Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 4 Agustus 2026 | 01.25 WIB

7 'Kebiasaan Buruk' yang Sering Dihindari, tetapi Justru Menuju Kesuksesan Menurut Psikologi

seseorang yang kerap bermalas-malasan / foto: Magnific/stockking

 

JawaPos.com - "Jangan malas, jangan membantah, jangan menyendiri." Kalimat-kalimat seperti ini sering kita dengar sejak kecil. Namun, benarkah semua kebiasaan yang dianggap buruk selalu berdampak negatif?

Psikologi modern menunjukkan bahwa tidak semua perilaku yang dicap sebagai "kebiasaan buruk" benar-benar merugikan. Dalam konteks yang tepat, beberapa di antaranya justru dapat membantu seseorang berpikir lebih kreatif, mengambil keputusan lebih baik, hingga mencapai kesuksesan yang lebih besar.

Tentu saja, bukan berarti kebiasaan-kebiasaan ini boleh dilakukan secara berlebihan. Kuncinya adalah memahami kapan dan bagaimana memanfaatkannya.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (3/8), terdapat tujuh kebiasaan yang sering dipandang negatif, tetapi menurut berbagai temuan psikologi justru bisa menjadi keuntungan.

1. Menunda Pekerjaan (Prokrastinasi) Secara Terukur

Prokrastinasi hampir selalu dianggap musuh produktivitas. Banyak orang percaya bahwa semakin cepat sebuah pekerjaan dimulai, semakin baik hasilnya.

Namun, psikolog organisasi Adam Grant menjelaskan bahwa prokrastinasi tingkat sedang dapat memberikan waktu bagi otak untuk mengolah ide secara tidak sadar (incubation effect).

Saat seseorang tidak langsung mengerjakan tugas, pikirannya tetap memproses masalah di latar belakang. Akibatnya, solusi yang muncul sering kali lebih kreatif dibanding keputusan yang dibuat secara tergesa-gesa.

Misalnya, seorang desainer yang menunda membuat konsep selama satu hari mungkin justru menghasilkan desain yang lebih inovatif dibandingkan jika langsung mengerjakannya.

Yang perlu diingat, yang bermanfaat adalah menunda secara terencana, bukan menunggu hingga tenggat waktu benar-benar habis.

2. Bermalas-malasan Sesekali

Dalam budaya yang memuja kesibukan, bermalas-malasan sering dianggap sebagai tanda kemunduran.

Padahal, psikologi menunjukkan bahwa otak membutuhkan waktu istirahat untuk memulihkan energi mental.

Ketika seseorang sedang tidak melakukan apa pun, jaringan otak yang disebut Default Mode Network (DMN) menjadi aktif. Jaringan ini berperan dalam:

menghubungkan berbagai ide,
meningkatkan kreativitas,
memperkuat ingatan,
membantu memecahkan masalah yang rumit.

Tidak heran jika banyak ide brilian muncul saat mandi, berjalan santai, atau sekadar duduk menikmati secangkir kopi.

Istirahat bukan berarti malas. Justru, istirahat yang cukup merupakan bagian penting dari produktivitas jangka panjang.

3. Terlalu Banyak Bertanya

Di sekolah, terlalu banyak bertanya kadang dianggap mengganggu. Di dunia kerja, sebagian orang khawatir terlihat kurang pintar jika sering mengajukan pertanyaan.

Faktanya, psikologi sosial menemukan bahwa orang yang aktif bertanya justru lebih cepat belajar dan membangun hubungan interpersonal yang lebih baik.

Bertanya menunjukkan rasa ingin tahu, bukan kelemahan.

Orang-orang sukses biasanya tidak takut mengakui bahwa mereka belum mengetahui sesuatu. Mereka memilih mencari jawaban daripada berpura-pura mengerti.

Semakin banyak pertanyaan yang berkualitas, semakin cepat seseorang berkembang.

4. Menyendiri

Banyak orang menganggap individu yang sering menyendiri sebagai antisosial.

Padahal, menyendiri tidak sama dengan kesepian.

Psikologi membedakan keduanya dengan jelas. Kesepian adalah kondisi yang tidak diinginkan, sedangkan menyendiri adalah pilihan sadar untuk memperoleh ruang berpikir.

Saat sendiri, seseorang dapat:

mengevaluasi diri,
mengelola emosi,
merancang tujuan,
meningkatkan kreativitas.

Banyak ilmuwan, penulis, dan pengusaha sengaja menyediakan waktu khusus untuk bekerja tanpa gangguan karena fokus mereka meningkat secara signifikan.

Dalam dunia yang penuh notifikasi, kemampuan menikmati kesendirian justru menjadi keterampilan yang semakin berharga.

5. Sering Melamun

Sejak kecil kita sering diperingatkan agar tidak melamun.

Namun ternyata, melamun memiliki sisi positif.

Penelitian psikologi kognitif menunjukkan bahwa mind wandering dapat membantu otak menghubungkan informasi yang sebelumnya tampak tidak berkaitan.

Akibatnya, muncul ide-ide baru yang lebih kreatif.

Tentu saja, melamun terus-menerus saat bekerja dapat mengganggu produktivitas. Namun jika dilakukan sesekali saat beristirahat, aktivitas ini justru membantu otak melakukan "reset".

Banyak penemuan besar lahir dari momen ketika seseorang sedang membiarkan pikirannya mengembara.

6. Membantah atau Tidak Selalu Setuju

Sejak kecil kita diajarkan agar selalu patuh.

Padahal, psikologi organisasi menemukan bahwa tim yang seluruh anggotanya selalu setuju sering menghasilkan keputusan yang lebih buruk karena terjebak dalam groupthink.

Orang yang berani menyampaikan pendapat berbeda dapat membantu tim melihat kelemahan suatu ide sebelum terlambat.

Tentu saja, membantah yang dimaksud bukanlah bersikap kasar atau mencari konflik.

Yang dimaksud adalah keberanian memberikan kritik yang membangun berdasarkan fakta dan logika.

Perusahaan-perusahaan besar bahkan sengaja mendorong budaya diskusi agar keputusan menjadi lebih matang.

7. Perfeksionis yang Mulai Belajar Melepaskan Standar

Perfeksionisme sering dianggap sebagai sifat positif, tetapi psikologi menunjukkan bahwa perfeksionisme berlebihan justru dapat menghambat kesuksesan.

Ironisnya, kebiasaan yang dianggap "buruk" oleh sebagian orang—yaitu berani menghasilkan karya yang belum sempurna—sering kali membawa kemajuan lebih cepat.

Orang yang bersedia merilis pekerjaan versi terbaik yang tersedia saat ini memperoleh umpan balik lebih cepat, belajar lebih banyak, dan berkembang secara berkelanjutan.

Prinsip ini dikenal luas dalam dunia bisnis sebagai progress over perfection.

Kesuksesan lebih sering datang kepada mereka yang terus bergerak daripada mereka yang terus menunggu semuanya sempurna.

Mengapa Kebiasaan "Buruk" Bisa Berdampak Positif?

Psikologi menjelaskan bahwa perilaku manusia sangat bergantung pada konteks.

Sebuah kebiasaan tidak bisa langsung diberi label baik atau buruk tanpa melihat:

frekuensinya,
intensitasnya,
tujuan yang ingin dicapai,
situasi saat kebiasaan itu dilakukan.

Misalnya:

Menunda pekerjaan selama satu jam untuk mencari inspirasi bisa membantu kreativitas.
Menunda selama satu bulan tentu akan merugikan.

Begitu pula dengan menyendiri.

Beberapa jam untuk refleksi sangat bermanfaat, tetapi mengisolasi diri selama berbulan-bulan dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental.

Dengan kata lain, keseimbangan adalah kunci.

Kesimpulan

Kesuksesan ternyata tidak selalu lahir dari kebiasaan yang dianggap "sempurna". Psikologi menunjukkan bahwa beberapa perilaku yang sering dipandang negatif justru memiliki manfaat jika dilakukan secara bijak.

Menunda pekerjaan secara terukur dapat meningkatkan kreativitas. Bermalas-malasan sesekali memberi kesempatan otak untuk memulihkan energi. Menyendiri membantu refleksi, sementara melamun mendorong lahirnya ide-ide baru. Bertanya mempercepat proses belajar, berani berbeda pendapat dapat menghasilkan keputusan yang lebih baik, dan melepaskan perfeksionisme memungkinkan seseorang terus berkembang.

Pada akhirnya, yang menentukan keberhasilan bukanlah apakah sebuah kebiasaan terlihat baik atau buruk, melainkan bagaimana seseorang mengelolanya. Kebiasaan yang dilakukan dengan sadar, seimbang, dan sesuai situasi sering kali menjadi pembeda antara mereka yang hanya sibuk dengan mereka yang benar-benar berhasil mencapai tujuan.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore