Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 25 Juli 2026 | 22.33 WIB

7 Tantangan dalam Pemulihan Awal yang Sulit Dihadapi dari Kecanduan Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?

seseorang yang mengalami tantangan saat pemulihan dari kecanduan / foto: Magnific/magnific

 

JawaPos.com - Pemulihan dari kecanduan bukanlah proses yang terjadi dalam semalam. Bagi banyak orang, fase awal pemulihan merupakan tahap yang paling berat karena individu harus menghadapi perubahan besar, baik secara fisik, emosional, maupun psikologis.
 
Dalam ilmu psikologi, kecanduan dipahami sebagai kondisi kompleks yang memengaruhi cara kerja otak, pola pikir, emosi, perilaku, hingga hubungan sosial seseorang. Oleh karena itu, berhenti menggunakan zat atau menghentikan perilaku adiktif hanyalah langkah pertama. Tantangan sesungguhnya adalah mempertahankan keputusan tersebut setiap hari.
 
Pada masa pemulihan awal, otak sedang berusaha menyesuaikan diri tanpa adanya zat atau perilaku yang selama ini memberikan rasa nyaman atau kepuasan instan. Proses adaptasi ini sering kali memunculkan berbagai kesulitan yang membuat seseorang rentan mengalami kekambuhan (relapse). Memahami tantangan-tantangan ini dapat membantu individu, keluarga, maupun tenaga profesional memberikan dukungan yang lebih tepat.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (25/7), terdapat tujuh tantangan utama dalam pemulihan awal kecanduan berdasarkan perspektif psikologi.

1. Gejala Putus Zat (Withdrawal Symptoms)

Salah satu tantangan pertama yang paling berat adalah munculnya gejala putus zat atau withdrawal. Gejala ini terjadi karena tubuh dan otak telah terbiasa bergantung pada suatu zat atau perilaku tertentu.

Secara psikologis, seseorang dapat mengalami:

Kecemasan berlebihan
Mudah marah
Sulit berkonsentrasi
Gangguan tidur
Depresi
Gelisah

Pada beberapa jenis kecanduan, withdrawal juga disertai gejala fisik seperti gemetar, berkeringat, mual, nyeri otot, hingga kejang.

Menurut psikologi perilaku, gejala ini sering menjadi penguat negatif (negative reinforcement). Artinya, seseorang terdorong kembali menggunakan zat bukan untuk mencari kesenangan, tetapi untuk menghilangkan rasa tidak nyaman akibat withdrawal.

Karena itu, fase ini sering dianggap sebagai periode paling rentan terhadap kekambuhan.

2. Craving atau Keinginan yang Sangat Kuat

Craving adalah dorongan psikologis yang sangat intens untuk kembali menggunakan zat atau melakukan perilaku adiktif.

Craving dapat muncul karena berbagai pemicu, seperti:

Melihat tempat yang berkaitan dengan penggunaan zat.
Bertemu teman lama yang masih menggunakan.
Mengalami stres.
Merasa bosan.
Merasakan emosi negatif.

Dalam psikologi kognitif, craving bukan hanya keinginan biasa. Otak membentuk asosiasi yang sangat kuat antara zat dengan rasa nyaman, sehingga muncul pikiran otomatis seperti:

"Sekali saja tidak masalah."

"Aku bisa mengendalikan diri sekarang."

Pikiran-pikiran tersebut sering kali menjadi awal terjadinya relapse apabila tidak dikenali dan dikelola dengan baik.

3. Kesulitan Mengatur Emosi

Banyak individu menggunakan zat adiktif sebagai cara mengatasi emosi yang sulit.

Misalnya:

Mengurangi stres.
Menghilangkan rasa sedih.
Mengatasi kesepian.
Mengurangi kecemasan.

Ketika zat tersebut dihentikan, seseorang harus menghadapi emosi yang selama ini ditekan.

Dalam psikologi, kemampuan mengelola emosi disebut sebagai emotion regulation. Pada individu dengan kecanduan, keterampilan ini sering kali belum berkembang secara optimal karena bertahun-tahun mengandalkan zat sebagai "pelarian".

Akibatnya, emosi kecil sekalipun dapat terasa sangat berat.

Contohnya:

Kritik kecil terasa menyakitkan.
Konflik sederhana memicu kemarahan besar.
Kesepian terasa tidak tertahankan.

Belajar mengenali dan mengelola emosi menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.

4. Perubahan Pola Pikir yang Tidak Mudah

Kecanduan juga memengaruhi cara seseorang berpikir.

Psikologi mengenal adanya distorsi kognitif, yaitu pola pikir yang tidak realistis.

Contohnya:

"Aku memang gagal."
"Tidak ada gunanya berubah."
"Semua orang pasti akan mengecewakanku."
"Aku tidak akan pernah bisa sembuh."

Pikiran negatif seperti ini dapat menurunkan motivasi dan meningkatkan risiko kembali menggunakan zat.

Terapi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) banyak digunakan karena membantu individu mengenali pola pikir yang keliru dan menggantinya dengan cara berpikir yang lebih realistis dan adaptif.

5. Kehilangan Identitas dan Kebiasaan Lama

Bagi sebagian orang, kecanduan telah menjadi bagian dari identitas mereka selama bertahun-tahun.

Misalnya:

Lingkungan pertemanan berpusat pada penggunaan zat.
Aktivitas sehari-hari selalu melibatkan perilaku adiktif.
Cara bersosialisasi identik dengan kebiasaan tersebut.

Ketika berhenti, muncul pertanyaan seperti:

"Sekarang aku harus menjadi siapa?"
"Apa yang harus kulakukan setiap hari?"
"Siapa yang masih mau berteman denganku?"

Dalam psikologi perkembangan, pembentukan identitas merupakan proses penting. Masa pemulihan sering kali mengharuskan seseorang membangun identitas baru yang lebih sehat.

Proses ini membutuhkan waktu, pengalaman positif, dan dukungan sosial.

6. Tekanan Sosial dan Lingkungan

Lingkungan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan pemulihan.

Banyak individu kembali menggunakan zat karena:

Teman mengajak kembali.
Sulit menolak ajakan.
Keluarga kurang mendukung.
Masih tinggal di lingkungan yang penuh pemicu.

Menurut teori pembelajaran sosial (Social Learning Theory), perilaku dipengaruhi oleh lingkungan sekitar.

Jika seseorang terus berada dalam situasi yang mendukung perilaku adiktif, risiko relapse menjadi jauh lebih tinggi.

Karena itu, psikolog sering menyarankan:

Membangun lingkungan baru yang sehat.
Mengikuti kelompok dukungan.
Mengurangi kontak dengan pemicu.
Mengembangkan hubungan sosial yang positif.
7. Takut Mengalami Kekambuhan (Relapse)

Banyak orang menganggap relapse sebagai kegagalan total.

Padahal dalam psikologi kecanduan, relapse dipandang sebagai bagian yang mungkin terjadi dalam proses perubahan perilaku.

Ketakutan terhadap relapse justru dapat memunculkan stres yang tinggi.

Misalnya:

Terlalu takut melakukan kesalahan.
Merasa bersalah ketika muncul craving.
Menganggap satu kesalahan kecil berarti semuanya telah gagal.

Padahal, yang lebih penting adalah kemampuan untuk:

Mengenali tanda-tanda awal relapse.
Memahami pemicunya.
Menyusun strategi pencegahan.
Segera mencari bantuan ketika mulai kesulitan.

Pendekatan psikologi modern menekankan bahwa setiap pengalaman, termasuk kekambuhan, dapat menjadi kesempatan untuk belajar dan memperkuat strategi pemulihan.

Mengapa Dukungan Psikologis Sangat Penting?

Pemulihan bukan hanya soal menghentikan penggunaan zat, tetapi juga membangun kehidupan baru yang lebih sehat. Oleh karena itu, dukungan psikologis memiliki peran penting dalam membantu individu:

Mengelola stres.
Mengembangkan keterampilan mengatasi masalah.
Meningkatkan kepercayaan diri.
Memperbaiki hubungan dengan keluarga.
Mengurangi risiko relapse.

Pendekatan seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT), Motivational Interviewing (MI), terapi kelompok, terapi keluarga, dan mindfulness telah terbukti membantu banyak individu dalam mempertahankan pemulihan jangka panjang.

Kesimpulan

Pemulihan awal dari kecanduan merupakan fase yang penuh tantangan. Gejala putus zat, craving, kesulitan mengatur emosi, perubahan pola pikir, kehilangan identitas, tekanan lingkungan, serta ketakutan akan kekambuhan merupakan hambatan yang umum dialami. Dari sudut pandang psikologi, tantangan-tantangan tersebut bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari proses adaptasi otak dan perilaku menuju kehidupan yang lebih sehat.

Dengan dukungan keluarga, lingkungan yang positif, serta pendampingan profesional, individu memiliki peluang yang lebih besar untuk melewati fase-fase sulit tersebut. Pemulihan adalah sebuah perjalanan yang membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan kemauan untuk terus belajar dari setiap pengalaman. Alih-alih mengharapkan perubahan yang instan, psikologi mengajarkan bahwa keberhasilan pemulihan dibangun melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan secara berulang hingga menjadi kebiasaan baru yang mendukung kehidupan bebas dari kecanduan.***

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore