Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 27 Juli 2026 | 02.59 WIB

8 Alasan Mengapa Kerja Hybrid Terasa Lebih Sulit dari Seharusnya Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?

seseorang yang kerja hybrid / foto: Magnific/DC Studio

 

JawaPos.com - Banyak orang menganggap sistem kerja hybrid sebagai solusi ideal. Karyawan dapat menikmati fleksibilitas bekerja dari rumah sekaligus mempertahankan interaksi sosial saat datang ke kantor. Di atas kertas, konsep ini tampak seperti yang terbaik dari dua dunia.

Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Banyak pekerja justru merasa lebih cepat lelah, sulit fokus, hingga mengalami stres yang tidak mereka rasakan ketika bekerja sepenuhnya dari kantor maupun sepenuhnya dari rumah. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Dari sudut pandang psikologi, kerja hybrid bukan sekadar perpindahan lokasi kerja. Sistem ini mengubah cara otak mengatur rutinitas, mengambil keputusan, membangun hubungan sosial, hingga mengelola energi mental.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (26/7), terdapat delapan alasan mengapa kerja hybrid sering kali terasa lebih sulit dari yang seharusnya.

1. Otak Harus Terus Beradaptasi dengan Perubahan Lingkungan

Manusia pada dasarnya menyukai rutinitas. Ketika aktivitas dilakukan secara konsisten, otak akan menghemat energi karena banyak proses menjadi otomatis.

Dalam sistem hybrid, seseorang mungkin bekerja di kantor pada hari Senin dan Rabu, lalu bekerja dari rumah pada Selasa, Kamis, dan Jumat. Setiap lokasi memiliki aturan, suasana, gangguan, serta pola komunikasi yang berbeda.

Akibatnya, otak harus terus melakukan penyesuaian.

Proses adaptasi yang berulang ini disebut sebagai switching cost, yaitu biaya mental yang muncul ketika seseorang berpindah konteks. Semakin sering berpindah lingkungan kerja, semakin banyak energi kognitif yang digunakan hanya untuk menyesuaikan diri.

Pada akhirnya, seseorang bisa merasa lelah bahkan sebelum benar-benar mulai bekerja.

2. Terlalu Banyak Keputusan Kecil Menguras Energi Mental

Psikologi mengenal istilah decision fatigue, yaitu kondisi ketika kemampuan mengambil keputusan menurun karena terlalu banyak pilihan yang harus dibuat.

Dalam sistem kerja hybrid, keputusan kecil muncul hampir setiap hari, misalnya:

Hari ini bekerja dari rumah atau kantor?
Berangkat jam berapa?
Meeting dilakukan secara online atau offline?
Laptop perlu dibawa pulang?
Apakah pekerjaan tertentu lebih efektif diselesaikan di rumah?

Masing-masing keputusan tampak sederhana, tetapi jika dikumpulkan setiap hari, beban mentalnya menjadi besar.

Akibatnya, energi yang seharusnya digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan justru habis untuk mengatur hal-hal administratif.

3. Batas Antara Kehidupan Pribadi dan Pekerjaan Menjadi Kabur

Ketika bekerja di kantor penuh waktu, otak memiliki sinyal yang jelas.

Masuk kantor berarti mulai bekerja.

Pulang berarti pekerjaan selesai.

Sebaliknya, ketika bekerja dari rumah, batas tersebut sering kali menghilang. Laptop tetap terbuka setelah jam kerja, notifikasi terus berdatangan, dan banyak orang merasa "masih bekerja" meskipun secara resmi sudah selesai.

Fenomena ini disebut role boundary blurring.

Otak kesulitan memisahkan identitas sebagai pekerja dan individu. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut meningkatkan risiko kelelahan emosional atau burnout.

4. Interaksi Sosial Menjadi Tidak Konsisten

Manusia adalah makhluk sosial. Interaksi sederhana seperti mengobrol sebelum rapat, makan siang bersama, atau bercanda di pantry ternyata memiliki dampak besar terhadap kesehatan psikologis.

Dalam sistem hybrid, hubungan sosial sering menjadi tidak konsisten.

Sebagian rekan hadir di kantor, sebagian lainnya mengikuti rapat secara daring. Percakapan spontan berkurang dan komunikasi lebih banyak dilakukan melalui pesan singkat.

Akibatnya muncul rasa terisolasi meskipun seseorang masih bekerja dalam satu tim.

Psikologi menyebut kondisi ini sebagai social disconnection, yaitu berkurangnya rasa memiliki terhadap kelompok akibat minimnya interaksi langsung.

5. Meeting Hybrid Lebih Menguras Konsentrasi

Banyak penelitian menunjukkan bahwa rapat hybrid sering kali lebih melelahkan dibanding rapat tatap muka.

Peserta harus:

memperhatikan orang di ruangan,
melihat layar,
membaca ekspresi wajah melalui kamera,
memastikan mikrofon berfungsi,
mengikuti percakapan yang terkadang terlambat beberapa detik.

Semua proses tersebut meningkatkan cognitive load, yaitu jumlah informasi yang harus diproses otak dalam waktu bersamaan.

Semakin tinggi cognitive load, semakin cepat seseorang kehilangan fokus dan merasa lelah.

6. Sulit Membangun Kebiasaan yang Konsisten

Menurut psikologi perilaku, kebiasaan terbentuk melalui pola yang berulang dalam lingkungan yang sama.

Misalnya:

meja kerja yang sama,
jam kerja yang sama,
perjalanan yang sama,
ritual pagi yang sama.

Dalam sistem hybrid, pola tersebut sering berubah.

Hari ini bekerja di rumah.

Besok bekerja di kantor.

Lusa bekerja di coworking space.

Perubahan lingkungan membuat otak lebih sulit membangun kebiasaan otomatis sehingga seseorang harus mengandalkan motivasi setiap hari. Padahal motivasi cenderung naik turun, sedangkan kebiasaan jauh lebih stabil.

7. Muncul Perasaan Harus Selalu Tersedia

Banyak pekerja hybrid merasa harus selalu menunjukkan bahwa mereka benar-benar bekerja.

Akibatnya mereka:

membalas chat secepat mungkin,
selalu berstatus online,
jarang mengambil jeda,
tetap membuka laptop setelah jam kerja.

Fenomena ini dikenal sebagai availability pressure.

Secara psikologis, tekanan untuk selalu terlihat produktif meningkatkan kecemasan dan mengurangi kesempatan otak untuk benar-benar beristirahat.

Ironisnya, semakin lama seseorang bekerja tanpa jeda, produktivitas justru menurun.

8. Ekspektasi Fleksibilitas Justru Menjadi Sumber Stres

Banyak orang menganggap fleksibilitas selalu identik dengan kenyamanan.

Namun psikologi menunjukkan bahwa terlalu banyak kebebasan juga dapat menjadi sumber stres.

Ketika jadwal tidak sepenuhnya ditentukan perusahaan, pekerja harus mengatur sendiri:

prioritas,
waktu kerja,
komunikasi,
koordinasi,
manajemen energi.

Semua itu membutuhkan kemampuan self-regulation, yaitu kemampuan mengatur diri sendiri.

Tidak semua orang memiliki kapasitas self-regulation yang sama. Akibatnya, fleksibilitas yang seharusnya membantu justru terasa sebagai beban tambahan.

Bagaimana Agar Kerja Hybrid Tidak Terasa Melelahkan?

Meskipun memiliki tantangan psikologis, bukan berarti sistem kerja hybrid tidak efektif. Yang dibutuhkan adalah strategi untuk mengurangi beban mental yang tidak perlu.

Beberapa langkah yang dapat diterapkan antara lain:

Tetapkan jadwal kerja yang konsisten setiap minggu.
Pisahkan ruang kerja dan ruang pribadi jika memungkinkan.
Buat ritual yang menandai awal dan akhir jam kerja.
Kurangi rapat yang tidak memiliki agenda jelas.
Jadwalkan waktu fokus tanpa gangguan notifikasi.
Tetap luangkan waktu untuk membangun hubungan sosial dengan rekan kerja.
Hindari kebiasaan membalas pesan di luar jam kerja kecuali benar-benar mendesak.

Dengan menciptakan struktur yang jelas, otak tidak perlu terus-menerus beradaptasi sehingga energi mental dapat digunakan untuk pekerjaan yang lebih penting.

Kesimpulan

Kerja hybrid menawarkan banyak keuntungan, mulai dari fleksibilitas hingga efisiensi waktu. Namun, di balik manfaat tersebut terdapat tantangan psikologis yang sering kali tidak disadari.

Perubahan lingkungan kerja, banyaknya keputusan kecil, batas kehidupan yang kabur, interaksi sosial yang berkurang, hingga tekanan untuk selalu terlihat produktif membuat sistem hybrid terasa lebih melelahkan daripada yang dibayangkan.

Memahami mekanisme psikologis di balik pengalaman ini membantu kita menyadari bahwa rasa lelah bukan semata-mata karena beban pekerjaan yang berat, melainkan juga karena cara otak beradaptasi dengan pola kerja yang terus berubah. Dengan membangun rutinitas yang konsisten, menetapkan batas yang sehat, dan mengelola komunikasi secara lebih efektif, sistem kerja hybrid dapat menjadi lebih nyaman sekaligus tetap produktif dalam jangka panjang.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore