Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 18 Juli 2026 | 03.50 WIB

8 Alasan Mengapa Kerja Remote Mampu Memperdalam Krisis Kesehatan Mental, dan Bagaimana Cara Memperbaikinya Menurut Psikologi

seseorang yang kerja remote / foto: Magnific/karlyukav

 

JawaPos.com - Kerja remote telah menjadi bagian dari budaya kerja modern. Fleksibilitas waktu, tidak perlu menghadapi kemacetan, serta kesempatan bekerja dari mana saja membuat sistem ini dianggap sebagai solusi ideal bagi banyak perusahaan maupun karyawan. Bahkan, berbagai survei menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja lebih memilih model kerja hybrid atau remote dibandingkan harus kembali bekerja penuh di kantor.
 
Namun di balik berbagai keuntungan tersebut, muncul fenomena yang semakin banyak disoroti oleh para psikolog: meningkatnya masalah kesehatan mental pada pekerja remote. Rasa kesepian, kelelahan emosional, stres berkepanjangan, hingga burnout ternyata lebih sering dialami oleh pekerja yang tidak memiliki batas jelas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.

Hal ini bukan berarti kerja remote buruk. Justru, tanpa strategi psikologis yang tepat, lingkungan kerja jarak jauh dapat memperkuat faktor-faktor yang memang sudah menjadi pemicu gangguan kesehatan mental.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (17/7), terdapat delapan alasan mengapa kerja remote dapat memperdalam krisis kesehatan mental beserta solusi yang direkomendasikan berdasarkan ilmu psikologi.

1. Hilangnya Batas antara Kehidupan Pribadi dan Pekerjaan

Salah satu tantangan terbesar kerja remote adalah kaburnya batas antara "jam kerja" dan "waktu pribadi".

Saat bekerja di kantor, otak memiliki sinyal yang jelas kapan harus bekerja dan kapan harus beristirahat. Namun ketika meja makan berubah menjadi meja kerja, otak kehilangan pemisah konteks tersebut.

Akibatnya banyak pekerja:

Membuka laptop setelah makan malam.
Mengecek email sebelum tidur.
Merasa bersalah ketika tidak bekerja.

Dalam psikologi, kondisi ini disebut role blurring, yaitu bercampurnya berbagai peran kehidupan sehingga seseorang sulit melakukan pemulihan mental.

Cara memperbaikinya

Psikolog menyarankan membuat ritual transisi, misalnya:

memakai pakaian kerja saat mulai bekerja;
memiliki ruang kerja khusus;
mematikan notifikasi setelah jam kerja;
membuat rutinitas "pulang kerja" seperti berjalan kaki selama 15 menit.

Ritual sederhana membantu otak memahami bahwa pekerjaan telah selesai sehingga proses pemulihan psikologis dapat dimulai.

2. Kesepian Sosial yang Tidak Disadari

Manusia merupakan makhluk sosial.

Interaksi ringan seperti menyapa rekan kerja, makan siang bersama, atau bercanda di pantry ternyata memiliki dampak besar terhadap kesehatan mental.

Saat bekerja remote, interaksi tersebut hilang.

Video meeting tidak mampu menggantikan percakapan spontan yang selama ini menjadi sumber dukungan emosional.

Dalam jangka panjang kondisi ini dapat meningkatkan:

rasa kesepian;
kecemasan;
depresi;
rendahnya motivasi.

Ironisnya, seseorang bisa mengikuti rapat sepanjang hari namun tetap merasa sendirian.

Cara memperbaikinya

Psikologi sosial menyarankan membangun interaksi sosial yang bermakna, misalnya:

coffee chat virtual;
coworking beberapa kali seminggu;
bertemu teman setelah jam kerja;
bergabung dengan komunitas.

Kualitas hubungan jauh lebih penting daripada jumlah interaksi.

3. Burnout Lebih Mudah Terjadi

Banyak orang mengira bekerja dari rumah berarti lebih santai.

Faktanya, berbagai penelitian menunjukkan pekerja remote sering bekerja lebih lama dibanding pekerja kantor.

Tanpa sadar mereka:

melewatkan waktu makan;
tidak mengambil jeda;
terus online;
selalu merasa harus tersedia.

Burnout terjadi ketika energi psikologis terus terkuras tanpa kesempatan untuk pulih.

Gejalanya meliputi:

kelelahan emosional;
sinisme terhadap pekerjaan;
menurunnya produktivitas.
Cara memperbaikinya

Psikolog menyarankan:

teknik Pomodoro;
istirahat setiap 90 menit;
cuti tanpa rasa bersalah;
tidak membuka aplikasi kantor di luar jam kerja.

Recovery sama pentingnya dengan produktivitas.

4. Sulit Memisahkan Identitas Diri dari Pekerjaan

Ketika rumah menjadi kantor, pekerjaan perlahan mendominasi identitas seseorang.

Akibatnya muncul pola pikir:

"Kalau aku tidak produktif, berarti aku gagal."

Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai overidentification with work.

Harga diri menjadi sepenuhnya bergantung pada performa kerja.

Jika target tidak tercapai, seseorang mudah mengalami kecemasan hingga depresi.

Cara memperbaikinya

Bangun identitas di luar pekerjaan.

Misalnya:

olahraga;
berkebun;
belajar musik;
menjadi relawan;
mengikuti komunitas.

Semakin beragam identitas seseorang, semakin stabil kesehatan mentalnya ketika menghadapi tekanan kerja.

5. Berkurangnya Aktivitas Fisik

Di kantor, seseorang secara alami bergerak:

berjalan menuju ruang rapat;
naik tangga;
membeli makan siang;
berpindah meja.

Saat bekerja remote, aktivitas tersebut hampir hilang.

Banyak orang duduk selama 8–12 jam setiap hari.

Padahal aktivitas fisik berperan penting dalam meningkatkan produksi endorfin, serotonin, dan dopamin yang berkaitan dengan suasana hati.

Kurangnya gerak berkaitan dengan meningkatnya risiko kecemasan dan depresi.

Cara memperbaikinya

Psikolog kesehatan menyarankan:

berjalan kaki setiap pagi;
olahraga minimal 30 menit;
berdiri setiap satu jam;
menggunakan meja kerja berdiri jika memungkinkan.

Tubuh yang aktif membantu pikiran tetap sehat.

6. Tekanan untuk Selalu Online

Di lingkungan kerja remote sering muncul budaya "always available".

Notifikasi Slack, Teams, WhatsApp, email, hingga telepon membuat seseorang merasa harus merespons secepat mungkin.

Fenomena ini menciptakan hypervigilance, yaitu kondisi ketika otak terus berada dalam keadaan siaga.

Akibatnya:

sulit rileks;
kualitas tidur menurun;
kecemasan meningkat;
konsentrasi menurun.
Cara memperbaikinya

Buat aturan komunikasi yang sehat.

Contohnya:

jam respons kerja;
status "Do Not Disturb";
waktu fokus tanpa gangguan;
komunikasi asinkron bila memungkinkan.

Batas yang jelas mengurangi tekanan psikologis.

7. Berkurangnya Pengakuan Sosial

Di kantor, pencapaian sering terlihat secara langsung.

Rekan kerja memberi apresiasi.

Atasan melihat usaha kita.

Dalam kerja remote, banyak kontribusi menjadi tidak terlihat.

Akibatnya muncul perasaan:

tidak dihargai;
tidak diperhatikan;
tidak berkembang.

Menurut teori kebutuhan psikologis dasar (Self-Determination Theory), setiap individu membutuhkan rasa kompeten dan diakui agar tetap termotivasi.

Cara memperbaikinya

Perusahaan maupun individu perlu membangun budaya apresiasi.

Misalnya:

memberikan umpan balik secara rutin;
merayakan pencapaian kecil;
melakukan one-on-one meeting;
mendokumentasikan hasil kerja.

Pengakuan sederhana dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis secara signifikan.

8. Lingkungan Rumah Tidak Selalu Mendukung

Tidak semua orang memiliki ruang kerja ideal.

Sebagian pekerja harus menghadapi:

anak kecil;
kebisingan;
ruang sempit;
konflik keluarga.

Lingkungan yang penuh distraksi meningkatkan beban kognitif.

Otak harus terus berpindah fokus sehingga lebih cepat lelah.

Dalam jangka panjang, kondisi ini meningkatkan stres kronis.

Cara memperbaikinya

Psikolog menyarankan melakukan kontrol terhadap lingkungan semaksimal mungkin, misalnya:

membuat sudut kerja khusus;
menggunakan headphone peredam suara;
menyusun jadwal dengan anggota keluarga;
bekerja dari coworking space beberapa hari dalam seminggu jika memungkinkan.

Lingkungan yang mendukung dapat mengurangi beban mental secara signifikan.

Kesimpulan

Kerja remote bukanlah penyebab utama krisis kesehatan mental, tetapi dapat menjadi faktor yang memperbesar berbagai risiko psikologis jika tidak dikelola dengan baik. Hilangnya batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, berkurangnya interaksi sosial, tekanan untuk selalu tersedia, hingga lingkungan kerja yang kurang mendukung dapat mengikis kesejahteraan mental secara perlahan.

Kabar baiknya, psikologi menunjukkan bahwa sebagian besar risiko tersebut dapat diminimalkan melalui kebiasaan yang sehat. Menetapkan batas waktu kerja, menjaga hubungan sosial, rutin berolahraga, membangun identitas di luar pekerjaan, serta menciptakan lingkungan kerja yang kondusif merupakan langkah sederhana namun efektif untuk menjaga kesehatan mental.

Pada akhirnya, produktivitas jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh jumlah jam yang dihabiskan di depan layar, tetapi juga oleh kemampuan seseorang untuk menjaga keseimbangan antara bekerja, beristirahat, dan menjalani kehidupan yang bermakna. Kerja remote akan memberikan manfaat maksimal apabila disertai kesadaran bahwa kesehatan mental bukanlah kemewahan, melainkan fondasi utama bagi kinerja, kreativitas, dan kualitas hidup.***

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore