
Ilustrasi otak introvert (freepik)
JawaPos.com - Istilah introvert dan ekstrovert pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Carl Jung pada awal abad ke-20 dan hingga kini masih menjadi bagian penting dalam pembahasan mengenai kepribadian manusia.
Meski sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, karakter introvert masih kerap disalahartikan. Banyak orang menganggap introvert hanya sebagai individu yang tidak suka bersosialisasi atau menghindari keramaian, padahal sifat ini memiliki penjelasan yang lebih kompleks dari sudut pandang psikologi dan ilmu saraf.
Jumlah individu introvert di dunia juga tidak dapat ditentukan secara pasti. Namun, sejumlah penelitian memperkirakan bahwa mereka mencakup bagian yang cukup besar dari populasi global.
Seiring berkembangnya penelitian, para ilmuwan menemukan bahwa perbedaan antara introvert dan ekstrovert tidak hanya berkaitan dengan perilaku sosial, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh cara otak memproses informasi, merespons rangsangan, dan mengelola energi.
Lantas, apa saja fakta ilmiah mengenai otak seorang introvert? Dilansir dari Astroligion.com, berikut lima hal menarik yang perlu diketahui tentang karakter introvert berdasarkan penelitian psikologi.
1. Introversi mengacu pada reaksi terhadap lingkungan
Aspek pertama yang perlu dipahami tentang introversi adalah definisinya. Sering disalahpahami sebagai rasa malu, depresi, kekasaran, atau kecemasan.
Kaum introvert sering menjadi sasaran banyak kesalahpahaman dan stereotip yang hampir tidak ada hubungannya dengan konsep itu sendiri.
Introversi dan ekstroversi, sebagaimana dikonseptualisasikan oleh Carl Jung, adalah tipe kepribadian yang ditentukan oleh sumber utama kepuasan bagi setiap individu.
Dengan demikian, ekstrovert cenderung memfokuskan energi dan minat mereka terhadap dunia luar, sementara introvert lebih suka mengarahkan kehidupan mereka ke dalam, mengarahkan perhatian mereka ke dunia batin mereka.
Oleh karena itu, kaum introvert cenderung merasa dihargai dan terpuaskan oleh aktivitas introspektif dan bersemangat dengan 'waktu sendiri' yang hakiki.
Akan tetapi, aktivitas yang disukai kaum ekstrovert—berinteraksi dengan lingkungan eksternal dan bersosialisasi dalam waktu lama—menguras semangat kaum introvert dan membanjiri indra mereka setelah beberapa waktu, membuat mereka mencari kesendirian untuk beristirahat dan 'mengisi ulang' energi.
2. Kaum introvert dan ekstrovert menyukai sisi yang berbeda dari sistem saraf otonom mereka
Seperti disebutkan di atas, kaum introvert mendapatkan energi dan bersemangat dengan dunia batin mereka dan kelelahan karena interaksi yang lama dengan dunia luar.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Al-Hilal vs Al Ahli di Liga Arab Saudi: The Blue Waves Amankan 3 Poin di Kandang!
Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Prediksi Skor Udinese vs Venezia di Coppa Italia: Sang Zebra Kecil Berpeluang Menang di Friuli!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Kasus Penipuan Rp 3,5 Miliar Dihentikan Usai Ruben Onsu Berdamai dengan Pelapor
Profil Matheus Lagoa! Legenda dan Kapten Anapolis, Puzzle Terakhir Persebaya Surabaya
Prediksi Skor West Ham vs Wolverhampton, Kemenangan Perdana atau Lanjutkan Tren Positif
Obligasi Danantara: Dana Murah Pembangunan yang Rentan TPPU?
Breaking News! Persebaya Surabaya Rekrut Kapten Anapolis FC Matheus Lagoa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
