Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 4 Agustus 2026 | 01.08 WIB

7 Alasan Mengapa Bermain Lebih Penting untuk Perkembangan Anak Menurut Psikologi

seseorang yang senang bermain di luar / foto: Magnific/zinkevych

 

JawaPos.com - Banyak orang tua masih menganggap bermain sebagai kegiatan yang hanya mengisi waktu luang anak. Padahal, menurut psikologi perkembangan, bermain merupakan salah satu aktivitas paling penting dalam membentuk kemampuan kognitif, sosial, emosional, hingga fisik anak. Saat bermain, anak tidak hanya bersenang-senang, tetapi juga belajar memahami dunia di sekitarnya.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (3/8), para ahli psikologi seperti Jean Piaget, Lev Vygotsky, dan Erik Erikson menjelaskan bahwa pengalaman bermain membantu anak mengembangkan berbagai keterampilan yang tidak dapat diperoleh hanya melalui pembelajaran formal di sekolah. Oleh karena itu, bermain bukanlah aktivitas yang membuang waktu, melainkan investasi penting bagi masa depan anak.

Lalu, mengapa bermain begitu penting? Berikut tujuh alasan yang didukung oleh teori psikologi.

1. Bermain Mengembangkan Kemampuan Otak dan Kecerdasan

Menurut teori perkembangan kognitif Jean Piaget, anak belajar melalui interaksi langsung dengan lingkungan. Bermain menjadi sarana utama untuk mengeksplorasi berbagai konsep baru.

Misalnya, saat menyusun balok, anak belajar tentang ukuran, bentuk, keseimbangan, dan hubungan sebab-akibat. Ketika bermain puzzle, mereka melatih kemampuan berpikir logis, konsentrasi, dan pemecahan masalah.

Permainan sederhana seperti menyusun lego, menggambar, atau bermain pasir sebenarnya merangsang terbentuknya koneksi antarsel saraf di otak. Semakin sering anak memperoleh pengalaman bermain yang beragam, semakin kaya pula perkembangan kemampuan berpikirnya.

Manfaat bermain bagi perkembangan otak antara lain:

meningkatkan daya ingat;
melatih fokus dan perhatian;
mengembangkan kemampuan analisis;
memperkuat kreativitas;
meningkatkan kemampuan memecahkan masalah.

Inilah alasan mengapa psikolog anak sering menyarankan agar anak memiliki waktu bermain bebas setiap hari.

2. Bermain Membantu Anak Belajar Mengelola Emosi

Kemampuan mengelola emosi tidak muncul begitu saja. Anak perlu belajar mengenali rasa senang, sedih, kecewa, takut, maupun marah melalui berbagai pengalaman.

Saat bermain, anak sering menghadapi situasi yang memunculkan emosi, misalnya kalah dalam permainan, harus menunggu giliran, atau mengalami kegagalan saat membangun menara balok.

Situasi tersebut mengajarkan bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar. Anak juga belajar mengendalikan rasa frustrasi dan mencoba kembali tanpa mudah menyerah.

Dalam psikologi, kemampuan ini dikenal sebagai regulasi emosi, yaitu kemampuan mengontrol perasaan agar tetap mampu berpikir dan bertindak secara positif.

Anak yang sering diberi kesempatan bermain cenderung memiliki:

rasa percaya diri lebih tinggi;
kemampuan mengatasi stres lebih baik;
tingkat kecemasan yang lebih rendah;
ketahanan mental yang lebih kuat.
3. Bermain Melatih Kemampuan Sosial dan Kerja Sama

Bermain bersama teman mengajarkan banyak keterampilan sosial yang sangat dibutuhkan hingga dewasa.

Saat bermain kelompok, anak belajar:

berbagi mainan;
menunggu giliran;
bekerja sama;
menyelesaikan konflik;
memahami sudut pandang orang lain.

Menurut psikolog Lev Vygotsky, perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh interaksi sosial. Ketika bermain bersama teman, anak memperoleh kesempatan untuk belajar melalui komunikasi dan kerja sama.

Misalnya, permainan petak umpet mengajarkan anak memahami aturan bersama. Bermain peran sebagai dokter, guru, atau pedagang membantu mereka belajar memahami berbagai peran sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Kemampuan bersosialisasi yang baik sejak kecil akan membantu anak membangun hubungan yang sehat saat remaja maupun dewasa.

4. Bermain Meningkatkan Kreativitas dan Imajinasi

Salah satu manfaat terbesar bermain adalah berkembangnya kreativitas.

Ketika anak berpura-pura menjadi dokter, koki, astronot, atau pahlawan super, sebenarnya mereka sedang melatih kemampuan berpikir simbolik. Otak belajar menciptakan berbagai kemungkinan baru berdasarkan pengalaman yang dimiliki.

Permainan tanpa aturan yang terlalu ketat justru memberikan ruang bagi anak untuk mengeksplorasi ide-ide unik.

Contohnya:

kardus dapat berubah menjadi mobil;
bantal menjadi gunung;
sendok menjadi mikrofon;
selimut menjadi tenda.

Aktivitas sederhana tersebut membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir kreatif yang sangat berguna saat mereka dewasa nanti.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa individu kreatif umumnya memiliki pengalaman bermain yang kaya selama masa kanak-kanak.

5. Bermain Membantu Perkembangan Motorik

Perkembangan fisik juga sangat dipengaruhi oleh aktivitas bermain.

Permainan aktif seperti:

berlari;
melompat;
memanjat;
bersepeda;
bermain bola;
menari;

akan melatih koordinasi tubuh, keseimbangan, kekuatan otot, dan kelincahan.

Sementara permainan seperti menggambar, meronce, melipat kertas, atau menyusun balok membantu mengembangkan motorik halus.

Motorik yang berkembang dengan baik akan mendukung berbagai aktivitas anak di sekolah, seperti menulis, menggunting, menggunakan alat makan, maupun melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.

Selain itu, bermain aktif juga membantu menjaga kesehatan fisik serta mengurangi risiko obesitas pada anak.

6. Bermain Menumbuhkan Kemampuan Memecahkan Masalah

Dalam setiap permainan selalu terdapat tantangan.

Misalnya:

bagaimana menyusun balok agar tidak roboh;
bagaimana memenangkan permainan strategi;
bagaimana menyelesaikan puzzle;
bagaimana membangun istana pasir yang kokoh.

Tanpa disadari, anak sedang melatih kemampuan berpikir kritis.

Mereka belajar:

mencoba berbagai cara;
mengevaluasi hasil;
memperbaiki kesalahan;
menemukan solusi baru.

Kemampuan problem solving merupakan salah satu keterampilan abad ke-21 yang sangat dibutuhkan di dunia pendidikan maupun dunia kerja.

Anak yang terbiasa menghadapi tantangan melalui bermain cenderung lebih percaya diri ketika menghadapi masalah nyata dalam kehidupannya.

7. Bermain Membentuk Hubungan Emosional yang Hangat dengan Orang Tua

Tidak semua manfaat bermain berkaitan dengan kemampuan anak. Bermain bersama juga memperkuat hubungan antara anak dan orang tua.

Ketika orang tua meluangkan waktu bermain tanpa gangguan pekerjaan atau gawai, anak merasa dihargai dan diperhatikan.

Dalam psikologi, hubungan yang hangat ini dikenal sebagai secure attachment atau keterikatan yang aman. Anak yang memiliki keterikatan emosional yang baik biasanya lebih percaya diri, mudah beradaptasi, dan memiliki kesehatan mental yang lebih baik.

Permainan sederhana seperti membaca buku bersama, bermain puzzle, memasak, berkebun, atau bermain peran dapat menjadi momen berkualitas yang mempererat hubungan keluarga.

Anak tidak selalu membutuhkan mainan mahal. Yang paling mereka butuhkan adalah perhatian, waktu, dan keterlibatan orang tua.

Tips Memberikan Waktu Bermain yang Berkualitas

Agar manfaat bermain dapat dirasakan secara maksimal, orang tua dapat menerapkan beberapa langkah berikut:

Berikan waktu bermain bebas setiap hari tanpa tekanan akademik.
Batasi penggunaan gawai agar anak lebih aktif berinteraksi dengan lingkungan.
Pilih permainan yang sesuai dengan usia dan tahap perkembangan anak.
Libatkan anak dalam permainan yang merangsang kreativitas.
Bermain bersama anak secara rutin untuk memperkuat ikatan emosional.
Biarkan anak bereksplorasi dan belajar dari kesalahan selama bermain.
Hindari terlalu banyak mengatur jalannya permainan agar anak dapat mengembangkan inisiatifnya sendiri.
Kesimpulan

Dalam perspektif psikologi perkembangan, bermain merupakan kebutuhan dasar anak, bukan sekadar hiburan. Melalui bermain, anak belajar berpikir, berinteraksi, mengelola emosi, mengembangkan kreativitas, meningkatkan kemampuan fisik, memecahkan masalah, serta membangun hubungan emosional yang sehat dengan orang tua.

Karena itu, memberikan ruang bagi anak untuk bermain merupakan salah satu bentuk investasi terbaik bagi perkembangan mereka. Prestasi akademik memang penting, tetapi kemampuan sosial, emosional, kreativitas, dan ketahanan mental yang dibangun melalui bermain akan menjadi bekal berharga sepanjang hidup.

Dengan menyediakan waktu bermain yang cukup setiap hari, orang tua tidak hanya membantu anak menikmati masa kecilnya, tetapi juga mendukung tumbuh kembang yang sehat, seimbang, dan optimal sesuai dengan prinsip-prinsip psikologi perkembangan.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore