
Ilustrasi orang yang narsistik.
Secara umum, seorang narsisis tidak akan pernah mengakui bahwa diri mereka bermasalah. Sebaliknya, mereka memiliki pola unik untuk mendongkrak ego dan rasa percaya diri dengan memanfaatkan penderitaan atau kemalangan orang lain di sekitar mereka.
Dikutip dari Your Tango, oara ahli psikologi mencatat setidaknya ada lima situasi tak masuk akal yang diam-diam justru mendatangkan kepuasan dan rasa lega bagi seorang narsistik:
Sebagian besar orang memiliki empati alami untuk merasa prihatin ketika melihat kerabat atau teman mengalami kesulitan. Namun, bagi sosok narsistik, kegagalan orang lain, bahkan pasangan atau anak mereka sendiri, dianggap sebagai kemenangan pribadi.
Mereka merasa berada dua langkah lebih maju dalam persaingan hidup ketika melihat orang di sekitarnya tertinggal. Bahkan saat Anda meraih prestasi, mereka kerap mencari cara untuk mencuri perhatian atau membelokkan sorotan agar kembali tertuju pada diri mereka.
Mengontrol emosi orang lain adalah bentuk kekuasaan tertinggi bagi seorang narsisis. Ketika mereka berhasil membuat seseorang menangis atau merasa tersudut, hal itu menjadi bukti nyata bahwa mereka memiliki kendali penuh atas dinamika hubungan tersebut.
Mereka sering memanfaatkan rasa tidak aman (insecurity) Anda sebagai senjata pertengkaran. Bukannya meminta maaf secara tulus, mereka justru menuduh Anda "terlalu sensitif" atau menggunakan kata-kata seperti "Saya kan cuma bercanda" untuk meminimalkan kesalahan.
Saat mendengar kabar seseorang didiagnosis penyakit serius, orang awam secara refleks akan menunjukkan rasa iba dan menawarkan bantuan. Sayangnya, orang dengan sifat narsistik yang dominan sangat minim empati jika musibah tersebut tidak berdampak langsung pada mereka.
Melihat orang lain menderita penyakit atau tragedi fisik justru memberi mereka rasa lega dan superioritas tersembunyi. Rasa puas ini sering kali bersumber dari rasa tidak aman yang mendalam (deep insecurity) atau trauma masa lalu yang ditutup rapat di balik topeng kesombongan.
Tumbuh besar dengan orang tua narsistik bisa memberikan dampak psikologis berkepanjangan hingga usia dewasa, seperti rasa takut berlebih akan kritik dan kecenderungan menjadi perfectionist. Orang tua narsistik sering kali memposisikan anak kandungnya sebagai rival atau saingan.
Bukannya memberikan dukungan moral saat sang anak mengalami masalah, mereka justru menyalahkan anak tersebut atau berakting sebagai korban (victim mentality). Mereka merasa iri jika anak mereka mendapatkan perhatian, kebebasan, atau kesempatan yang tidak mereka miliki di masa muda.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Groningen vs PEC Zwolle di Liga Belanda: Trots van het Noorden Menang Tipis di Kandang
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Everton vs Ipswich Town di Liga Inggris: The Toffees Kunci 3 Poin di Kandang
Prediksi Skor Espanyol vs Elche di Liga Spanyol: Los Franjiverdes Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Aston Villa di Liga Inggris: The Lilywhites Bakal Sulit Menang!
Prediksi Susunan Pemain Persebaya vs Garudayaksa FC: Risto Mitrevski Pantang Remehkan Tim Promosi
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022