seseorang yang nyaman dengan dirinya sendiri / foto: Magnific/prostooleh
JawaPos.com - Menjadi lebih tua sering kali dipandang sebagai proses yang tidak dapat dihindari. Rambut mulai memutih, energi berubah, dan pengalaman hidup semakin bertambah. Namun, bertambahnya usia tidak selalu berarti kita otomatis menjadi lebih bijaksana atau lebih bahagia.
Faktanya, banyak penelitian dalam bidang psikologi menunjukkan bahwa kualitas hidup di usia dewasa lebih dipengaruhi oleh pola pikir dan kebiasaan sehari-hari daripada sekadar angka usia. Banyak orang justru merasa lebih damai, lebih percaya diri, dan lebih mengenal diri sendiri ketika memasuki usia 40, 50, bahkan 60 tahun. Sebaliknya, ada pula yang tetap merasa tidak puas karena masih membawa kebiasaan-kebiasaan yang menghambat pertumbuhan pribadi.
Perasaan nyaman dengan diri sendiri bukan berarti hidup tanpa masalah. Ini adalah kemampuan untuk menerima siapa diri kita, menghargai perjalanan hidup, serta tidak lagi membiarkan kebiasaan negatif mengendalikan pikiran maupun emosi.
Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (10/7), jika Anda ingin menikmati hidup dengan lebih tenang seiring bertambahnya usia, berikut delapan kebiasaan yang sebaiknya mulai Anda tinggalkan menurut sudut pandang psikologi.
1. Terlalu Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Membandingkan diri adalah salah satu penyebab terbesar ketidakpuasan hidup. Di era media sosial, kebiasaan ini menjadi semakin mudah dilakukan.
Kita melihat orang lain membeli rumah, mendapatkan promosi jabatan, bepergian ke luar negeri, atau terlihat selalu bahagia. Tanpa sadar, kita mulai mengukur nilai diri berdasarkan pencapaian mereka.
Psikologi menjelaskan bahwa perbandingan sosial memang merupakan hal yang alami. Namun, jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan ini dapat menurunkan rasa percaya diri, meningkatkan kecemasan, bahkan memicu depresi.
Setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Ada yang sukses di usia muda, ada pula yang menemukan tujuan hidupnya setelah usia 50 tahun.
Daripada terus melihat kehidupan orang lain, lebih baik fokus pada perkembangan diri sendiri. Bandingkan diri Anda hari ini dengan diri Anda setahun yang lalu, bukan dengan orang lain.
2. Terlalu Keras Mengkritik Diri Sendiri
Banyak orang menjadi musuh terbesar bagi dirinya sendiri.
Ketika melakukan kesalahan, mereka berkata dalam hati, "Aku memang gagal," atau "Aku tidak pernah cukup baik."
Psikologi menyebut pola ini sebagai negative self-talk, yaitu dialog internal yang terus-menerus merendahkan diri.
Ironisnya, orang yang selalu mengkritik dirinya sendiri justru lebih sulit berkembang. Mereka menjadi takut mencoba hal baru karena khawatir gagal.
Sebaliknya, penelitian menunjukkan bahwa belas kasih terhadap diri sendiri (self-compassion) membantu seseorang menjadi lebih tangguh, lebih optimistis, dan lebih mudah bangkit dari kegagalan.
Belajarlah berbicara kepada diri sendiri seperti Anda berbicara kepada sahabat yang sedang mengalami kesulitan—dengan pengertian, bukan dengan hukuman.
3. Berusaha Menyenangkan Semua Orang
Keinginan untuk disukai adalah naluri manusia. Namun, ketika seluruh keputusan hidup dibuat hanya agar orang lain senang, Anda akan kehilangan jati diri.
Orang yang selalu berkata "ya" sering kali merasa kelelahan secara emosional karena mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri.
Psikologi menekankan pentingnya memiliki batasan yang sehat (healthy boundaries). Mengatakan "tidak" bukan berarti egois. Sebaliknya, itu merupakan bentuk penghargaan terhadap waktu, tenaga, dan kesehatan mental Anda.
Semakin bertambah usia, semakin penting untuk memilih hubungan yang saling menghormati daripada terus mengejar penerimaan dari semua orang.
4. Terus Menyimpan Penyesalan Masa Lalu
Setiap orang pernah membuat keputusan yang keliru.
Mungkin Anda pernah memilih pekerjaan yang salah, kehilangan kesempatan emas, atau mengakhiri hubungan yang kemudian disesali.
Masalahnya bukan pada kesalahan tersebut, melainkan ketika Anda terus mengulangnya dalam pikiran selama bertahun-tahun.
Psikologi menunjukkan bahwa terlalu sering memikirkan masa lalu (rumination) dapat meningkatkan stres, kecemasan, dan menghambat kemampuan menikmati masa kini.
Masa lalu memang tidak dapat diubah, tetapi cara kita memaknainya bisa berubah.
Alih-alih melihat kesalahan sebagai bukti kegagalan, lihatlah sebagai bagian dari proses belajar yang membentuk diri Anda saat ini.
5. Takut Terhadap Perubahan
Semakin bertambah usia, banyak orang mulai merasa nyaman dengan rutinitas yang sama.
Padahal, hidup selalu berubah.
Teknologi berkembang, lingkungan kerja berubah, keluarga bertambah, anak-anak tumbuh dewasa, dan kondisi kesehatan ikut berubah.
Mereka yang menolak perubahan cenderung mengalami lebih banyak stres karena terus berharap keadaan tetap sama.
Psikologi menyebut kemampuan menyesuaikan diri sebagai salah satu indikator penting dari kesejahteraan mental.
Perubahan memang tidak selalu mudah, tetapi sering kali membawa kesempatan baru untuk berkembang.
Orang yang tetap memiliki rasa ingin tahu dan bersedia belajar hal-hal baru biasanya merasa hidupnya lebih bermakna, bahkan di usia lanjut.
6. Memendam Emosi Sendiri
Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa menunjukkan emosi adalah tanda kelemahan.
Akibatnya, mereka memilih menyimpan kemarahan, kesedihan, atau rasa kecewa selama bertahun-tahun.
Padahal, emosi yang ditekan tidak benar-benar hilang. Emosi tersebut sering muncul dalam bentuk stres berkepanjangan, gangguan tidur, kecemasan, atau ledakan emosi yang tidak terkendali.
Psikologi modern menekankan pentingnya mengenali dan menerima emosi.
Bukan berarti kita harus melampiaskan semua perasaan kepada orang lain, tetapi kita perlu memberi ruang bagi emosi untuk dipahami.
Menulis jurnal, berbicara dengan orang terpercaya, atau berkonsultasi dengan profesional dapat menjadi cara sehat untuk mengelola emosi.
7. Mengukur Nilai Diri dari Pencapaian Semata
Prestasi memang membanggakan. Namun, jika harga diri hanya bergantung pada pencapaian, maka kebahagiaan akan selalu terasa rapuh.
Ketika karier menurun, bisnis mengalami kerugian, atau pensiun tiba, seseorang bisa merasa kehilangan identitas.
Psikologi membedakan antara pencapaian dan harga diri.
Pencapaian adalah sesuatu yang kita lakukan.
Harga diri adalah bagaimana kita memandang diri sebagai manusia yang tetap berharga, terlepas dari keberhasilan maupun kegagalan.
Orang yang memiliki harga diri sehat tidak berhenti berusaha mencapai tujuan, tetapi mereka juga tidak merasa dirinya tidak berarti ketika hasilnya tidak sesuai harapan.
8. Mengabaikan Rasa Syukur
Kebiasaan terakhir yang sering membuat seseorang sulit merasa damai adalah selalu fokus pada apa yang belum dimiliki.
Kita mudah melihat kekurangan, tetapi lupa menghargai apa yang sudah ada.
Psikologi positif menemukan bahwa rasa syukur berhubungan erat dengan meningkatnya kebahagiaan, kualitas hubungan sosial, serta kesehatan mental.
Rasa syukur bukan berarti mengabaikan masalah.
Sebaliknya, rasa syukur membantu kita menyadari bahwa di tengah berbagai tantangan, masih banyak hal baik yang patut dihargai.
Luangkan beberapa menit setiap hari untuk mengingat tiga hal sederhana yang membuat Anda bersyukur. Kebiasaan kecil ini terbukti mampu mengubah cara otak memandang kehidupan secara lebih positif.
Penutup
Merasa lebih nyaman dengan diri sendiri bukanlah tujuan yang bisa dicapai dalam semalam. Ini adalah hasil dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari.
Dengan mengurangi kebiasaan membandingkan diri, menghentikan kritik berlebihan terhadap diri sendiri, belajar menetapkan batasan, melepaskan penyesalan, menerima perubahan, mengelola emosi dengan sehat, tidak menggantungkan harga diri pada pencapaian, dan membangun rasa syukur, Anda memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk menikmati hidup dengan lebih damai.
Seiring bertambahnya usia, yang paling berharga bukanlah memiliki kehidupan yang sempurna, melainkan memiliki hati yang lebih tenang, pikiran yang lebih bijaksana, dan kemampuan untuk menerima diri sendiri apa adanya.
Pada akhirnya, kedewasaan bukan sekadar tentang bertambahnya umur. Kedewasaan adalah tentang melepaskan kebiasaan-kebiasaan yang tidak lagi membawa manfaat, sehingga Anda dapat menjalani setiap fase kehidupan dengan lebih ringan, lebih bermakna, dan lebih bahagia.