."

"Kalau kamu tidak mengikuti saya, berarti kamu tidak menghargai saya."

maka terdapat pola relasional yang patut diperhatikan.

Seseorang mungkin juga sulit menerima kata "tidak".

Penolakan kecil dapat dianggap sebagai penghinaan.

Perbedaan pendapat dianggap sebagai bentuk tidak hormat.

Keputusan orang lain dianggap sebagai ancaman terhadap otoritas dirinya.

Yang sebenarnya ditakuti mungkin bukan kehilangan kontrol

Yang lebih dalam mungkin adalah:

takut tidak lagi merasa penting.

Ketika seseorang tidak dapat mengendalikan keadaan, ia juga tidak dapat memastikan bagaimana orang lain memandang dirinya.

Bagi seseorang yang sangat bergantung pada citra diri, hal tersebut dapat terasa menakutkan.

6. Takut Tidak Mendapatkan Kekaguman atau Perhatian

Ini merupakan salah satu pola yang paling mudah terlihat.

Sebagian orang merasa nyaman ketika menjadi pusat perhatian.

Namun, mereka juga dapat menikmati ketika orang lain mendapatkan perhatian.

Sementara itu, seseorang dengan kecenderungan narsistik yang kuat mungkin merasa sangat tidak nyaman ketika dirinya tidak lagi menjadi pusat perhatian.

Bayangkan sebuah acara.

Semua orang awalnya memperhatikan dirinya. Ia merasa nyaman, percaya diri, dan aktif berbicara.

Kemudian seseorang yang lebih menarik datang.

Perhatian berpindah.

Orang lain mulai mendengarkan orang tersebut.

Bagaimana reaksinya?

Orang yang sehat mungkin berpikir:

"Wah, dia menarik juga."

Tetapi seseorang dengan kecenderungan narsistik yang kuat mungkin merasa tersaingi.

Ia dapat mencoba mengembalikan perhatian kepada dirinya.

Menyela.

Mengubah topik.

Membicarakan pencapaian pribadi.

Meremehkan orang tersebut.

Atau bahkan meninggalkan situasi karena merasa tidak dihargai.

Mengapa validasi begitu penting?

Karena bagi sebagian individu, perhatian dari orang lain berfungsi seperti "bahan bakar" bagi harga diri.

Ketika mendapatkan pujian:

"Saya hebat."

Ketika mendapatkan perhatian:

"Saya penting."

Ketika dikagumi:

"Saya berharga."

Masalah muncul ketika sumber penilaian diri hampir seluruhnya berasal dari luar.

Akibatnya, ketika perhatian menghilang, rasa percaya diri ikut jatuh.

Inilah sebabnya seseorang dapat terlihat sangat percaya diri pada satu situasi dan sangat sensitif pada situasi lain.

Narsisme Tidak Selalu Terlihat Seperti Kesombongan

Ada satu kesalahpahaman penting tentang narsisme.

Banyak orang membayangkan seorang narsisis sebagai seseorang yang selalu percaya diri, sombong, banyak bicara, dan senang memamerkan diri.

Padahal, narsisme dapat memiliki bentuk yang lebih kompleks.

Ada individu yang terlihat sangat percaya diri.

Ada pula yang terlihat sangat sensitif terhadap penolakan.

Ada yang suka mendominasi.

Ada yang justru menarik diri ketika merasa tidak dihargai.

Ada yang terang-terangan mencari pujian.

Ada yang secara tidak langsung mengharapkan orang lain terus-menerus meyakinkan dirinya.

Karena itu, melihat satu perilaku saja tidak cukup.

Yang lebih penting adalah pola keseluruhan.

Perhatikan Apa yang Terjadi Ketika Citra Dirinya Terancam

Salah satu cara memahami kecenderungan narsistik adalah memperhatikan respons seseorang ketika gambaran positif tentang dirinya mendapatkan ancaman.

Misalnya:

ketika dikritik,
ketika kalah,
ketika gagal,
ketika tidak dipuji,
ketika ditolak,
ketika orang lain lebih sukses,
ketika harus mengakui ketidaktahuan,
atau ketika kehilangan kendali.

Apakah ia mampu menerima kenyataan?

Apakah ia bisa mengatakan "Saya salah"?

Apakah ia bisa menghargai keberhasilan orang lain?

Apakah ia mampu meminta maaf?

Apakah ia dapat menerima batasan?

Apakah ia tetap menghargai orang lain meskipun tidak mendapatkan sesuatu dari mereka?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih informatif dibandingkan sekadar bertanya:

"Apakah dia percaya diri?"

Ada Perbedaan Antara Narsisme dan Percaya Diri

Ini bagian yang sangat penting.

Orang percaya diri dapat berkata:

"Saya punya kemampuan."

Tetapi ia juga mampu berkata:

"Saya masih perlu belajar."

Orang dengan pola narsistik yang kuat mungkin lebih sulit menerima kalimat kedua.

Orang percaya diri dapat menerima keberhasilan orang lain.

Orang dengan kecenderungan narsistik mungkin melihat keberhasilan orang lain sebagai ancaman.

Orang percaya diri dapat menerima kritik tanpa merasa identitasnya hancur.

Orang dengan harga diri yang sangat rapuh mungkin melihat kritik sebagai serangan pribadi.

Dengan demikian, percaya diri bukanlah masalah.

Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang harus terus-menerus mempertahankan gambaran bahwa dirinya unggul agar dapat merasa berharga.

Jangan Terburu-buru Menyebut Seseorang "Narsisis"

Istilah "narsisis" sering digunakan dalam percakapan sehari-hari untuk menggambarkan orang yang egois, sombong, atau sulit menerima kritik.

Namun, secara klinis, Narcissistic Personality Disorder atau gangguan kepribadian narsistik adalah kondisi yang jauh lebih kompleks.

Diagnosis tidak dapat dibuat hanya berdasarkan enam perilaku di atas.

Seseorang bisa takut gagal karena perfeksionisme.

Seseorang bisa sensitif terhadap kritik karena pengalaman masa lalu.

Seseorang bisa sulit meminta bantuan karena terbiasa mandiri.

Seseorang bisa ingin mengendalikan keadaan karena kecemasan.

Seseorang bisa membutuhkan perhatian karena merasa kesepian.

Jadi, satu perilaku tidak boleh digunakan sebagai bukti bahwa seseorang memiliki gangguan kepribadian.

Yang perlu diperhatikan adalah pola jangka panjang, tingkat keparahan, dampaknya terhadap hubungan dan kehidupan, serta keseluruhan karakteristik psikologis seseorang.

Kesimpulan

Jika seseorang sangat takut melakukan enam hal berikut—

Mengakui kesalahan
Terlihat biasa saja
Menerima kritik
Meminta bantuan
Kehilangan kendali
Tidak mendapatkan kekaguman atau perhatian

—hal tersebut dapat menjadi sesuatu yang menarik untuk diamati dari perspektif psikologi.

Bukan karena enam ketakutan tersebut otomatis membuktikan bahwa seseorang narsistik.

Melainkan karena ketakutan tersebut dapat mengungkap seberapa besar harga diri seseorang bergantung pada citra, status, kontrol, dan validasi dari orang lain.

Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting bukanlah:

"Apakah orang ini narsisis?"

Melainkan:

"Apa yang terjadi pada dirinya ketika ia tidak lagi merasa hebat, benar, penting, atau dikagumi?"

Jika seseorang tetap mampu menghargai orang lain, menerima kesalahan, meminta maaf, menerima kritik, dan memperbaiki diri ketika citranya terganggu, itu merupakan tanda fleksibilitas psikologis yang lebih sehat.

Sebaliknya, jika ancaman terhadap harga diri selalu diikuti oleh menyalahkan orang lain, merendahkan orang lain, mencari validasi secara berlebihan, kemarahan, manipulasi, atau ketidakmampuan menerima batasan, maka pola tersebut layak diperhatikan lebih serius.

Karena pada akhirnya, narsisme bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang memandang dirinya sendiri, tetapi juga tentang betapa sulitnya ia menghadapi kenyataan ketika dunia tidak memperlakukannya sesuai dengan gambaran dirinya.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore