Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 3 Agustus 2026 | 02.46 WIB

10 Alasan Mengapa Seseorang Sulit Menerima Penolakan dari Orang Terkasih Menurut Psikologi

seseorang yang sulit menerima penolakan. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Penolakan dari orang yang dicintai merupakan salah satu pengalaman emosional yang paling menyakitkan dalam kehidupan. Baik itu penolakan dari pasangan, gebetan, sahabat, maupun anggota keluarga, rasa sakit yang muncul sering kali jauh lebih besar dibandingkan penolakan dari orang lain. Banyak orang bertanya-tanya, mengapa begitu sulit menerima kenyataan bahwa seseorang yang kita sayangi tidak memiliki perasaan yang sama atau memilih meninggalkan kita?


Dalam psikologi, penolakan bukan hanya tentang kehilangan hubungan, tetapi juga berkaitan dengan harga diri, kebutuhan akan kasih sayang, identitas diri, hingga cara otak memproses rasa sakit. Bahkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa rasa sakit akibat penolakan sosial mengaktifkan area otak yang mirip dengan saat seseorang mengalami rasa sakit fisik.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (2/8), terdapat sepuluh alasan mengapa seseorang sulit menerima penolakan dari orang terkasih menurut sudut pandang psikologi.

1. Kebutuhan Dasar Manusia untuk Diterima

Menurut teori psikologi sosial, manusia memiliki kebutuhan mendasar untuk merasa diterima dan menjadi bagian dari suatu hubungan. Kebutuhan ini dikenal sebagai need to belong.

Ketika seseorang ditolak oleh orang yang dicintainya, kebutuhan tersebut tidak terpenuhi sehingga memunculkan perasaan sedih, kecewa, kesepian, bahkan kehilangan arah hidup. Penolakan terasa seperti ancaman terhadap kebutuhan emosional yang paling dasar.

Semakin besar harapan terhadap hubungan tersebut, semakin berat pula dampak psikologis yang dirasakan.

2. Harga Diri Menjadi Terluka

Banyak orang tanpa sadar mengaitkan penolakan dengan nilai diri mereka. Mereka berpikir:

"Aku tidak cukup baik."
"Aku tidak menarik."
"Aku tidak layak dicintai."

Padahal, penolakan belum tentu mencerminkan kualitas seseorang. Bisa saja terjadi karena perbedaan tujuan hidup, ketidakcocokan karakter, atau kondisi pribadi orang lain.

Namun, ketika harga diri bergantung pada penerimaan orang lain, penolakan akan terasa sebagai pukulan besar terhadap identitas diri.

3. Ikatan Emosional Sudah Terbentuk

Semakin lama seseorang mengenal atau mencintai orang lain, semakin kuat pula ikatan emosional yang terbentuk.

Dalam psikologi, ikatan ini melibatkan berbagai pengalaman bersama, kenangan, kebiasaan, dan harapan masa depan. Ketika hubungan berakhir atau cinta bertepuk sebelah tangan, otak kehilangan sosok yang selama ini menjadi sumber kenyamanan emosional.

Akibatnya muncul rasa rindu, kehilangan, dan sulit melepaskan.

4. Otak Mengalami "Gejala Putus Cinta"

Penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang mengalami penolakan romantis mengalami aktivitas otak yang menyerupai kondisi kecanduan.

Saat sedang jatuh cinta, otak melepaskan dopamin yang memberikan rasa senang dan semangat. Ketika hubungan berakhir, kadar dopamin menurun sehingga seseorang merasa hampa, gelisah, dan terus memikirkan orang yang menolaknya.

Tidak heran jika seseorang merasa sulit berhenti melihat media sosial mantan atau berharap hubungan bisa kembali seperti semula.

5. Harapan yang Sudah Terlanjur Tinggi

Salah satu penyebab utama sulit menerima penolakan adalah karena seseorang sudah membangun banyak harapan.

Misalnya membayangkan:

akan menikah,
membangun keluarga,
menjalani masa depan bersama,
atau hidup bahagia dengan pasangan tersebut.

Semakin besar harapan yang dibangun, semakin besar pula rasa kehilangan ketika kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasi.

Dalam psikologi, kondisi ini disebut sebagai kehilangan terhadap masa depan yang dibayangkan (loss of imagined future).

6. Gaya Kelekatan (Attachment Style)

Teori Attachment yang dikembangkan oleh psikolog John Bowlby menjelaskan bahwa pengalaman masa kecil memengaruhi cara seseorang menjalin hubungan saat dewasa.

Orang dengan gaya kelekatan cemas (anxious attachment) biasanya:

sangat takut ditinggalkan,
membutuhkan kepastian terus-menerus,
sulit melupakan pasangan,
mudah merasa tidak aman.

Akibatnya, ketika mengalami penolakan, mereka cenderung mengalami penderitaan emosional yang lebih berat dibandingkan orang dengan gaya kelekatan yang aman (secure attachment).

7. Sulit Menerima Kenyataan

Secara alami, pikiran manusia cenderung menghindari kenyataan yang menyakitkan.

Karena itu, banyak orang masuk ke dalam tahap penyangkalan (denial), misalnya dengan berpikir:

"Mungkin dia hanya butuh waktu."
"Suatu hari dia pasti berubah pikiran."
"Dia sebenarnya masih mencintaiku."

Pikiran seperti ini membuat proses menerima kenyataan menjadi jauh lebih lama karena seseorang terus mempertahankan harapan yang sebenarnya sudah tidak realistis.

8. Penolakan Mengaktifkan Luka Lama

Bagi sebagian orang, penolakan saat ini bukan hanya tentang hubungan yang baru berakhir.

Pengalaman tersebut bisa membangkitkan kembali luka emosional masa lalu, misalnya:

pernah ditolak saat kecil,
kurang mendapatkan kasih sayang dari orang tua,
pernah dibully,
pernah diselingkuhi,
atau mengalami trauma hubungan sebelumnya.

Akibatnya, rasa sakit yang muncul terasa berlipat ganda karena menggabungkan pengalaman lama dan pengalaman baru.

9. Lingkungan Sosial Memperparah Perasaan

Media sosial sering kali membuat proses move on menjadi lebih sulit.

Melihat mantan tampak bahagia, unggahan romantis orang lain, atau terus mendapatkan informasi tentang kehidupan orang yang menolak kita dapat memperpanjang rasa sakit.

Selain itu, tekanan dari lingkungan seperti pertanyaan:

"Kapan punya pasangan?"
"Kenapa putus?"
"Masih belum move on?"

dapat membuat seseorang semakin sulit menerima kenyataan.

10. Takut Kehilangan Identitas Diri

Dalam hubungan yang sangat dekat, sebagian orang mulai membangun identitas mereka bersama pasangan.

Mereka terbiasa melakukan hampir semua hal bersama sehingga hubungan menjadi bagian dari siapa diri mereka.

Ketika hubungan berakhir, muncul pertanyaan seperti:

"Sekarang aku harus bagaimana?"
"Siapa aku tanpa dia?"
"Apa tujuan hidupku sekarang?"

Perasaan kehilangan identitas ini membuat proses menerima penolakan menjadi jauh lebih berat daripada sekadar kehilangan pasangan.

Bagaimana Cara Lebih Mudah Menerima Penolakan?

Meskipun terasa menyakitkan, penolakan bukanlah akhir dari segalanya. Dalam psikologi, menerima emosi secara sehat justru membantu proses pemulihan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

Izinkan diri merasakan sedih tanpa menyalahkan diri sendiri.
Hindari terus-menerus menghubungi atau memantau orang yang telah menolak Anda.
Fokus kembali pada aktivitas yang memberi makna, seperti belajar, bekerja, berolahraga, atau mengembangkan hobi.
Bangun kembali hubungan dengan keluarga dan teman yang suportif.
Latih cara berpikir yang lebih realistis bahwa tidak semua hubungan akan berakhir sesuai harapan.
Jika kesedihan berlangsung lama hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, pertimbangkan berkonsultasi dengan psikolog.
Kesimpulan

Sulit menerima penolakan dari orang terkasih merupakan reaksi yang wajar dan dapat dijelaskan melalui berbagai teori psikologi. Faktor seperti kebutuhan untuk diterima, harga diri, ikatan emosional, gaya kelekatan, harapan yang tinggi, hingga pengalaman masa lalu berperan besar dalam membentuk respons seseorang terhadap penolakan.

Namun, penting untuk diingat bahwa penolakan bukanlah ukuran nilai diri seseorang. Sering kali, penolakan lebih mencerminkan ketidakcocokan, perbedaan kebutuhan, atau situasi yang tidak dapat dipaksakan. Dengan waktu, dukungan sosial, dan kemampuan mengelola emosi, rasa sakit tersebut akan berkurang dan dapat menjadi pengalaman berharga untuk membangun hubungan yang lebih sehat di masa depan.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore